|
Tongkat Pak Satpam 2 |
Setelah tepat sasaran, Pak Marsan mulai menekan pantatnya hingga batang
kemaluannya amblas tertelan lubang kemaluanku. Ia diam beberapa saat
untuk menikmati sensasi indahnya jepitan liang kemaluanku. Dengan
bertumpu pada kedua lututnya, Pak Marsan mulai menggenjot lubang
kemaluanku dari arah belakang. Kembali terdengar suara tepukan beradunya
pantatku dengan tulang kemaluan Pak Marsan yang semakin lama semakin
cepat mengayunkan pantatnya maju mundur.
Kurang puas dengan jepitan liang kemaluanku, kedua pahaku yang terbuka
dikatupkannya hingga kedua kakiku berada diantara kedua paha Pak Marsan.
Kembali ia mengayunkan pantatnya maju mundur. Aku merasakan betapa
jepitan liang kemaluanku kian erat menjepit kemaluannya. Aku bermaksud
menggerakkan pantatku mengikuti gerakanya, tetapi tekanan tangannya
terlalu kuat untuk kulawan hingga aku pasrah saja. Aku benar-benar
dibawah penguasaannya secara total. Tempat tidurku ikut bergoyang
seiring dengan ayunan batang kemaluan Pak Marsan yang menghunjam ke
dalam liang kemaluanku.
Nafsuku mulai terbangkit lagi. Perlahan-lahan gairahku meningkat saat
batang kemaluan Pak Marsan menggesek-gesek kelentitku.
"Ugh.. Ugh.. Uhh.." terdengar suara Pak Marsan mendengus saat memacu
menggerakkan pantatnya menghunjamkan kemaluannya.
"Terushh.. Terushh Pak.. Terushh.. Ahh.." kembali tubuhku bergetar
melepas orgasmeku.
Kepalaku terdongak ke belakang, sementara Pak Marsan tetap menggerakkan
kemaluannya dalam jepitan liang kemaluanku kini tubuhnya sepenuhnya
menindihku. Kepalaku yang terdongak ke belakang didekapnya dan
dilumatnya bibirku sambil tetap menggoyangkan pantatnya maju mundur. Aku
yang sedikit terbebas dari tekanannya ikut memutar pantatku untuk meraih
kenikmatan lebih banyak. Kami terus bergerak sambil saling berpagutan
bibir dan saling mendorong lidah kami. Entah sudah berapa kali aku
mencapai orgasme selama bersetubuh dengan Pak Marsan ini. Hebatnya ia
baru sekali mengalami ejakulasi saat persetubuhan pertama tadi. Tubuhku
terasa loyo sekali. Aku sudah tidak mampu bergerak lagi.
Pak Marsan melepaskan batang kemaluannya dari jepitan kemaluanku dan
mengangkat tubuhku hingga posisi telentang. Aku sudah pasrah.
Dibentangkannya kedua pahaku lebar-lebar lalu kembali Pak Marsan
menindihku. Lubang kemaluanku yang sudah sangat licin disekanya dengan
handuk kecil yang ada di tempat tidur. Kemudian ia kembali menusukkan
batang kemaluannya ke bibir kemaluanku. Perlahan namun pasti, seperti
gayanya tadi dikocoknya batang kemaluannya hingga sedikit demi sedikit
kembali terbenam dalam kehangatan liang kemaluanku. Tubuh kami yang
sudah basah oleh peluh kembali bergumul.
"Pak Marsan.. Hebatthh.." bisikku.
"Biasa Bu.. Kalau ronde kedua saya suka susah keluarnya.." demikian
kilahnya.
Kami tidak dapat berbicara lagi karena lagi-lagi bibir Pak Marsan sudah
melumat bibirku dengan ganasnya. Lidah kami saling dorong mendorong
sementara pantat Pak Marsan kembali menggenjotku sekuat-kuatnya hingga
tubuhku timbul tenggelam dalam busa springbed yang kami gunakan. Kulihat
tonjolan urat di kening Pak Marsan semakin jelas menunjukkan napsunya
sudah mulai meningkat. Napas Pak Marsan semakin mendengus seperti kerbau
gila. Aku yang sudah lemas tak mampu lagi mengimbangi gerakan Pak
Marsan.
"Ugh.. Ughh.. Uhh.." dengus napasnya semakin bergemuruh terdengar di
telingaku. Bibirnya semakin ketat melumat bibirku. Lalu kedua tangan Pak
Marsan menopang pantatku dan menggenjot lubang kemaluanku dengan
tusukan-tusukan batang kemaluannya. Aku tahu sebentar lagi ia akan
sampai. Aku pun menggerakkan pantatku dengan sisa-sisa tenagaku. Benar
saja tiba-tiba ia menggigit bibirku dan menghunjamkan batang kemaluannya
dalam-dalam ke dalam liang kemaluanku dan crrt.. Crrtt.. Cratt.. Cratt..
Crrat.. Ada lima kali mungkin ia menyemprotkan spermanya ke dalam
rahimku. Ia masih bergerak beberapa saat seperti berkelojotan, lalu
ambruk di atas perutku. Aku yang sudah kehabisan tenaga tak mampu
bergerak lagi.
Kami tetap berpelukan menuntaskan rasa nikmat yang baru kami raih.
Batang kemaluan Pak Marsan yang masih kencang tetap menancap ke dalam
liang kemaluanku. Keringat kami melebur menjadi satu. Akhirnya kami
tertidur sambil tetap berpelukan dengan batang kemaluan Pak Marsan tetap
tertancap dalam liang kemaluanku. Paginya kami sempat bersetubuh lagi
sebelum Pak Marsan pulang kembali ke kantor. Kami pun berjanji bahwa
kami akan berlaku wajar seoalh-olah tidak terjadi apa-apa di antara
kami.
Mulai Saling Merindu
Sudah hampir dua bulan sejak persetubuhanku dengan Pak Marsan kami tidak
melakukannya lagi. Hal ini disebabkan karena suamiku selalu berada di
rumah dan aku juga sempat dinas luar sehingga tidak ada kesempatan
bertemu secara bebas. Lama-lama aku merasa kangen juga dengan 'tongkat'
Pak Marsan. Aku sudah merindukan keliarannya, bau keringatnya dan juga
kejantanannya.
Akhirnya kesempatan yang kutunggu-tunggu datang juga. Itulah yang
namanya rezeki, tidak dapat dikejar dan tidak dapat pula ditolak. Kalau
sudah waktunya pasti akan datang dengan sendirinya.
Hari itu hari Sabtu jadi kantor libur. Kebetulan pula suamiku sedang
seminar di Pekanbaru dan pulang Minggu sore. Karena suntuk di rumah aku
mencoba datang ke kantor siapa tahu ketemu dengan Pak Marsan. Tetapi
sesampai di kantor ternyata dia tidak ada. Selidik punya selidik
ternyata Pak Marsan sedang mengambil cuti tahunan, jadi ia libur selama
satu minggu.
Terdorong kerinduanku aku memberanikan diri mendatangi rumahnya. Toh aku
sudah biasa datang ke sana dan sudah kenal baik dengan istrinya. Setelah
membeli biskuit dan gula serta susu buat bayinya aku meluncur ke
rumahnya yang kalau kutempuh dari kantor kira-kira memakan waktu 45
menit. Lumayan jauh.
Suasana tampak sepi saat mobilku memasuki halaman rumah Pak Marsan yang
sudah sangat kukenal. Aku mengenal seluk beluk rumah itu, seluruh
penghuninya dan tetangganya karena aku memang sering datang ke situ.
Setelah memarkir mobilku di samping rumahnya aku mencoba memanggil si
penghuni rumah.
"Yu.. Yu Sarni.. Ini aku Reni.." berulang ulang kupanggil nama istri Pak
Marsan, namun tidak ada jawaban.
Rumah tidak terkunci namun tidak ada orang. Aku lalu memutuskan untuk
memutar ke belakang rumah siapa tahu mereka berada di kebun belakang
rumah. Tetapi tidak ada orang satu pun di kebun belakang rumah. Namun
sayup-sayup kudengar suara berkecipak air di kamar mandi yang terletak
di sudut belakang rumah Pak Marsan. Jangan berpikiran kalau kamar mandi
di perkampungan sama seperti di kota-kota. Kamar mandi milik Pak Marsan
hanya dibatasi anyaman bambu tanpa atap, sehingga bila hujan selalu
kehujanan dan kalau panas selalu kepanasan. Untungnya lokasinya berada
di bawah pohon rambutan sehingga agak terlindung dari panas.
Kudengar suara parau mendendangkan lagu ndangdut yang tidak begitu
kukenal. Aku memang tidak suka sama musik dangdut jadi kurang begitu
kenal dengan lagu yang dinyanyikan dengan suara fals. Itu suara Pak
Marsan yang sangat kukenal di telingaku. Dengan rasa iseng kuintip Pak
Marsan yang sedang mandi lewat celah-celah anyaman bambu yang agak
longgar. Kulihat tubuh Pak Marsan yang kekar nampak mengkilat terkena
busa sabun. Batang kemaluannya yang besar tampak menggantung dipenuhi
busa sabun dan kelihatan lucu, seperti badut. Batang kemaluannya
bergoyang-goyang seperti jam dinding kuno seiring dengan gerakan Pak
Marsan yang menyabuni tubuhnya.
Pak Marsan yang hanya berbalut handuk tampak kaget melihatku sudah duduk
di bangku panjang yang terletak di beranda belakang rumahnya.
"Lho.. Bu Reni.. Sudah lama datangnya?" ia melongo seolah tak percaya
dengan kedatanganku.
"Enggak baru saja sampai kok. Orang-orang pada kemana kok sepi?"
"Em.. Anu Bu Sarni sedang ke Jawa menengok ibunya. Katanya ibunya kangen
sama cucunya"
"Lho kok enggak bareng sama Pak Marsan?"
"Enggak soalnya biar irit ongkosnya Bu. Silahkan masuk Bu.."
Aku pun masuk ke rumah melalui dapur dengan diiringi Pak Marsan. Begitu
pintu ditutup Pak Marsan langsung memeluk tubuhku dari belakang.
Diciuminya tengkukku dengan ganas seperti biasanya.
"Saya.. Kangen sama Bu Reni.." bisiknya di telingaku. Aku sendiri juga
kangen dengan Pak Marsan. Kangen dengan cumbuannya dan kangen dengan
tongkatnya, tetapi aku tetap berpura-pura menjaga wibawaku.
"Ahh.. Pak Marsan bisa saja.. Kan sudah ada Yu Sarni.."
"Memang sih.. Tapi benar saya kangen sama Ibu.."
Tangannya bergerak ke belakang dan meremas buah pantatku. Sementara itu
mulutnya terus turun ke arah perutku dan lidahnya mengosek-ngosek
pusarku membuat aku kembali terangsang hebat. Tiba-tiba Pak Marsan
melepaskan tanganku dari batang kemaluannya dan bersimpuh di depanku
yang masih berdiri. Dengan serta merta digigitnya celana dalamku dan
ditarik dengan giginya ke bawah hingga teronggok di pergelangan kakiku.
Aku membantunya melepaskan satu-satunya penutup tubuhku dan menendangnya
jauh-jauh.
Kini mulut Pak Marsan sibuk menggigit dan menjilat daerah
selangkanganku. Dikuakannya kakiku lebar-lebar hingga ia lebih leluasa
menggarap selangkanganku. Dengan bersimpuh Pak Marsan mulai menjilati
labia mayoraku sementara tangannya meremas pantatku dan menekannya ke
depan hingga wajahnya lebih ketat menyuruk ke bukit kemaluanku.
"Akhh. Terushh.. Ohh.." aku hanya bisa merintih saat lidah Pak Marsan
menyeruak ke dalam liang kemaluanku yang sudah sangat licin.
Ditekankannya wajahnya ke selangkanganku hingga lidahnya semakin dalam
menyeruak ke dalam liang kemaluanku. Aku semakin menggelinjang saat
lidah Pak Marsan dengan nakalnya mempermainkan kelentitku. Sesekali ia
menyedot kelentitku dan mengosek-kosek kelentitku dengan lidahnya.
Gila.. Tubuhku mulai mengejang dan perutku seakan-akan diaduk-aduk
karena harus menahan kenikmatan.
Pak Marsan sudah tidak peduli dengan keadaanku yang kepayahan menahan
nikmat. Lidahnya bahkan semakin liar mempermainkan tonjolan di ujung
atas liang vaginaku. Akhirnya aku tak mampu menahan gempuran badai
birahi yang melandaku. Tubuhku berkelojotan, dan mataku membeliak
menahan nikmat yang amat sangat. Tubuhku melayang.
"Akhh.. Terr.. Ushh"
Tubuhku terus berkejat-kejat sampai titik puncaknya dan kurasakan ada
sesuatu yang meledak di dalam sana. Tubuhku melemas seolah tak
bertenaga. Aku hanya bersandar dengan lemas ke dinding kamar tanpa mampu
bergerak lagi.
Pak Marsan lalu berdiri di hadapanku.
"Bagaimana Bu..?" bisiknya di telingaku.
"Ohh.. Luar biasa.. Pak Marsan hebb.. bathh" desahku.
Masih dengan posisi berdiri dengan aku menyandar dinding, Pak Marsan
menyergap bibirku lagi. Pak Marsan menempatkan dirinya di antara kedua
pahaku yang terbuka lalu dicucukannya batang kemaluannya ke lubang
kemaluanku yang sudah sangat basah. Dengan tangannya Pak Marsan
menggosok-gosokkan kepala kemaluannya ke lubang kemaluanku. Tubuhku
kembali bergetar. Aku mulai terangsang lagi, saat kepala kemaluan Pak
Marsan menggesek-gesek tonjolan kecil di lubang kemaluanku.
Dengan perlahan Pak Marsan mendorong pantatnya ke depan hingga batang
kemaluannya menyeruak ke dalam liang kemaluanku.
"Hmmphh.." hampir bersamaan kami mendengus saat batang kemaluan Pak
Marsan menerobos liang kemaluanku dan menggesek dinding liang vaginaku
yang sudah sangat licin. Lidah kami saling bertaut, saling mendorong dan
saling melumat. Tubuhku tersentak-sentak mengikuti hentakan dorongan
pantat Pak Marsan. Pak Marsan terus menekan dan mendorong pantatnya
menghunjamkan batang kemaluannya ke dalam liang kemaluanku dengan posisi
berdiri.
Entah karena kurang leluasa atau kurang nyaman, tiba-tiba Pak Marsan
mencabut batang kemaluannya yang terjepit liang kemaluanku. Ia
membalikkan tubuhku menghadap dinding dan ia sekarang berdiri di
belakangku. Tubuhku sedikit ditunggingkan dengan kedua tangan menopang
tembok. Dipentangkannya kedua kakiku lebar-lebar, lalu ditusukkannya
batang kemaluannya ke lubang kemaluanku dari belakang. Kali ini
gerakanku dan gerakannya agak lebih leluasa.
Kedua tangan Pak Marsan meremas dan memegang erat pantatku sambil
mengayunkan pantatnya maju mundur. Batang kemaluannya semakin lancar
keluar masuk liang kemaluanku yang sudah sangat licin.
"Ughh.. Ughh.." kudengar Pak Marsan mendengus-dengus seperti kereta
sedang menanjak. Aku pun mengimbangi gerakan ayunan pantat Pak Marsan
dengan sedikit memutar pantatku dengan gaya ngebor.
Napas Pak Marsan semakin menderu saat kulakukan gaya ngeborku. Batang
kemaluannya seperti kupilin dalam jepitan liang kemaluanku. Nafsuku yang
sudah terbangkit semakin mengelora. Desakan-desakan kuat di dalam tubuh
bagian bawahku semakin menekan. Kugoyang pantatku semakin liar
menyongsong sodokan batang kemaluan Pak Marsan.
"Teruss.. Buu.. Terusshh" Pak Marsan mendesis-desis dan tangannya
semakin kuat mencengkeram pantatku membantuku bergoyang semakin kencang.
"Arghh.. Arghh.. Akhh.. Say.. Saya.. Keluarhh buu.." kudengar Pak Marsan
menggeram saat batang kemaluannya mengedut-ngedut dalam jepitan liang
kemaluanku.
Aku pun merasa sudah di ambang puncak kenikmatanku. Kugoyangkan pantatku
semakin liar dan akhirnya kuayunkan pantatku ke belakang menyongsong
tusukan Pak Marsan hingga batang kemaluannya melesak sedalam-dalamnya
seolah-olah menumbuk mulut rahimku dan kurasakan ada semburan cairan
hangat dari batang kemaluan Pak Marsan di dalam liang vaginaku. Crat..
Crrtt.. Crutt.. Crtt.. Crott..!! Banyak sekali cairan sperma Pak Marsan
yang tersembur menyiram rahimku, hingga sebagian menetes ke karpet kamar
tidurnya.
Kami tetap terdiam sambil mengatur napas. Tangan Pak Marsan memeluk
dadaku dan batang kemaluannya masih mengedut-ngedut menyemburkan
sisa-sisa air mani ke dalam liang kemaluanku. Akhirnya kami berdua
menggelosor ambruk ke kasur kumal yang biasa ditiduri Pak Marsan dan
istrinya.
Kami berbaring dengan Pak Marsan masih memeluk tubuhku dari belakang.
Batang kemaluan Pak Marsan yang sudah terkulai menempel di belahan
pantatku. Kurasakan ada semacam cairan pekat yang menempel ke pantatku
dari batang kemaluan Pak Marsan. Aku tak tahu dengan kain apa Pak Marsan
menyeka lubang kemaluanku untuk membersihkan cairan sperma yang menetes
dari labia mayoraku. Aku terlalu lemas untuk memperhatikan. Akhirnya aku
tertidur kelelahan setelah 'digempur' habis-habisan oleh Pak Marsan.
Aku tidak tahu berapa lama aku telah tertidur di kasur Pak Marsan. Aku
tersadar saat ada sesuatu benda lunak yang memukul-mukul bibirku. Saat
kulirik aku terkejut ternyata benda yang memukul-mukul bibirku tadi
adalah batang kemaluan Pak Marsan yang sudah setengah ereksi. Ternyata
ia sedang berjongkok dengan mengangkangiku dan tangannya memegangi
batang kemaluannya sambil dipukul-pukulkannya pelan-pelan ke bibirku.
Begitu melihat aku terbangun, dengan serta merta Pak Marsan memegang
bagian belakang kepalaku dan menyodorkan batang kemaluannya ke mulutku.
Aku menjadi gelagapan karena bangun-bangun sudah disodori batang
kemaluan laki-laki!! Gila.
Kurasakan ada sedikit rasa asin-asin yang agak aneh saat bibirku mulai
mengulum batang kemaluan Pak Marsan yang disodorkan padaku. Sedikit demi
sedikit batang kemaluan itu semakin mengeras dalam kulumanku.
Beberapa saat kemudian Pak Marsan membalikkan posisinya. Batang
kemaluannya masih kukulum dengan liar kemudian ia menundukkan tubuhnya
dan wajahnya kini menghadap selangkanganku. Dipentangkannya kedua pahaku
kemudian lidahnya mulai bekerja menjilat dan melumat gundukan
kemaluanku. Aku semakin gelagapan karena merasa kegelian di
selangkanganku sementara mulutku tersumpal batang kemaluan Pak Marsan.
Aku ikut menyedot batang kemaluannya saat Pak Marsan menyedot
kemaluanku. Kami saling menjilat dan menyedot kemaluan kami
masing-masing dengan posisi Pak wajah Marsan menyeruak ke selangkanganku
dan wajahku dikangkangi Pak Marsan.
Aku semakin menggelinjang liar saat lidah Pak Marsan mengais-ngais
lubang anusku dengan menekuk kedua pahaku ke atas. Aku sangat terangsang
dengan perlakuannya itu. Apalagi saat lidahnya dimasukkan dalam-dalam ke
lubang vaginaku. Aku tak mampu menjerit karena mulutku tersumpal batang
kemaluannya.
Tubuhku bergetar hebat menahan kenikmatan yang menyergapku. Pak Marsan
dengan ganas menjilat-jilat tonjolan kecil di lubang kemaluanku dengan
kedua tangannya membuka lebar-lebar labia mayoraku ke arah berlawanan.
Aku tak mampu bertahan lama atas perlakuannya itu. Tubuhku mengejan dan
berkelejat seperti cacing kepanasan. Lalu tubuhku tersentak selama
beberapa saat dan akhirnya terdiam. Aku mengalami orgasme lagi dengan
cepatnya.
Pak Marsan masih membiarkan batang kemaluannya menyumpal mulutku sambil
sesekali lidahnya menyapu-nyapu dinding vulvaku. Setelah aku mulai dapat
mengatur napasku, Pak Marsan menggulingkan tubuhnya ke samping dan
menarik tubuhku agar naik ke perutnya. Ia bergeser ke arah dekat dinding
dan menumpuk beberapa bantal di belakang punggungnya hingga posisinya
kini setengah duduk. Tubuhku ditariknya hingga menduduki perutnya lalu
diangkatnya pantatku dan dicucukannya batang kemaluannya ke lubang
kemaluanku.
Dengan pelan aku menurunkan pantatku hingga batang kemaluan Pak Marsan
secara perlahan melesak ke dalam jepitan liang kemaluanku. Aku menahan
napas menikmati gesekan batang kemaluannya di dinding lubang kemaluanku.
Setelah beberapa kocokan yang kulakukan akhirnya amblaslah seluruh
batang kemaluan Pak Marsan ke dalam lubang kemaluanku.
Kini aku duduk di atas perut Pak Marsan yang setengah duduk dengan
punggung diganjal bantal. Dengan tangan bertumpu dinding tembok aku
mulai bergerak menaik-turunkan pantatku secara perlahan. Sementara itu
tangan Pak Marsan mencengkeram pantatku membantu menggerakkan pantatku
naik turun, mulutnya sibuk menetek payudaraku.
Posisi di atas merupakan salah satu posisi favoritku. Karena dengan
posisi ini aku dapat mengontrol sentuhan-sentuhan pada daerah sensitifku
dengan batang kemaluan laki-laki yang menancap di lubang kemaluanku.
"Akhh.. Shh.. Terushh.. Pak Mar.. Sanhh" aku mendesis-desis saat Pak
Marsan ikut mengimbangi goyanganku sambil kedua tangannya menekan kedua
payudaraku hingga kedua putingku masuk ke dalam mulut Pak Marsan. Kedua
putingku dijilat-jilat dan disedot secara bersamaan hingga membuat
nafsuku meningkat secara cepat. Aku semakin liar menggerakkan pantatku
di pangkuan Pak Marsan. Tubuhku kembali mengejat-ngejat dan seperti
terhantam aliran listrik.
"Terusshh.. Terusshh.. Ouchh.." aku semakin liar mendesis saat kurasakan
sesuatu meledak-ledak. Tubuhku terasa terhempas ke tempat kosong lalu
akhirnya aku ambruk di dada Pak Marsan.
Pak Marsan lalu bangkit dan berganti menindihku dengan tanpa melepaskan
batang kemaluannya dari jepitan lubang kemaluanku. Bantal yang tadi
mengganjal punggungku ditaruhnya untuk mengganjal pantatku hingga
gundukan kemaluanku semakin membukit. Aku yang sudah lemas kembali
dijadikan bulan-bulanan genjotan batang kemaluannya. Bibirnya tak
henti-hentinya melumat bibirku dan pantatnya dengan mantap memompa
batang kemaluannya menusuk-nusuk lubang kemaluanku. Kedua tangan Pak
Marsan mengganjal bongkahan pantatku hingga tusukannya kurasakan sangat
dalam menumbuk perutku.
"Ughh.. Ughh.. Putarrhh.. Buu.. Putarrhh ugghh.." kudengar Pak Marsan
mendengus memintaku memutar pantatku. Aku menuruti permintaannya memutar
pantatku dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada.
"Terushh.. Terushh ter.. Oughh!!" Akhirnya dengan diiringi dengusan
panjang tubuh Pak Marsan berkelojotan. Tubuhnya tersentak-sentak dan
hunjaman batang kemaluannya serasa menghantam sangat dalam karena
didorong sekuat tenaga olehnya. Batang kemaluannya berdenyut-denyut
dalam jepitan liang kemaluanku dan crott.. Crott.. Crott batang
kemaluannya menyemburkan cairan kenikmatan ke dalam liang kemaluanku.
Aku merasa ada desiran hangat menyembur beberapa kali dalam lubang
kemaluanku. Nikmat sekali rasanya.
Tubuh Pak Marsan masih berkelojotan untuk beberapa saat lalu akhirnya
terdiam.
"Oughh.. Bu.. Ren.. Ni hebatthh" bisiknya di telingaku dengan napas yang
masih ngos-ngosan. Tubuh kekarnya ambruk menindih tubuh telanjangku.
Batang kemaluannya dibiarkannya tertancap erat dalam jepitan liang
kemaluanku. Kami berdua sama-sama diam menikmati sisa-sisa kenikmatan
yang baru saja kami raih.
Hari sudah menjelang sore saat aku bangun dari kasur Pak Marsan. Aku
kaget saat mau kupakai celana dalamku ternyata sudah basah oleh lendir
yang masih menempel. Rupanya tadi Pak Marsan menyeka lubang vaginaku
dengan celana dalamku! Sialan juga terpaksa aku tidak memakai celana
dalam.
Dengan memakai celana dan baju atasanku aku keluar ke kamar mandi dan
cebok membersihkan lubang kemaluanku dari sisa-sisa lendir sehabis
persetubuhan tadi. Aku baru saja mau berdiri dan menaikkan celanaku saat
tiba-tiba Pak Marsan yang hanya dililit handuk ikut masuk ke kamar
mandi. Belum selesai membanahi celanaku lagi-lagi Pak Marsan merangsekku
di kamar mandinya yang terbuka.
Diturunkannya lagi celanaku hingga sebatas lutut lalu didekapnya aku
dari belakang. Bibirnya dengan gansa dan rakus menjilat dan mencumbu
daerah belakang telingaku hingga gairahku mulai terbangkit lagi.
Melihat aku sudah dalam genggamannya dilepasnya lilitan handuknya hingga
ia telanjang bulat. Batang kemaluannya yang sudah setengah keras
menempel ketat di belahan pantatku. Aku sengaja menekan pantatku mundur
hingga menggencet batang kemaluannya semakin terbanam di antara kedua
belah buah pantatku. Kugeser-geser pantatku dengan lembut hingga
lama-kelamaan batang itu mulai mengeras lagi.
Setelah keras dicucukannya batang kemaluannya ke celah-celah sempit di
gundukan bukit kemaluanku lalu digosok-gosokannya ujungnya ke alur
sempit itu yang sudah mulai basah.
Sekali lagi kami bersetubuh dengan hanya menurunkan celana panjangku
sebatas lutut dan Pak Marsan menggenjotku lagi dengan posisi berdiri.
Aku harus bertumpu pada bak mandi yang terbuat dari gentong tanah sambil
setengah nungging sementara Pak Marsan menggenjot dari belakang. Gila.
Pak satpam satu ini memang gila! Bagaimana tidak ia punya dua 'tongkat',
yang satu dapat membuat orang kesakitan sedangkan yang satunya dapat
membuat orang merem-melek keenakan!
***
Sampai di sini dulu kisah yang dituturkan pembacaku. Kisah ini
kupersembahkan khusus buat ibu D di salah satu bank BUMN terkenal di
kota Padang. Bila ada pembaca yang mempunyai pengalaman menarik dan
merasa kesulitan menuangkannya dalam cerita bisa kontak saya.
Mudah-mudahan saya dapat membantu merangkaikan pengalaman pembaca
menjadi sebuah cerita yang dapat dibaca seluruh pecinta 17Tahun ini.
|
|
|
|