|
Namaku Budi Purnomo Aji. Akibat dampak krisis yang berkepanjangan,
menyebabkan aku dipecat dari perusahaan. Dengan modal seadanya aku berusaha
wiraswasta kecil-kecilan. Baru mulai dapat pasar, pemasukan sudah mulai
membaik, eh peralatan ditempat usahaku dicolong maling. Apes benar yah.
Sekejam kejamnya ibu tiri tidak sekejam ibu kota, memang ada benarnya.
Akhirnya dengan meminjam modal dengan saudara (jelas tidak
mungkin kalau ke bank, apa yang mau diagunkan, bulu kemaluan). Setelah
modal cukup aku coba lagi diusaha yang sama, hanya beda lokasi (mungkin
hong sui yang dulu nggak bagus - pasar ada tetapi nggak aman).
Pemasukan dari usaha ini tidak begitu baik, tetapi tetap
bersyukur, karena tempatnya aman. Yah aku coba jalani saja, hingga suatu
saat ----- ke A.
Aku punya istri, namanya Ida. Dia bekerja di perusahaan
swasta sebagai staf pemasaran. Gaji yang dia dapat tidak mencukupi karena
(setelah) dipotong dengan biaya transpotasi dan makan, hanya tinggal beberapa
ratus ribu rupiah. Sementara fixed cost COM (Cost Of Marriage) alias biaya
tetap operasional rumah tangga cukup besar yang tidak sebanding dengan
pemasukan, sehingga aku usulkan dia berhenti bekerja saja, agar membantu
usahaku dengan demikian aku dapat mengurangi karyawanku dan menambah pemasukan.
Al hasil pemasukan hanya dari hasil wiraswastaku, mangan ora mangan ngumpul.
Setelah dicoba beberapa bulan, akhirnya dia menolak dengan
alasan pemasukanku fluktuatif, sementara dia mempunyai penghasilan tetap.
Selain itu pekerjaan di rumah monoton, dan buat apa dia belajar bila tidak
di praktekkan. Semua alasannya masuk akal, sehingga dengan berat hati
aku menyetujuinya untuk kembali bekerja di kantor yang sama. Beruntung
sebelumnya dia mendapat cuti di luar tanggungan, belum mengundurkan diri,
sehingga dapat kembali lagi dengan hak yang sama.
-----A
Beberapa bulan kemudian istriku bilang ingin mempunyai anak.
Saat ini dia menggunakan spiral sebagai kontrasepsi (kita sepakat sebelum
nikah agar tidak mempunyai anak bila belum siap secara materiil dan moril).
Aku bilang kondisi saat ini tidak memungkinkan. Dia tetap bersikeras bahwa
banyak anak banyak rejeki. Aku tertawa mendengarnya. Akhirnya dia menerima
untuk sementara waktu tidak hamil dulu. Aku berikan alasan bahwa biaya
terbesar untuk mempunyai anak adalah pendidikan dan ke dua kesehatan,
sehingga dengan kondisi yang belum stabil, aku belum berani ambil resiko
- kita selalu bermusyawarah dengan memberikan alasan yang masuk akal,
sehingga tidak ada larangan tanpa alasan - alias otoriter atau "ora
ilok".
Suatu siang, aku "pingin" banget, kita berdua
tinggal di rumah kontrakan di pinggiran Selatan kota Jakarta, yang hanya
mempunyai tiga ruang dengan masing-masing ukuran tiga kali tiga, ruang
pertama ruang tamu, ruang tengah ruang tidur yang mempunyai pintu, sedangkan
ruang ke tiga adalah dapur dan kamar mandi, sehingga secara keseluruhan
rumah kontrakan ini berukuran tiga kali sembilan meter, dan itupun berjajar
sebanyak lima buah berdempetan.
Kondisi rumah yang kecil dan panas yang terik, membuat dia
tidur hanya mengenakan cd dan bra, sementara tak jauh darinya kipas angin
dengan kecepatan rendah, sedang berputar. Pagi hari menjelang siang aku
"meminta" tetapi dia menolak karena capek. Tapi desakan arus
bawah ini nggak tahu diri, akhirnya aku berusaha masuk ke kamar. Ternyata
kamar dikunci. Dengan tidak kehilangan akal aku berusaha melepas anak
kunci di dalam kamar dengan menusuk dari luar dengan obeng, agar jatuh
ke koran yang aku letakkan di bawah pintu (komentar Wiro: Gue jadi
ingat dengan film "7 Days To Live"). Aduh mau minta jatah
sama istri sendiri saja susahnya minta ampun. Saat anak kunci jatuh dia
terbangun dan anak kunci itu dengan sekali gerakan dengan kakinya keluar
dari koran. Yah apes, gagal.
Aku coba cara lain. Kabel kipas angin tertancap di stop
kontak di luar kamar tidur (karena stop kontak di kamar tidur lagi rusak)
aku cabut sehingga udara yang dihembuskan terhenti. Tak berapa lama, dia
mulai berkeringat, dan berusaha menekan tombol-tombol kipas yang tak bertegangan;
kebalikan dari badanku yang sudah mencapai dua-dua-nol.
Karena panas dia keluar; akhirnya berhasil juga; dan...
"Mas, aku capek tolong jangan dulu, pasang lagi kabel
kipas anginnya!" katanya. Tanpa komentar kulakukan apa yang dia minta.
Yah terpaksa mengalah lagi. Dia kembali masuk ke kamar untuk melanjutkan
tidur tanpa mengunci kamar. Gagal lagi.
Suatu hari dia memintaku agar bekerja di kantoran, yang
penting mempunyai penghasilan tetap. Aku bilang umurku sudah tidak muda
lagi. Mana ada kantor yang mau. Yang ada juga sekarang pada di PHK, kubilang.
Saat malam, aku benar-benar "pingin" banget, soalnya
yaitu, dia kalau tidur nggak siang atau malam selalu hanya cd dan bra
hitamnya saja, sementara kulitnya lumayan putih, jadi kan "arus bawah"
selalu meronta. Aku mulai mendekati dan merayunya, karena sudah beberapa
hari ini aku hanya masturbasi.
"Ma, aku pingin, nih-" sambil mengusap paha bagian
dalamnya, posisinya tidur telungkup. Dia langsung membalik badan dan duduk
serta...
"KAMU DISURUH KERJA NGGAK MAU, AKU PINGIN PUNYA ANAK
KAMU NGGAK MAU, APA APA NGGAK MAU, MATI AJA SANA! - NGENTOT MULU YANG
DIPIKIRIN" katanya dengan suara cukup keras, malu juga aku di dengerin
tetangga.
"Ya sudah ma. Kalau nggak mau yah jangan teriak-teriak
gitu dong. Didengerin sama tetangga kan malu!" jawabku. Mungkin dia
ada masalah di kantor atau kurang sehat, aku memaklumi, aku keluar kamar
dan tidur di ruang tamu.
Di suatu sore, saat sampai di rumah dari pulang kerja, setelah
membersihkan diri dan makan, dia minta tolong aku untuk ngerokin badannya.
Katanya masuk angin. Aku sedang tanggung memperbaiki peralatan usahaku
di ruang tamu. Ternyata karena nggak sabar menunggu aku, dia minta tolong
dengan mbak sebelah untuk ngerokin badannya dikamar tidur kita.
Setelah selesai memperbaiki aku menuju kamar tidur dan kulihat
dia sedang tidur-tiduran (dia selalu tidur dengan telungkup, aku nggak
bayangin saat dia nanti hamil, kalau jadi, khan repot). Aku coba memijat
pundaknya, dan mengurut punggungnya. Karena terhalang oleh tali surga
alias tali bra, aku coba melepaskan. Dia diam saja, dan aku terus memijat
dengan siku tanganku secara perlahan, aku turunkan sedikit bagian belakang
celana dalamnya hingga belahan pantatnya tampak semua (kalau dia protes,
akan ku jawab cd-nya mengganggu).
Nampaknya dari hasil pijatanku dia tertidur. Dengan perlahan
aku lepas cd-nya, pelan-pelan. Setelah terlepas, aku pijat telapak kakinya
sedikit demi sedikit menuju ke bagian atas sambil melebarkan bentangan
kaki kiri dan kanan, kemudian ke arah betisnya, pangkal pahanya, dan ku
usap paha bagian dalamnya, dan dia mengubah arah kepalanya dengan membelakangi
aku (jangan-jangan dia pura-pura tidur???).
Saat ini rudalku sudah siaga satu, nampak seperti joystick.
Bedanya nggak ada push-button-nya.
Saat aku pijat paha bagian dalam sengaja kelingkingku tidak
ikut menekan tetapi aku biarkan menunjuk. Kadang aku gesek ke anusnya,
kadang ke klit-nya (dia mempunyai klit yang sangat besar serta keluar
dari penutupnya, baik dalam posisi terangsang ataupun tidak - mungkin
itu sebabnya dinamakan IDA alias Itil kuDA). Dia ini tergolong wanita
dengan bulu lebat, hingga lubang anusnyapun banyak ditumbuhi bulu. Takut
dianya marah aku pindah memijat kaki sebelahnya tanpa merubah posisi dudukku,
dan kuulangi lagi mengarah ke atas. Kali ini aku tidak menyentuh anus
atau klitnya, tapi kuusap bulu kemaluan serta bulu sekitar anus tanpa
menyentuh kulitnya.
Aku lepaskan pakaianku. Kebetulan hawanya panas sekali saat
itu. Aku usap kemaluannya, terasa ada seikit lendir. Aku balikkan badannya,
dan
"Ma, main, yah?" bisikku ke telinganya sambil
menjilat daging lunak sekitar telinga.
"Hmmm" tanpa kata, tapi aku dapat menangkap maksudnya, pasti
bukan penolakan. Segera aku tindih badannya, dan kuhisap putingnya yang
berwarna coklat muda secara bergantian (lucu deh, balita aja kalah mimik
asi-nya). Kemudian aku cium mulut dan kujilati sekitar telinganya, aku
nggak berani cium lehernya karena masih ada sisa balsem, bukan terangsang
yang kudapat malah kepedasan nanti.
Aku nggak berani pegang rudalku, karena tangan bekas mijat
tadi terkena balsem bekas kerokan yang ada di punggung istriku (makanya
kalau ada cerita CCS yang habis kerokan/pijat terus megang-megang kemaluan
apa nggak kepanasan yah?). Sehingga dengan penuh perjuangan aku mencoba
memasukkan rudalku ke dalam vagina istriku tanpa memegangnya, seperti
max biagi habis finish terus lepas tangan, tusukan pertama gagal akibatnya
terpeleset dan menggesek klitnya, istriku coba mengangkang lebih lebar
agar lebih leluasa memasukkannya, aku tusuk lagi, dan terpeleset dan
"Pa, pelesetin terus aja enak koq," katanya ngeledek.
Dalam hati iya enak di kamu nggak enak di aku. Ku coba yang ke tiga, akhirnya
masuk, tetapi belum masuk semua hanya bagian kepalanya saja karena agak
sempit. Nggak apa-apa deh yang penting sudah masuk sasaran tembak. Ya
sudah, aku coba tarik-tekan dengan "space" yang kecil tadi,
dengan kesabaran akhirnya semakin basah dan
-
"Mph, eh," cuman itu yang keluar dari mulut istriku,
dengan rautmuka seperti orang tidur.
Lama kelamaan vaginanya semakin basah sepertinya mempersilahkan
rudalku masuk lebih dalam. Kutekan lebih dalam dan masuk semua, baru tarik-tekan,
empat kali, aku sudah keluar.
"Ma, maaf yah, soalnya sudah lama nggak main jadi keluarnya
cepet," kataku. Dia tidak menjawab tetapi mengeluarkan lenguhan nafas
panjang, artinya dia nggak puas. Yah siapa sih tahan "palkon"
belum masuk semua, tapi digesek-gesek sekitar vagina soalnya belum dipersilahkan
masuk. Coba deh masturbasi, tapi yang diurut hanya "palkon"nya
saja, kalau nggak cepet keluar (ya lecet). Udah gitu aku khan udah lama
nggak main jadi yah cepet keluar. Aku agak heran di cerita CCS ada yang
main bisa lama saat merawanin anak orang. Biasanya untuk pertama kali
yang ce akan merasakan lebih banyak sakitnya ketimbang enaknya, sementara
co lebih cepat keluar karena "palkon"-nya akan terjepit dinding
vagina karena si ce menahan rasa sakit. Yah kecuali kalau co-nya pakai
obat seperti Si Edy (Liputan P6) atau Co sudah pengalaman alias nggak
perjaka.
(Komentar Wiro: Cowok memang begitu. Jarang yang bicara
jujur dalam urusan seks. Kalau ditanya berapa ukuran penisnya, dia akan
menambahkan beberapa sentimeter pada ukuran sebenarnya. Kalau cerita tentang
pengalaman seksnya, dia menggambarkan pasangannya orgasme berkali-kali,
padahal menurut survey, perempuan yang mendapatkan orgasme berkali-kali
dari coitus hanya beberapa persen. Sebagian besar malah tidak pernah orgasme
kecuali bila masturbasi).
Setelah itu aku berdiri dengan ke dua lututku. Tampak cairan
putih alias spermaku meleleh dari vagina istriku. Ada sebagian orang yang
mengatakan itu cairan yang menjijikan, didorong bagaimanapun caranya tetap
akan keluar dari kedudukannya (si istri pingin hamil jadi berusaha spermanya
nggak keluar) - beda dengan pejabat di negara berkembang udah menjijikan
didorong pakai apapun tetap nggak mau turun juga (Komentar Wiro: Bilang
saja Indonesia. Begitu saja kok repot, he he he).
Aku bersihkan dengan cd hitamnya, dan aku kebelakang untuk
memcuci "rudalku". Setelah selesai aku kembali ke kamar tidur.
Posisi tidur istriku belum berubah, masih terlentang dengan kaki terbuka
lebar dan mata terpejam (yang jelas bukan tidur kemungkinan kesel iya).
"Ma, nambah yah?" kataku. Dia diam aja. Aku duduk
di depan vaginanya. Tampak vagina labia minornya sudah menutup, tetapi
klitnya masih tersembul keluar. Kubuka labia minornya yang tertutup bulu
hitam keriting, saat akan kujilat...
"Jangan, Pa, kotor" kata istriku, sambil bangun
terus memegang bagian belakang kepalaku dengan kedua tangannya serta menghisap
bibir bawahku, menghisap dengan sangat kuatnya dan mencari-cari lidahku.
Setelah dapat, dihisapnya lidahku, terlepas, dimainkannya lidahnya digusiku.
Saat dia melakukan semua gerakan kulihat matanya terpejam, saat mendapatkan
lidahku, matanya setengah terbuka yang tampak bagian putihnya saja.
Dijilati leherku, terus ke dua putingku, hingga "rudalku"
bergerak tetapi belum mengeras hanya "waspada satu". Selanjutnya
dia menjilati lubang "rudal"ku. Poupss, rasanya mak..... Dia
suka meng-oralku, tetapi kalau di-oral nggak mau, alasannya kotor bekas
darah menstruasi, keputihan, bau, pokoknya nggak boleh, ora ilok mengko
ora diajeni karo wong wedok - yah sudah aku nurut aja, toh aku yang diuntungkan
(Komentar Wiro: Petuah Jawa yang seperti ini kayaknya bener lho!).
Dia memasukkan hanya sebatas kepala "rudal" ke
dalam mulutnya, dihisap, dilepas (hingga bunyi "plop"), dijilati
kepalanya, dihisap lagi, begitu keras menjadi "siaga satu",
dimasukkan semuanya ke dalam mulut, dilakukan berulang-ulang. Rasanya
"rudal"ku sudah keras, tetapi ada sedikit rasa linu (mungkin
setelah keluar yang pertama tadi dan kencing saat dibersihkan sekarang
dipaksa tegang lagi), sehingga rasa linu ini mengalahkan rasa nikmat untuk
segera "keluar".
Tahu kalau sudah "siaga satu", dia segera mengangkangi
rudalku dan memasukkan ke vaginanya, bergerak naik turun dengan sangat
cepat.
"OH, OH, OHHH" suaranya keras bener, membuat rasa
linuku hilang berubah menjadi nikmeh. Kucoba menutup mulutnya agar tak
didengar tetangga, malah jariku dijilati, auw, enak bener. Nggak lama
digigit, langsung segera aku tarik tanganku (ganas bener, anjing kalah?),
Eh, malah lebih keras lagi suaranya. Bodo ah, biarin tetangga denger,
kadang seperti orang kepedesan (sshuah - shuah, padahal nggak ada cabenya),
kadang seperti orang merintih kesakitan (ekh - ekh, wong capek koq pethakilan).
Sudah capek dengan gerakan cepat naik-turun. Dia terduduk
tetapi tetap bergerak memutar secara perlahan, kemudian dia roboh, telungkup
memelukku, dan menghisap bibirku. Terasa "rudalku" seperti ada
yang menekan, saat dia melakukan penekanan dengan rongga vagina pada "rudalku",
dia mengangkat sedikit pantatnya dan menjatuhkannya kembali - akhirnya
dia nggak bergerak.
"Capek aku, Pa," katanya dengan nafas ngos-ngosan.
Ku balik badannya tanpa melepas "rudal"ku. Tampak hidungnya
kembang-kempis, capek benar kayaknya. Aku cabut "rudalku". Tampak
banyak lendir berwarna putih menyelimuti "rudal"ku, dan di sekitar
labia minor-nya ini sih bukan becek tapi banjir, tetapi aku tetap senang
(wanita tidak mengeluarkan atau menyemprot cairan sperma seperti pria,
hanya lendir bening, akibat dikocok terus menerus maka berubah manjadi
putih susu).
Kalau ada yang bilang "jangan sama orang Sunda",
"jangan sama orang Cina", "jangan sama orang berkulit putih",
banjir, becek, menurutku "SALAH", banjir dan becek itu menandakan
wanita itu terangsang "BUKAN" dari warna kulit, sehingga memudahkan
penetrasi. Sebaliknya bila kering akan sulit sekali penetrasi, kalau dipaksakan
akan berakibat iritasi selain itu akan menyebabkan ejakulasi premature
karena sentuhan yang diterima sangat luar biasa. Mau tahu buktinya mana
ada pemerkosa lama, paling nggak lebih dari dua menit (aku bukan pemerkosa
lho) yah kalau dia kelamaan keburu ketangkep, tul nggak? Kalau iritasi
perihnya minta ampun. Ada cerita-CCS yang mengatakan pelacurnya nggak
tahu kalau tamunya sudah keluar - itu bisa terjadi bila: pelacurnya acting,
pelacurnya lagi ngelamun atau pelacurnya masih perawan, lha wong tiap
hari ditusukin pasti dia tahu. Mungkin lebih tahu dari tamunya, soalnya
dia berusaha agar secepatnya ejakulasi, khan prestasi kerjanya di situ,
lain sama Mas Wiro, prestasinya ada di-------, tul nggak mas?. (Apa
tuh? Prestasi tahan bokong panas karena terlalu lama ngedit cerita CCS
ya? He he he).
Aku bersihkan "rudal"ku dan labia minornya dengan
gt-man ku. Selanjutnya kumasukkan kembali, kuangkat kakinya kepundakku.
Gerakanku pelan (khan habis di bersihkan jadi agak kurang lendirnya) begitu
mulai basah aku tambah kecepatannya, hingga tak lama akan keluar...
"Mas jangan dikeluarin dulu, Papa berdiri deh,"
kata istriku. Segera aku bangun dan dihisapnya. Saat akan keluar, disemprotkan
spermaku ke wajahnya, dan dioleskan "rudalku" ke wajahnya.
"Kamu koq, aneh sih Ma?" tanyaku.
"Nggak. Kata teman sperma itu obat manjur untuk jerawat. Selain itu
juga mengencangkan wajah!" katanya.
"Kata siapa?" katanya.
"Mbak Maryanah," jawabnya. HAHHH, mbak Maryanah itu tetangga
sampingku, orangnya kalem, pakai jilbab, sopan, guru TKI. Nggak nyangka.
Pantes koq nggak pernah jerawatan dan memang sih wajahnya putih kenceng.
Tapi masak sih orang seperti itu mau melakukan kayak gitu, yah dalamnya
laut yang siapa tahu?
"Pasti ngelamunin dia?" tanyanya, sambil mencubit pantatku.
"Tahu aja, habis nggak nyangka sih."
"Sebetulnya dia keberatan ngasih tahunya, tapi aku desak terus menerus
untuk memberikan resep bebas jerawat dan wajah kencengnya. Kata dia sih
cuman aku yang tahu, jangan diberitahukan ke siapa-siapa, malu katanya,"
jawab istriku. (Komentar Wiro: Dan sekarang 26 ribu pembaca mailing
list CeritaSeru tahu).
Setelah kita berdua membersihkan organ vital, kita menuju
peraduan.
"Ma, kamu itu jerawatan bukan pakai sperma obatnya,
tetapi jangan stres!" kataku sambil tidur miring menghadap ke arahnya.
"Papa ini gimana sih, namanya orang hidup khan pasti punya masalah,
nah khan mesti dipikir!" jawabnya nggak kalah sengit sambil menekan
jidatku.
"Tetapi menurutku jerawatmu itu karena nafsumu yang nggak tersalurkan,
jadi timbul di wajahmu terus sering marah-marah," kataku.
"Itu maunya papa agar bisa sering main, tapi gimana yah, aku khan
nggak bisa nafsu kalau aku ada masalah sama kamu."
"Jadi kamu selingkuh dengan orang lain, memangnya ada masalah apa
denganku."
"Selingkuh, nggak lha yau, nggak selingkuh aja sudah pusing apa lagi
selingkuh," jawabnya tegas. Wah kaget juga hampir ngantukku hilang.
Biasa, habis main biasanya ngantuk bawaannya.
"Terus masalahmu apa sama aku?" tanyaku.
"Pa, aku bingung ngurus keuangan rumah tangga, semua keperluan kamar
mandi naik, listrik naik, kontrakan naik. Cuma susuku sama spermamu saja
yang turun," katanya sambil megang susunya sendiri sama "rudalku".
"Yah larinya koq kesitu lagi," kataku.
"Lho memang kenyataan begitu, kalau sudah gitu khan pusing, gimana
mau main, coba."
"Koq hari ini kamu tumben mau, biasanya marah-marah melulu?"
tanyaku.
"Tadi aku periksa ke tempatmu kerja, kata Lili (kasirku) banyak pengunjung,
jadi pasti kamu bawa uang banyak," jawabnya sambil senyum.
"ohhh," kataku sambil senyum juga.
"Jadi kalau gitu masuk angin dan kerokannya hanya akting. Pantes
nggak merah? agar mancing aku untuk bersetubuh, memuaskan kamu, dan jerawatmu?"
tanyaku kesal, tapi ngecret juga sih.
"Nggak juga Pa, memang tadi badanku terasa nggak enak, terus aku
di jalan lihat orang di bajaj mesra banget, bayangin di bajaj aja mesra,
kalau di mobil mewah sih wajar, jadi ingat kamu. Tapi yang lebih penting
sih kamu bawa uang lebih," katanya.
"Lho koq masalah uang lagi?" tanyaku.
"Iya memang itu sumber masalahnya," jawabnya.
"Katanya dulu waktu pacaran sudah siap hidup susah, yang penting
saling mencinta," rayuku.
"Makan tuh cinta," katanya. Aku tersenyum.
"Jadi ada uang abang sayang, nggak ada uang abang ditendang?"
kataku.
"Ember," jawabnya sambil senyum.
"Tahu gini mendingan beli sate dari pada pelihara kambing,"
kataku meledek.
"Sapa suruh luh kawin," katanya sambil menaikkan dagunya yang
lancip, sambil merubah posisi tidur dengan wajah membelakangi aku.
"Dasar perempuan, tugasnya ngabisin uang suami,"
kataku, yang masih tetap tidur miring menghadap ke istriku.
"Kodrat" jawabnya singkat.
Yah, itulah sebagian kecil kehidupan rumah tangga yang selalu
banyak masalah silih berganti, padahal sebelum nikah, aku sudah membaca
segala macam buku. Kalau ujian mungkin dapat nilai "A". Ternyata
setelah nikah, segala teori yang di buku hanya sebagian kecil yang terjadi.
|