|
Tongkat Pak Satpam 1 |
Para pembaca tentu masih ingat aku, Reni, yang pada kisah "Sebuah
Kesalahan" telah terjebak dalam pusaran gairah seorang pengojek di
kepulauan di Sumatra saat ditugaskan sebagai pimpinan unit sebuah bank
BUMN. Bagi yang belum pernah membaca akan saya perkenalkan lagi diri
saya, nama saya Reni (samaran), saat ini usia 28 tahun. Kata orang saya
memiliki segalanya baik itu kekayaan, kecantikan dan keindahan tubuh
yang menjadi idaman setiap wanita. Dengan tinggi 165 cm dan berat 51 kg
menjadikanku memiliki pesona bagi lelaki mana saja. Apalagi wajahku
boleh dibilang cantik dengan kulit kuning langsat dan rambut sebahu. Aku
telah menikah setahun lebih.
Latar belakang keluargaku adalah dari keluarga Minang yang terpandang.
Sedangkan suamiku, sebut saja Ikhsan adalah seorang staf pengajar pada
sebuah perguruan tinggi swasta di kota Padang.
Setelah suamiku menyelesaikan studinya di luar negeri, aku mengusulkan
untuk mengajukan pindah ke kota Padang agar dapat berkumpul lagi dengan
keluarga. Setelah melalui birokrasi yang cukup memusingkan ditambah
sogok sana sogok sini akhirnya aku bisa pindah di kantor pusat di Kota
Padang. Pembaca tentu maklum bahwa pada jaman sekarang segala sesuatu
harus pakai uang. Malahan kata orang Jakarta segala sesuatu harus bayar,
dari makan hingga buang kotoran. Mungkin hanya kentut saja yang belum
perlu pakai uang. (Mungkin kalau sudah ada Undang Undang Lingkungan,
kentut pun musti bayar karena mencemari udara.. Ya nggakk??)
Sebagai orang baru, aku tentu saja harus bekerja keras untuk menunjukkan
kemampuanku. Apalagi tugas baruku di kantor pusat ini adalah sebagai
kepala bagian. Aku harus mampu menunjukkan kepada anak buahku bahwa aku
memang layak menempati posisi ini. Sebagai konsekwensinya aku harus rela
bekerja hingga larut malam menyelesaikan tugas-tugas yang sangat berbeda
saat aku bertugas di kepulauan dahulu. Hal ini membuatku harus selalu
pulang larut malam karena jarak rumah kami dengan kantor yang cukup jauh
yang harus kutempuh selama kurang lebih 30 menit dengan mobilku.
Sehingga aku jarang sekali bercengkerama dengan suamiku yang juga mulai
semakin sibuk sejak karirnya meningkat. Praktis kami hanya bertemu saat
menjelang tidur dan saat sarapan pagi.
Atas kebijakan pimpinan, aku selalu dikawal satpam jika hendak pulang.
Sebut saja namanya Pak Marsan, satpam yang kerap mengawalku dengan
sepeda motor bututnya yang mengiringi mobilku dari belakang hingga ke
depan halaman rumahku untuk memastikan aku aman sampai ke rumah. Dengan
demikian aku selalu merasa aman untuk bekerja hingga selarut apapun
karena pulangnya selalu diantar. Tak jarang aku memintanya mampir untuk
sekedar memberinya secangkir kopi hingga suamiku pun mengenalnya dengan
baik. Bahkan suamiku pun kerap kali memberinya beberapa bungkus rokok
Gudang Garam kesukaannya.
Pak Marsan adalah lelaki berusia 35 tahunan. Tubuhnya cukup kekar dengan
kulit kehitaman khas orang Jawa. Ia memang asli Jawa dan katanya pernah
menjadi preman di Pasar Senen Jakarta. Ia sudah menjadi satpam di bank
tempat saya bekerja selama 8 tahun. Ia sudah beristri yang sama-sama
berasal dari Jawa. Akupun sudah kenal dengan istrinya, Yu Sarni.
Suatu hari, saat aku selesai lembur. Aku kaget saat yang mengantarku
bukan Pak Marsan, tetapi orang lain yang belum cukup kukenal.
"Lho Pak Marsan di mana Bang?" tanyaku pada satpam yang mengantarku.
"Anu Bu, Pak Marsan hari ini minta ijin tidak masuk katanya istrinya
melahirkan" katanya dengan sopan.
Akhirnya aku tahu kalau yang mengantarku adalah Pak Sardjo, satpam yang
biasanya masuk pagi.
"Kapan istrinya melahirkan?" tanyaku lagi.
"Katanya sih hari ini atau mungkin besok Bu" jawabnya.
Akhirnya hari itu aku pulang dengan diiringi Pak Sardjo.
Awal Perselingkuhan
Sudah dua hari aku selalu dikawal Pak Sardjo karena Pak Marsan tidak
masuk kerja. Hari Minggu aku bersama suamiku memutuskan untuk menjenguk
istri Pak Marsan di Rumah Sakit Umum. Akhirnya aku mengetahui kalau Yu
Sarni mengalami pendarahan yang cukup parah atau bleeding. Dengan
kondisinya itu ia terpaksa menginap di Rumah Sakit untuk waktu yang agak
lumayan setelah post partum. Atas saran suamiku aku ikut membantu biaya
perawatan istri Pak Marsan, dengan pertimbangan selama ini Pak Marsan
telah setia mengawalku setiap pulang kerja.
Sejak saat itu hubungan keluargaku dengan keluarga Pak Marsan seperti
layaknya saudara saja. Kadangkala Yu Sarni mengirimkan pisang hasil
panen di kebunnya ke rumahku. Walaupun harganya tidak seberapa, tetapi
aku merasa ada nilai lebih dari sekedar harga pisang itu. Ya, rasa
persaudaraan! Itulah yang lebih berharga dibanding materi sebanyak
apapun. Sering pula aku mengirimi biscuit dan syrop ke rumahnya yang
sangat sederhana dan terpencil karena memang rumahnya di tengah kebun
yang penuh ditanami pisang dan kelapa. Karena seringnya aku berkunjung
ke rumahnya maka tetangga yang letaknya agak berjauhan sudah
menganggapku sebagai bagian dari keluarga Pak Marsan.
Suatu hari, saat aku pulang lembur, seperti biasa aku diantar Pak Marsan.
Begitu sampai ke depan rumah tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya
hingga kusuruh Pak Marsan untuk menunggu hujan reda. Aku suruh
pembantuku, Mbok Rasmi yang sudah tua untuk membuatkan kopi baginya.
Sementara Pak Marsan menikmati kopinya aku pun masuk ke kamar mandi
untuk mandi. Ini memang merupakan kebiasaanku untuk mandi sebelum tidur.
Hujan tidak kunjung reda hingga aku selesai mandi, kulihat Pak Marsan
masih duduk menikmati kopinya dan rokok kesukaannya di teras sambil
menerawang memandangi hujan. Hanya dengan mengenakan baju tidur aku ikut
duduk di teras untuk sekedar menemaninya ngobrol. Kebetulan lampu
terasku memang lampunya agak remang-remang yang sengaja kuatur demikian
dengan suamiku agar enak menikmati suasana.
"Gimana sekarang punya anak Pak? Bahagia kan?" tanyaku membuka
percakapan.
"Yach.. Bahagia sekali Bu..! Habis dulu istri saya pernah keguguran saat
kehamilan pertama, jadi ini benar-benar anugrah yang tak terhingga buat
saya Bu.."
"Memang Pak.. Aku sendiri sebenarnya sudah ingin punya anak, tetapi.."
Aku tidak dapat meneruskan kata-kataku karena jengah juga membicarakan
kehidupan seksualku di depan orang lain.
"Tetapi kenapa Bu.. Ibu kan sudah punya segalanya.. Mobil ada.. Rumah
juga sudah ada.. Apa lagi" Timpalnya seolah-olah ikut prihatin.
"Yach.. Itu lah Pak.. Dari materi memang kami tidak kekurangan, tetapi
dalam hal yang lain mungkin kehidupan Yu Sarni lebih bahagia"
"Mm maksud ibu.." tanyanya terheran-heran.
"Itu lho Pak.. Pak Marsan kan tahu kalau saya selalu kerja sampai malam
sedangkan Bang Ikhsan juga sering tugas ke luar kota jadi kami jarang
bisa berkumpul setiap hari. Sekarang aja Bang Ikhsan sedang tugas ke
Jakarta sudah seminggu dan rencananya baru empat hari lagi baru kembali
ke Padang"
"Yachh.. Memang itulah rahasia kehidupan Bu.. Kami yang orang kecil
seperti ini selalu kesusahan mikir apa yang hendak dimakan besok pagi..
Sedangkan keluarga ibu yang tidak kekurangan materi malah bingung tidak
dapat kumpul"
Matanya sempat melirikku yang saat itu mengenakan pakaian baby doll.
Kulihat jakunnya naik turun melihat kemolekan tubuhku. Mungkin karena
hujan yang semakin deras dan aku yang jarang dijamah suamiku membuat
gairah nakalku bangkit.
Aku sengaja mengubah posisi dudukku sehingga pahaku yang mulus sedikit
kelihatan. Hal ini membuat duduknya semakin gelisah, matanya
berkali-kali mencuri pandang ke arah pahaku yang memang sengaja kubuka
sedikit.
"Sebentar Pak saya ambil minuman dulu" kataku sambil bangkit dan
berjalan masuk.
Aku sadar bahwa pakaian yang kukenakan saat itu agak tipis sehingga bila
aku berjalan ke tempat terang tubuhku akan membayang di balik gaun
tipisku.
"Oh ya Pak Marsan masuk saja ke dalam soalnya hujan kan di luar
dingin.."
"I.. Iya Bu.." jawab Pak Marsan agak tergagap karena lamunannya terputus
oleh undanganku tadi. Jakunnya semakin naik turun dengan cepat. Aku tahu
ia tentu sudah lama tidak menyentuh istrinya sejak melahirkan bulan
kemarin, karena usia kelahiran bayinya belum genap 40 hari.
Suasana sepi di rumahku ditambah dengan dinginnya malam membuat gairahku
bergejolak menuntut penuntasan. Apa boleh buat aku harus mampu
menundukannya. Pak Marsan sangat terangsang melihat penampilanku yang
sangat segar habis mandi tadi. Akhirnya mungkin karena tidak tahan atau
karena udara dingin ia minta ijin untuk ke kamar kecil.
"Eh.. Anu Bu.. Boleh minta ijin ke kamar kecil Bu"
"Silahkan Pak.. Pakai yang di dalam saja"
"Ah.. Enggak Bu saya enggak berani"
"Enggak apa-apa.. Itu Pak Marsan masuk aja nanti dekat ruang tengah itu"
"Baik Bu.."
Sambil berdiri ia membetulkan celana seragam dinasnya yang ketat. Aku
melihat ada tonjolan besar yang mengganjal di sela-sela pahanya. Aku
membayangkan mungkin isinya sebesar tongkat pentungan yang selalu
dibawa-bawanya saat berjaga.. Atau bahkan mungkin lebih besar lagi.
Agak ragu-ragu ia melangkah masuk hingga aku berjalan di depannya
sebagai pemandu jalan. Akhirnya kutunjukkan kamar kecil yang bisa
dipakainya. Begitu ia masuk aku pun pergi ke dapur untuk mencari makanan
kecil, sementara di luar hujan semakin lebat diiringi petir yang
menyambar-nyambar.
Aku terkejut saat aku keluar dari dapur tiba-tiba ada tangan kekar yang
memelukku dari belakang. Toples kue hampir saja terlepas dari tanganku
karena kaget. Rupanya aku salah menduga. Pak Marsan yang kukira tidak
mempunyai keberanian ternyata tanpa kumulai sudah mendahului dengan cara
mendekapku. Napasnya yang keras menyapu-nyapu kudukku hingga membuatku
merinding.
"Ma.. Maaf Bu, sa.. Saya sudah tidak tahan.." desisnya diiringi dengus
napasnya yang menderu.
Lidahnya menjilat-jilat tengkukku hingga aku menggeliat sementara
tangannya yang kukuh secara menyilang mendekap kedua dadaku. Untuk
menjaga wibawaku aku pura-pura marah.
"Pak Marsan.. Apa-apaan ini.." suaraku agak kukeraskan sementara
tanganku mencoba menahan laju tangan Pak Marsan yang semakin liar
meremas payudaraku dari luar gaunku.
"Ma.. Af Bu sa.. Saya.. Sudah tidak tahan lagi.." diulanginya ucapanya
yang tadi tetapi tangannya semakin liar bergerak meremas dan kedua ujung
ibu jarinya memutar-mutar kedua puting payudaraku dari luar gaun
tipisku.
Perlawananku semakin melemah karena terkalahkan oleh desakan nafsuku
yang menuntut pemenuhan. Apalagi tonjolan di balik celana Pak Marsan
yang keras menekan kuat di belahan kedua belah buah pantatku. Hal ini
semakin membuat nafsuku terbangkit ditambah dinginnya malam dan derasnya
hujan di luar sana. Suasana sangat mendukung bagi setan untuk menggoda
dan menggelitik nafsuku.
Tubuhku semakin merinding dan kurasakan seluruh bulu romaku berdiri saat
jilatan lidah Pak Marsan yang panas menerpa tulang belakangku. Tubuhku
didorong Pak Marsan hingga tengkurap di atas meja makan dekat dapur yang
kokoh karena memang terbuat dari kayu jati pilihan. Saat itulah
tiba-tiba salah satu tangan Pak Marsan beralih menyingkap gaunku dan
meremas kedua buah pantatku. Aku semakin terangsang hebat saat tangan
Pak Marsan yang kasar menyusup celana dalam nylonku dan meremas pantatku
dengan gemas.
Sesekali jarinya yang nakal menyentuh lubang anusku. Gila..!!
Benar-benar lelaki yang kasar dan liar. Tapi aku senang karena suamiku
biasanya memperlakukanku bak putri saat bercinta denganku. Ia selalu
mencumbuku dengan lembut. Ini sensasi lain..!! Kasar dan liar.. Apa lagi
samar-samar kucium aroma keringat Pak Marsan yang berbau khas lelaki!
Tanpa parfum.. Gila aku jadi terobsesi dengan bau khas seperti ini. Hal
ini mengingatkanku pada saat aku bermain gila dengan Pak Sitor di
kepulauan dahulu.
"Akhh.. Pakk.. Marsannhh jangg.. Anhh" desahku antara pura-pura menolak
dan meminta. Ya harus kuakui kalau aku benar-benar rindu pada jamahan
lelaki kasar macam Pak Marsan.
Pak Marsan yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mempedulikan apa-apa
lagi. Dengan beringas dan agak kasar digigitnya punggungku di sana-sini
sehingga membuat aku menggeliat dan menggelepar seperti ikan kekurangan
air. Apalagi saat bibirnya yang ditumbuhi kumis tebal seperti kumisnya
Pak Raden mulai menjilat-jilat pantatku.
"Akhh.. Pakk.. Akhh.. Jang.. Akhh" kepura-puraanku akhirnya hilang saat
dengan agak kasar mulut Pak Marsan dengan rakusnya menggigiti kedua
belah pantatku!!
Luar biasa sensasi yang kurasakan saat itu. Pantatku bergoyang-goyang ke
kanan dan kiri menahan geli saat digigit Pak Marsan. Mungkin kalau
disyuting lebih dahsyat dibanding goyang ngebornya si Inul yang terkenal
itu.
"Emhh.. Pantat ibu indahh.." kudengar Pak Marsan menggumam mengagumi
keindahan pantatku. Lalu tanpa rasa jijik sedikitpun lidahnya menyelusup
ke dalam lubang anusku dan jilat sana jilat sini.
"Ouch.. Shh.. Am.. Ampunnhh" aku mendesis karena tidak tahan dengan
rangsangan yang diberikan lelaki kasar yang sebenarnya harus menghormati
kedudukanku di kantor. Aku benar-benar pasrah total.
Liang vaginaku sudah berkedut-kedut seolah tak sabar menanti
disodok-sodok. Rangsangan semakin hebat kurasakan saat tiba-tiba kepala
Pak Marsan menyeruak di sela-sela pahaku dan mulutnya yang rakus mencium
dan menyedot-nyedot liang vaginaku dari arah belakang. Secara otomatis
kakiku melebar untuk memberikan ruang bagi kepalanya agar lebih leluasa
menyeruak masuk. Aku sepertinya semakin gila. Karena baru kali ini aku
bermain gila di rumahku sendiri. Tapi aku tak peduli yang penting
gejolak nafsuku terpenuhi titik!
"Ouch.. Shh.. Terushh.. Ohh Pak Marsanhh" dari menolak aku menjadi
meminta! Benar-benar gila!!
Pantatku semakin liar bergoyang saat lidah Pak Marsan menyelusup ke
dalam alur sempit di selangkanganku yang sudah sangat basah dan
menjilat-jilat kelentitku yang sudah sangat mengembang karena birahi.
Aku merasakan ada suatu desakan maha dahsyat yang menggelora, tubuhku
seolah mengawang dan ringan sekali seperti terbang ke langit kenikmatan.
Tubuhku berkejat-kejat menahan terpaan gelora kenikmatan. Pak Marsan
semakin liar menjilat dan sesekali menyedot kelentitku dengan bibirnya
hingga akhirnya aku tak mampu lagi menahan sahwatku.
"Akhh.. Pak Marsannhh akhh.." aku mendesis melepas orgasmeku yang
pertama sejak seminggu kepergian suamiku ini. Nikmat sekali rasanya.
Tubuhku bergerak liar untuk beberapa saat lalu akhirnya terdiam karena
lemas. Napasku masih memburu saat Pak Marsan melepaskan bibirnya dari
gundukan bukit di selangkanganku. Lalu masih dengan posisi tengkurap di
atas meja makan dengan setengah menungging tubuhku kembali ditindih Pak
Marsan. Kali ini ia rupanya sudah menurunkan celana dinasnya karena aku
merasakan ada benda hangat dan keras yang menempel ketat di belahan
pantatku. Gila panas sekali benda itu! Aku terlalu lemas untuk bereaksi.
Beberapa saat kemudian aku merasakan benda itu mengosek-kosek belahan
kemaluanku yang sudah basah dan licin. Sedikit demi sedikit benda keras
itu menerobos kehangatan liang kemaluanku. Sesak sekali rasanya. Mungkin
apa yang kubayangkan tadi benar!! Karena selama ini aku belum pernah
melihat ukuran, bentuk maupun warnanya! Tapi aku yakin kalau warnanya
hitam seperti si empunya!!
Aku kembali terangsang saat benda hangat itu menyeruak masuk dalam
kehangatan bibir kemaluanku.
"Hkk.. Hh.. Shh.. Mem.. Mekhh Bu.. Ren.. Ni benar-benar legithh.." Gumam
Pak Marsan di sela-sela napasnya yang memburu.
Didesakkannya batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku. Ouhh
lagi-lagi sensasi yang luar biasa menerpaku. Di kedinginan malam dan
terpaan deru hujan kami berdua justru berkeringat.. Gila.. Pak Marsan
menyetubuhiku di ruang makan di mana aku biasanya sarapan pagi bersama
suamiku! Gaunku tidak dilepas semuanya, hanya disingkap bagian bawahnya
sedangkan celana dalam nylonku sudah terbang entah kemana dilempar Pak
Marsan.
"Ouhh Pak Marsann.. Ahh" aku hanya mampu merintih menahan nikmat yang
amat sangat saat Pak Marsan mulai memompaku dari belakang!
Dengan posisi setengah menungging dan bertumpu pada meja makan, tubuhku
disodok-sodok Pak Marsan dengan gairah meluap-luap. Tubuhku tersentak ke
depan saat Pak Marsan dengan semangat menghunjamkan batang kemaluannya
ke dalam jepitan liang kemaluanku! Lalu dengan agak kasar ditekannya
punggungku hingga dadaku agak sesak menekan permukaan meja! Tangan kiri
Pak Marsan menekan punggungku sedangkan tangan kanannya meremas-remas
buah pantatku dengan gemasnya. Tanpa kusadari tubuhku ikut bergoyang
seolah-olah menyambut dorongan batang kemaluan Pak Marsan. Pantatku
bergoyang memutar mengimbangi tusukan-tusukan batang kemaluan Pak Marsan
yang menghunjam dalam-dalam.
Suara benturan pantatku dengan tulang kemaluan Pak Marsan yang terdengar
di sela-sela suara gemuruh hujan menambah gairahku kian berkobar.
Apalagi bau keringat Pak Marsan semakin tajam tercium hidungku. Oh..
Inikah dunia.. Tanpa sadar mulutku bergumam dan menceracau liar.
"Ouhmm terushh.. Terushh.. Yang kerashh.." Aku menceracau dan menggoyang
pantatku kian liar saat aku merasakan detik-detik menuju puncak.
"Putar Bu.. Putarrhh" kudengar pula Pak Marsan menggeram sambil meremas
pantatku kian keras.
Batang kemaluannya semakin keras menyodok liang kemaluanku yang sudah
kian licin. Aku merasakan batang kemaluan Pak Marsan mulai
berdenyut-denyut dalam jepitan liang kemaluanku. Aku sendiri merasa
semakin dekat mencapai orgasmeku yang kedua. Tubuhku serasa melayang.
Mataku membeliak menahan nikmat yang amat sangat. Tubuh kami terus
bergoyang dan beradu, sementara gaunku sudah basah oleh keringatku
sendiri. Pak Marsan semakin keras dan liar menghunjamkan batang
kemaluannya yang terjepit erat liang kemaluanku. Lalu tiba-tiba tubuhnya
mengejat-ngejat dan mulutnya menggeram keras.
"Arghh.. Terushh buu.. Goyangghh.. Arghh.."
Batang kemaluannya yang terjepit erat dalam liang kemaluanku berdenyut
kencang dan akhirnya aku merasakan adanya semprotan hangat di dalam
tubuhku.. Serr.. Serr.. Serr.. Beberapa kali air mani Pak Marsan
menyirami rahimku seolah menjadi pengobat dahaga liarku. Tubuhnya kian
berkejat kejat liar dan tangannya semakin keras mencengkeram pantatku
hingga aku merasa agak sakit dibuatnya. Tapi aku tak peduli. Tubuhku pun
seolah terkena aliran listrik yang dahsyat dan pantatku bergerak liar
menyongsong hunjaman batang kemaluan Pak Marsan yang masih menyemprotkan
sisa-sisa airmaninya.
"Ouch.. Akhh.. Terushh.. Pak Mar.. Sanhh.." tanpa malu atau sungkan aku
sudah meminta Pak Marsan untuk lebih kuat menggoyang pantatnya untuk
menuntaskan dahagaku.
Akhirnya aku benar-benar terkapar. Tulang-belulangku serasa terlepas
semua. Benar-benar lemas aku dibuat oleh Pak Marsan. Kami terdiam
beberapa saat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami
peroleh. Batang kemaluan Pak Marsan kurasakan mulai mengkerut dalam
jepitan liang kemaluanku. Perlahan namun pasti akhirnya batang kemaluan
itu terdorong keluar dan terkulai menempel di depan bibir kemaluanku
yang basah oleh cairan kami berdua. Gila banyak sekali Pak Marsan
mengeluarkan air maninya! Aku tahu itu karena banyaknya tumpahan
sisa-sisa air mani dari lubang kemaluanku yang menetes ke lantai ruang
makan.
"Ibu benar-benar hebat.. Saya jadi sayang ibu.." bisik Pak Marsan di
telingaku. Aku hanya diam antara menyesal telah melakukan kesalahan lagi
terhadap suamiku dan terpuaskan hasrat liarku.
"Su.. Sudah Pak.. Nanti Mbok Sarmi bangun" kulepas tangan Pak Marsan
yang masih memelukku.
Aku berusaha melepaskan diri dari jepitan tubuh Pak Marsan yang kekar.
Lalu aku bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Sekali lagi
aku mandi di malam yang dingin itu.
Aku keluar dari kamar mandi dan baru kusadari betapa kacaunya ruang
makanku! Meja makanku sudah bergeser tak karuan sementara kulihat celana
dalam nylonku terlempar ke sudut ruangan dekat kulkas. Pak Marsan masih
membetulkan celana dinasnya.
"Bu saya.. Boleh numpang mandi Bu.."
"Silahkan Pak.. Handuknya ada di dalam"
Aku mengambil kain pel dan membersihkan cairan sisa-sisa persenggamaanku
dengan Pak Marsan yang berceceran di lantai. Sementara itu Pak Marsan
mandi di kamar mandi yang baru saja kupakai.
Permainan Kedua
Aku masih mengepel cairan sisa-sisa 'perjuangan' kami tadi yang masih
menempel di lantai. Tanpa kusadari tiba-tiba Pak Marsan yang hanya
mengenakan handuk memelukku lagi dari belakang. Gila! Orang ini
benar-benar bernafsu kuda!! Tubuhku diangkatnya dan hendak dibawa masuk
ke kamar mandi.
"Jangan di situ Pak.." bisikku. Aku tidak mau bersetubuh di lantai kamar
mandi yang dingin!! Bisa-bisa masuk angin nanti!!
"Ke kamar depan aja Pak.." Aku tahu tak mungkin aku menolak keinginan
Pak Marsan! Apalagi aku juga menyukainya.
Akhirnya tubuhku dipondong ke kamar depan yang memang khusus untuk tamu
bila ada yang menginap. Kamar tamuku fasilitasnya komplit sesuai standar
rumah berkelas. Kamar tamuku dilengkapi tempat tidur spring bed, dan
kamar mandi di dalam, serta AC!
Setelah menutup pintu kamar dengan kakinya, Pak Marsan menurunkan
tubuhku di lantai dan bibirnya mulai mencari-cari bibirku. Aku diam saja
saat bibirnya menyedot-nyedot bibirku. Kumisnya yang tebal terasa geli
mengais-ngais hidungku. Aku semakin geli saat lidahnya berusaha menyusup
ke dalam mulutku dan mengais-ngais di dalamnya. Tanpa sadar lidahku ikut
menyambut lidah Pak Marsan yang mendesak-desak dalam mulutku.
Akhirnya kami saling pagut dengan liar dan menggelora. Aku sudah tak
peduli kalai Pak Marsan itu adalah anak buahku. Yang kutahu adalah
nafsuku mulai bangkit lagi. Apalagi tangan Pak Marsan mulai menyingkap
gaun baby dollku ke atas dan melepaskannya melalui kepalaku hingga aku
telanjang bulat di depannya! Gila aku telah telanjang bulat di depan
anak buahku sendiri!! Aku memang belum sempat memakai celana dalam dan
BH setelah mandi tadi. Lalu dengan sekali tarik Pak Marsan melepas
handuk yang melilit di pinggangnya hingga ia juga telanjang bulat di
depanku!
Benar dugaanku! Ternyata batang kemaluannya berwarna hitam dengan rambut
yang sangat lebat. Topi bajanya tampak mengkilat dan mengacung ke atas
dengan gagahnya! Mungkin bila dijajarkan dengan pentungan yang biasa
dibawanya ukurannya sedikit lebih besar!! Makanya tadi kurasakan betapa
sempitnya liang vaginaku menjepit benda itu!!
Aku tidak sempat berlama-lama melihat pemandangan itu, karena sekali
lagi Pak Marsan menyergapku. Mulutnya dengan ganas melumat bibirku
sementara tangannya memeluk erat tubuh telanjangku. Aku merasa kegelian
saat tangannya meremas-remas pantatku yang telanjang. Aku semakin
menggelinjang saat bibirnya mulai turun ke leher dan terus ke dua buah
dadaku yang padat menjadi sasaran mulutnya yang bergairah! Gila.. Liar
dan panas! Itulah yang dapat kugambarkan. Betapa tidak! Pak Marsan
mencumbuku dengan semangat yang begitu bergelora seolah-oleh harimau
lapar menemukan daging! Agak sakit tapi nikmat saat kedua buah dadaku
secara bergantian digigit dan disedot dengan liar oleh mulut Pak Marsan.
Tanganku pun dibimbing Pak Marsan untuk dipegangkan ke arah batang
kemaluannya yang tegak.
"Ouch.. Shh.. Enakhh.." mulutku tak sadar berbicara saat lidah Pak
Marsan yang panas dengan liar mempermainkan puting payudaraku yang sudah
mengeras.
Sambil masih tetap memeluk tubuhku dan menciumi payudaraku, Pak Marsan
duduk di pinggir tempat tidur. Dilepaskannya mulutnya dari payudaraku
dan kembali diciuminya bibirku dengan ganasnya. Aku jadi terjongkok
didepan tubuh telanjang Pak Marsan yang sudah duduk di pembaringan, aku
jadi berdiri di atas kedua lututku. Payudaraku yang kencang menjepit
batang kemaluan Pak Marsan yang hitam dan keras itu!
"Hh.. Sshh" Pak Marsan mendesis saat batang kemaluannya yang besar dan
hitam itu terjepit payudaraku.
Dipeluknya tubuhku dengan semakin ketat dan ditekankannya hingga
payudaraku semakin erat menjepit batang kemaluannya. Aku merasa kegelian
saat bulu-bulu kemaluan Pak Marsan yang sangat lebat menggesek-gesek
pangkal payudaraku. Apalagi batang kemaluannya yang keras terjepit di
tengah belahan kedua buah payudaraku, hal ini menimbulkan sensasi yang
lain daripada yang lain.
Aku tidak sempat berlama-lama merasakan sensasi itu saat tangan Pak
Marsan yang kokoh menekan kepalaku ke bawah. Diarahkannya kepalaku ke
arah kemaluannya, sementara tangan satunya memegang batang kemaluannya
yang berdiri gagah di depan wajahku. Aku tahu ia menginginkan aku untuk
mengulum batang kemaluannya.
Tanpa perasaan malu lagi kubuka mulutku dan kujilati batang kemaluan Pak
Marsan yang mengkilat. Gila besar sekali!! Mulutku hampir tidak muat
dimasuki benda itu.
"Arghh.. Ter.. Terushh buu.." Mulut Pak Marsan mengoceh tak karuan saat
kumasukkan batang kemaluannya yang sangat besar itu ke dalam mulutku.
Kujilati lubang di ujung kemaluannya hingga ia mendesis-desis seperti
orang kepedasan. Tidak puas bermain-main dengan batang kemaluan itu
mulutku bergeser ke bawah lidahku menyelusuri guratan urat yang
memanjang dari ujung kepala kemaluan Pak Marsan hingga ke pangkalnya.
Pak Marsan semakin blingsatan menerima layananku! Tubuhnya semakin liar
bergerak saat bibirku menyedot kedua biji telor Pak Marsan secara
bergantian.
"Ib.. Ibu.. Heb.. Bathh.. Ohh.. Sshh.. Akhh".
Aku semakin nakal, bibirku tidak hanya menyedot kantung zakarnya
melainkan lidahku sesekali mengais-ngais anus Pak Marsan yang ditumbuhi
rambut. Pak Marsan semakin membuka kakinya lebar-lebar agar aku lebih
leluasa memuaskannya.
Beberapa saat kemudian tubuhku ditarik Pak Marsan dan dilemparkannya ke
tempat tidur. Aku masih tengkurap saat tubuh telanjangku ditindih tubuh
telanjang Pak Marsan. Kakiku dipentangkannya lebar-lebar dengan kakinya
dan otomatis batang kemaluannya kini terjepit antara perutnya sendiri
dan pantatku. Ditekannya pantatnya hingga batang kemaluannya semakin
ketat menempel di belahan pantatku. Tubuhku menggelinjang hebat saat
lidahnya kembali menyusuri tulang belakangku dari leher terus turun ke
punggung dan turun lagi ke arah pantatku.
Tanpa rasa jijik sedikitpun, lidah Pak Marsan kini mempermainkan lubang
anusku. Aku merasakan kegelian yang amat sangat tetapi aku tidak dapat
bergerak karena pantatku ditekannya kuat-kuat. Aku hanya pasrah dan
menikmati gairahnya.. Seluruh tubuhku dijilatinya tanpa terlewatkan
seincipun. Dari lubang anus, lidahnya menjalar ke bawah pahaku terus ke
lutut dan akhirnya seluruh ujung jariku dikulumnya. Benar-benar gila!!
Rasa geli dan nikmat berbaur menjadi satu.
Aku semakin mendesis liar saat mulut Pak Marsan dengan liar dan gemas
menyedot payudaraku bergantian. Kedua puting payudaraku dipermainkan
oleh lidahnya yang panas sementara tangannya bergerak turun ke bawah dan
mulai bermain-main di selangkanganku yang sudah basah. Liang vaginaku
berdenyut-denyut karena terangsang hebat, saat jari-jari tangan Pak
Marsan menguak labia mayoraku dan menggesek-gesekkan jarinya di dinding
lubang kemaluanku yang sudah semakin licin.
Sensasi hebat kembali menderaku saat dengan liar mulut Pak Marsan
menggigit-gigit perut bagian bawahku yang masih rata. Perutku memang
rata karena aku rajin berlatih kebugaran selain itu aku belum mempunyai
anak hingga tubuhku masih sempurna.
"Akhh.. Pak.. Ouchh.." aku mendesis saat bibir Pak Marsan menelusuri
gundukan bukit kemaluanku. Lidahnya menyapu-nyapu celah di
selangkanganku dari atas ke bawah hingga dekat lubang anusku. Lidahnya
terus bergerak liar seolah tak ingin melewatkan apa yang ada di sana.
Tubuhku tersentak saat lidah Pak Marsan yang panas menyusup ke dalam
liang kemaluanku dan menyapu-nyapu dinding kemaluanku. Kakiki
dipentangkannya lebar-lebar hingga wajah Pak Marsan bebas menempel
gundukan kemaluanku. Rasa geli yang tak terhingga menderaku. Apalagi
kumisnya yang tebal kadang ikut menggesek dinding lubang kemaluanku
membuat aku semakin kelabakan. Tubuhku serasa kejang karena kegelian
saat wajah Pak Marsan dengan giat menggesek-gesek bukit kemaluanku yang
terbuka lebar. Perutku serasa kaku dan mataku terbeliak lebar. Kugigit
bibirku sendiri karena menahan nikmat yang amat sangat.
"Akhh pakk.. Marsannhh.. Ak.. Ku.. Ohh" aku tak kuasa meneruskan kata
kataku karena aku sudah keburu orgasme saat lidah Pak Marsan dengan liar
menggesek-gesek kelentitku. Tubuhku seolah terhempas dalam nikmat. Aku
tak bisa bergerak karena kedua pahaku ditindih lengan Pak Marsan yang
kokoh.
Tubuhku masih terasa lemas dan seolah tak bertulang saat kedua kakiku
ditarik Pak Marsan hingga pantatku berada di tepi tempat tidur dan kedua
kakiku menjuntai ke lantai. Pak Marsan lalu menguakkan kedua kakiku dan
memposisikan dirinya di tengah-tengahnya. Kemudian ia mencucukkan batang
kemaluannya yang sudah sangat keras ke bibir kemaluanku yang sudah
sangat basah karena cairanku sendiri.
Aku menahan napas saat Pak Marsan mendorong pantatnya hingga ujung
kemaluannya mulai menerobos masuk ke dalam jepitan liang kemaluanku.
Seinci demi seinci, batang kemaluan Pak Marsan mulai melesak ke dalam
jepitan liang kemaluanku. Aku menggoyangkan pantatku untuk membantu
memudahkan penetrasinya. Rupanya Pak Marsan sangat berpengalaman dalam
hal seks, hal ini terbukti bahwa ia tidak terburu-buru melesakkan
seluruh batang kemaluannya tetapi dilakukannya secara bertahap dengan
diselingi gesekan-gesekan kecil ditarik sedikit lalu didorong maju lagi
hingga tanpa terasa seluruh batang kemaluannya sudah terbenam seluruhnya
ke dalam liang kemaluanku. Kami terdiam beberapa saat untuk menikmati
kebersamaan menyatunya tubuh kami. Bibir Pak Marsan memagut bibirku dan
akupun membalas tak kalah liarnya. Aku merasakan betapa batang kemaluan
Pak Marsan yang terjepit dalam liang kemaluanku mengedut-ngedut. Kami
saling berpandangan dan tersenyum mesra.
Tubuhku tersentak saat tiba-tiba Pak Marsan menarik batang kemaluannya
dari jepitan liang kemaluanku.
"Akhh.." aku menjerit tertahan. Rupanya Pak Marsan nakal juga!!
"Enak Bu..?" bisiknya
"Kamu nakal Pak Marsanhh.. Ohh" belum sempat aku menyelesaikan ucapanku
Pak Marsan mendorong kembali pantatnya kuat-kuat hingga seolah-olah
ujung kemaluannya menumbuk dinding rahimku di dalam sana. Aku tidak
diberinya kesempatan untuk bicara. Bibirku kembali dilumatnya sementara
kemaluanku digenjot lagi dengan tusukan-tusukan nikmat dari batang
kemaluannya yang besar, sangat besar untuk ukuran orang Indonesia.
Setelah puas melumat bibirku, kini giliran payudaraku yang dijadikan
sasaran lumatan bibir Pak Marsan. Kedua puting payudaraku kembali
dijadikan bulan-bulanan lidah dan mulut Pak Marsan. Pantas tubuhnya
kekar begini habis neteknya sangat bernapsu sampai-sampai mengalahkan
anak kecil!! Tubuhku mulai mengejang.. Gawat aku hampir orgasme lagi.
Kulihat Pak Marsan masih belum apa-apa!! Ini tidak boleh dibiarkan..
Pikirku. Aku paling suka kalau posisi di atas sehingga saat orgasme bisa
full sensation.
Lalu tanpa rasa malu lagi kubisikkan sesuatu di telinga Pak Marsan,
"Giliranku di atas sayang.." Gila! Aku sudah mulai sayang-sayangan
dengan satpam di kantorku!!
Pak Marsan meluluskan permintaanku dan menghentikan tusukan-tusukannya.
Lalu tanpa melepaskan batang kemaluannya dari jepitan liang kemaluanku
ia menggulingkan tubuhnya ke samping. Kini aku sudah berada di atas
tubuhnya. Aku sedikit berjongkok dengan kedua kakiku di sisi pinggulnya.
Kemudian perlahan-lahan aku mulai menggoyangkan pantatku. Mula-mula
gerakanku maju mundur lalu berputar seperti layaknya bermain hula hop.
Kulihat mata Pak Marsan mulai membeliak saat batang kemaluannya yang
terjepit dalam liang kemaluanku kuputar dan kugoyang. Pantat Pak Marsan
pun ikut bergoyang mengikuti iramaku.
"Shh.. Oughh.. Terushh.. Buu.. Arghh..!" Pak Marsan mulai menggeram.
Tangannya yang kokoh mencengkeram kedua pantatku dan ikut membantu
menggoyangnya. Gerakan kami semakin liar. Napas kami pun semakin menderu
seolah menyaingi gemuruh hujan yang masih turun di luar sana.
Cengkeraman Pak Marsan semakin kuat menekan pantatku hingga aku terduduk
di atas kemaluannya. Kelentitku semakin kuat tergesek batang kemaluannya
hingga aku tak dapat menahan diri lagi. Tubuhku bergerak semakin liar
dan kepalaku tersentak ke belakang saat puncak orgasmeku untuk yang
kesekian kalinya tercapai. Tubuhku mengejat-ngejat di atas perut Pak
Marsan. Ada semacam arus listrik yang menjalar dari ujung kaki hingga ke
ubun-ubun.
"Akhh.. Ohh.. Ter.. Rushh pakk.. Ohh" aku menjerit melepas orgasmeku
meminta Pak Marsan untuk semakin kuat memutar pantatnya.
Akhirnya aku benar-benar ambruk di atas perut Pak Marsan. Tulang
belulangku seperti dilolosi. Tubuhku lemas tak bertenaga. Napasku
ngos-ngosan seperti habis mengangkat beban yang begitu berat. Aku hanya
pasrah saja saat Pak Marsan yang belum orgasme mengangkat tubuhku dan
membalikkannya. Ia mengganjal perutku dengan beberapa bantal hingga aku
seperti tengkurap di atas bantal. Kemudian Pak Marsan menempatkan diri
di belakangku. Dicucukkannya batang kemaluannya di belahan kemaluanku
dari belakang. Rupanya ia paling menyukai doggy style. Aku jadi teringat
SMS lucu dari kolegaku yang katanya, "Gaya seks paling ideal bagi orang
berusia lanjut adalah gaya anjing.. Cukup diendus-endus saja!!" Kalau
Pak Marsan memang paling senang doggy style, katanya full imagination.
|
|
|
|