|
True Story |
Juni 2001
Namaku Cindy, seoarang wanita keturunan, berusia 27 tahun dan aku
memiliki seorang anak dari suami yang sangat kusayangi. Akan tetapi ada
satu sifat dari diriku yang tidak dapat kukendalikan, aku merasa bahwa
aku tidak dapat hidup dan bercinta hanya dengan satu laki-laki, aku
senang menggoda dan bercinta dengan laki-laki yang kuanggap menarik, dan
setelah itu meninggalkannya untuk kembali pada suamiku.
Agustus 1989
Dari SMP aku sudah mulai merasakan kejanggalan ini, dan yang mendukung
sifatku ini adalah aku selalu dikelilingi oleh laki-laki yang menarik.
Pertama kali aku melakukan masturbasi adalah sewaktu aku berusia 13
tahun, aku suka memainkan puting buah dadaku dan klitorisku sambil
berimajinasi merasakan nikmatnya bercinta. Dan dari masturbasi seperti
ini, aku mendapatkan kepuasan yang membuatku mencapai orgasme.
Pacar pertamaku waktu aku berusia 15 tahun adalah Rio, dia lebih tua 5
tahun dari aku, dia sudah cukup berpengalaman dalam hal seks, karena dia
tahu aku suka berfantasi, maka dia sering mencium dan mengulum bibirku
dengan penuh birahi. Apabila kebetulan orangtuaku sedang pergi, kami
sering melakukan oral seks di kamarku atau di ruang tengah.
Aku paling terangsang bila dia melumat putingku, menjilatinya sampai
basah dan tangan satunya memainkan klitorisku. Karena aku terangsang,
maka kuberanikan diri untuk memegang penisnya. Kurasakan benda itu
semakin mengeras dan mengeras. Kumasukkan tanganku ke dalam celananya,
kubelai buah zakarnya, pangkal penis dan kepalanya. Dia mengerang, ujung
kepala penisnya terasabasah, kumainkan dengan jari telunjukku, dia
semakin kencang mengulum putingku, dan aku pun mendesah nikmat.
Kemaluanku mulai berdenyut-denyut, cairan nikmat itu semakin banyak
keluar dan aku semakin tidak tahan.
Kudorong badan Rio sehingga posisiku berada di atasnya, kutarik
celananya dan kelihatanlah penisnya yang keras, tegak menantang. Aku
belum pernah melihat penis sebelumnya, oleh karena itu aku cukup kaget,
tetapi nafsuku untuk mengulum penis Rio lebih besar daripada rasa
kagetku. Kupegang pelan batang penisnya, tanganku naik turun perlahan
mengikuti irama erangan Rio, kubelai dan kuciumi hingga puas. Rio
menggelinjang keenakan. Kujilat dari pangkal ke atas, kukulum dan
kusedot-sedot perlahan, kumainkan dengan lidahku, kugigit perlahan,
erangan Rio semakin menjadi-jadi.
"Shh.., Rio nggak tahan lagi, Cindy.. Rio mau keluar..!" katanya waktu
itu.
Aku tidak dapat menjawab, karena mulutku sedang mengulum batang
penisnya, aku hanya mendesah, menjilat, menggigit dan menyedot.
Kemaluanku kembali berdenyut-denyut. Sambil mengulum penis Rio,
kumainkan puting buah dadaku bergantian dengan klitorisku. Aku pun sudah
hampir mencapai orgasme, kugeser posisi tubuhku hingga membentuk posisi
69, dan Rio dengan cepatnya mejilatserta mengulum vaginaku.
"Ahh.., Cindy.. Keluarkan punyamu Sayang.. Aku sudah nggak bisa nahan
lebih lama lagi, aku mau keluaarr.. Ouch.. ahh.. ahh.. ahh..!" erangan
Rio dan eranganku semakin kencang dan menyemburlah air mani dari
penisnya di dalam mulutku.
Aku masih mengulum, menyedot dan menjilat sisa-sisa air maninya, penis
Rio berdenyut-denyut dan setiap kali kusedot, dia menggelinjang. Rio
juga mejilat-jilat kemaluanku dan mengulumnya.
"Ohh.., it feels so good.." batinku saat itu.
Aku pun tergeletak di samping Rio sambil masih memainkan putingku yang
basah terkena cairan maninya, rasanya putingku masih mengeras dan masih
minta untuk dikulum dan dihisap, kemaluanku pun masih berdenyut-denyut,
rasanya masih ada yang mengganjal meminta untuk dilampiaskan. Akhirnya
dalam posisi telentang, tangan kananku kumainkan di kemaluanku dan
tangan kiriku memilin-milin putingku, kugesek-gesek dan kutekan tangan
kananku di kemaluanku semakin cepat dan cepat sambil memejamkan mata dan
membayangkan penis di dalam vaginaku.
Rio yang dari tadi memperhatikanku mulai beringsut mendekatiku dan
berbisik, "Mau aku bantu sayang..? Biar kamu dapat kepuasan lebih..?"
Aku hanya mendesah mengiyakan dan mulai menjerit kecil saat Rio
menggigit pelan putingku, dimainkannya satu persatu. Dihisap pelan,
dimainkan dengan lidah, digigit, dijilat sampai akhirnya kemaluanku
bertambah basah dan ada sesuatu yang mendesak ingin mencapai puncak
kenikmatan. Tubuhku mengejang dan Rio semakin liar meremas kuat
payudaraku. Aku terkulai dan tercapai sudah keinginanku untuk
mendapatkan multi orgasme.
Dua tahun kemudian.
Saat ini aku sudah putus dengan Rio dan aku mempunyai seorang pacar yang
usianya jauh lebih tua dari aku, 9 tahun bedanya. Menurutku dia seorang
laki-laki yang cukup berpengalaman, terutama dalam hal seks, akan tetapi
dia menganggapku anak kecil yang sama sekali belum mengerti tentang
nikmatnya seks. Walaupun aku masih tetap perawan (dengan Rio aku hanya
melakukan oral), tetapiaku benar-benar ingin merasakan nikmatnya
berhubungan badan. Namanya Donnie, aku sangat menyukai tangannya yang
kekar dan pantatnya yang bulat berisi, entah mengapa, aku selalu
terangsang apabila melihat tangan yang kekar dan pantat yang berisi. Aku
ingin sekali dia menyetubuhiku, dan aku berpikir bagaimana caranya dia
tergoda olehku.
Waktu itu hari Minggu, dan kedua orangtuaku sedang bepergian ke luar
kota. Aku tinggal di rumah hanya dengan pembantuku. Aku baru saja bangun
tidur waktu kudengar pembantuku menerima telpon dari Donnie, dan Donnie
mengatakan bahwa dia akan tiba di rumahku 10 menit lagi. Mungkin karena
sudah beberapa hari ini produksi hormonku meningkat, aku merasa
terus-menerus terangsang dan bernafsu sekali. Kuambil baju tidurku
bewarna hitam yang berupa tank top dengan belahan dada rendah dan
transparan, sehingga memperlihatkan payudaraku yang montok dan kenyal,
putingku yang mengeras menonjol keluar seperti sedang mempersiapkan diri
untuk dikulum. Kuganti celana dalamku dengan g-string warna hitam senada
dengan atasannya. Kuoleskan sedikit parfum kesukaan Donnie di belakang
telinga dan belahan dadaku.
Aku berpesan kepada pembantuku, apabila Donnie datang, suruh saja
langsung masuk ke kamarku, karena aku agak sedikit pusing. Aku kembali
berbaring di atas tempat tidur, menutup kembali selimutku dan
berpura-pura tidur sambil menunggu kedatangan Donnie. Tidak lama
kemudian dia datang. Setelah pembantuku menyampaikan pesanku, kudengar
perlahan-lahan dia masuk ke dalam kamarku. Bau harum menyegarkan dan
merangsang datang dari tubuhnya, dia duduk di pinggir ranjang sambil
membelai kepalaku dan membisikkan sesuatu di telingaku.
"Hi, Honey.. Kata bibi kamu sakit..? Pusing kenapa Sayang..?" katanya
pelan dan manis sekali.
Aku menggelinjang dan membalikkan tubuhku menghadap dia. Sekilas sempat
kulihat dia menelan ludah karena pahanya tersenggol oleh payudaraku,
kusandarkan kepalaku di pahanya dan kutarik sedikit selimutku ke bawah,
sehingga dia dapat melihat jelas gundukan dua bukit putih dan kenyal
milikku. Kupeluk pinggangnya sehingga posisi wajahku menghadap ke perut
dan kemaluannya, lalu kemudian aku bangkit dan duduk di pangkuannya.
Kupeluk lehernya, kubisikkan di telinganya dengan desahan nafasku yang
hangat, "Aku pusing karena kamu nggak dateng-dateng.."
Donnie membalas pelukanku dengan erat, diciuminya pundak dan leherku
sambil berbisik, "Mmmh, kamu sexy sekali, baumu sungguh merangsang, kamu
tau aku paling nggak bisa tahan kalo kamu pake parfum ini.. Nanti kalo
aku nggak tahan gimana..?"
Aku mengeratkan pelukanku dan menempelkan payudaraku ke dadanya sambil
kugesek-gesekkan, kucium belakang telinganya, kujilat lehernya.
"Kalo nggak tahan, ya dikeluarin ajaa.. aahh..!"
Aku mengubah posisiku menjadi menghadap ke arahnya dengan kedua kakiku
menjepit pinggulnya. Kuremas rambutnya yang hitam, semerbak wangi
kelelakiannya membuat kemaluanku berdenyut-denyut. Donnie mengangkatku
dan menidurkanku di atas ranjang, dia menciumi dadaku, membuka tali tank
top-ku dengan mulutnya satu persatu, menyembullah payudaraku. Dia mulai
menghisap dan menjilat putingku, sementara tangan yang satunya meremas
payudaraku yang satunya.
"Ouch.., Donnie.. aku paling terangsang kalo putingku dikerjain, aku
bisa lakukan apa saya yang kamu minta, asal jangan berhenti menjilat dan
menghisap putingku.. Ahh.. Ssshh..!"
Donnie semakin bernafsu mendengar kata-kata dan eranganku, kemaluannya
sudah mulai mendesak dari celananya, kurasakan hal itu dan aku pun tidak
tahan untuk tidak memegang kemaluannya. Kubuka resleting celananya dan
kumasukkan tanganku ke dalamnya, kurasakan cairan hangat di ujung kepala
penisnya dan hangat batangnya, dia mengerang nikmat sambil menggigit
puting payudaraku. Setelah itu dia menciumi seluruh tubuhku hingga aku
terangsang hebat.
Dia memang sangat berpengalaman dalam hal ini, setelah itu aku berpindah
ke depan kemaluannya dan mulailah aku melakukan aksiku membuat lelaki
tergila-gila. Kucium ujung penisnya, kujilat cairan yang terasa gurih,
kumasukkan kepala penisnya ke dalam mulutku, kuhisap-hisap dan kumainkan
dengan lidahku. Donnie masih meremas dan memilin-milin putingku sambil
mengerang nikmat, kumasukkan lagi penisnya lebih dalam ke dalam mulutku
sambil kukocok-kocok dengan mulutku naik turun. Pertama perlahan,
semakin lama semakin cepat. Donnie semakin kuat meremas payudaraku dan
kemudian dia menarikku ke atas tubuhnya.
Donnie melepas celana dalamku dan aku duduk di atas kemaluannya,
kugesek-gesekkan vaginaku di atas penisnya sambil menggoyang-goyangkan
tubuhku dan meremas serta memainkan putingku. Aku mengerang, dan Donnie
tampaknya sudah sangat terangsang oleh gerakan tubuhku. Dia duduk dan
diangkatnya aku hingga penisnya berdiri dan siap menusuk ke liang
kemaluanku.
Aku memeluknya dan membisikkan, "Honey, I'm still virgin, so do it
smoothly, because I want to feel the excitement.."
"Sure, sweetheart.. I'll do this very, very gently so you won't forget
this moment.."
Perlahan dia mulai memasukkan batang penisnya, terasa sempit sekali dan
terasa panas, akan tetapi karena didorong oleh nafsuku yang sudah tidak
tertahankan dan Donnie melakukannya dengan sangat berhati-hati, lama
kelamaan seluruh batang penisnya telah masuk ke dalam liang vaginaku dan
terasa nikmat sekali. Ouch.., Donnie mulai menggerak-gerakkan pantatnya
yang sexy dan aku mulai menggoyang-goyangkan pinggulku. Cairan yang
keluar dari kemaluanku memang sangat membantu, terasa sempit, menjepit
namun tidak sakit. Donnie semakin cepat menggerakkan penisnya, maju dan
mundur. Aahh, rasanya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, terlalu
nikmat untuk diucapkan. Peluh membasahi kedua tubuh kami, hawa dingin
yang keluar dari AC sudah tidak dapat mendinginkan kami yang sedang
dibakar gairah.
Sambil menggoyangkan tubuhnya, Donnie kembali menghisap puting
payudaraku dan membuatku gila. Rasanya aku tidak ingin dia melepaskan
hisapannya. Kupeluk dia dan kujilat lehernya, kukulum bibirnya sambil
mengerang nikmat.
Donnie membisikkan sesuatu padaku, "Rubah posisi yuk, sayang.. Aku yakin
dengan posisi ini kamu bakalan ketagihan make love.."
Donnie kemudian mengangkat dan memutar tubuhku, sehingga aku
membelakanginya, dia melakukan dogie style yang pada saat itu aku belum
pernah membayangkan sampai kesitu.
Donnie kembali memasukkan batang penisnya ke vaginaku dan maju mundur,
dari perlahan hingga semakin cepat. Pengalamanku kali ini luar biasa,
belum pernah aku merasakan kenikmatan yang seperti ini. Memang betul
kata Donnie, ini akan membuatku ketagihan. Semakin cepat
Donniemenggerakkannya, semakin aku terangsang dan merasakan sesuatu
kenikmatan luar biasa yang berbeda dengan yang kurasakan pada waktu
masturbasi maupun oral.
Donnie memelukku dari belakang, meremas payudaraku dan membisikkan,
"Ahh.. aku mau keluar.. kamu luar biasa, kamu bisa membuat aku begitu
terangsang dan aku nggak mau kehilangan kamu.. ahh.. ahh.. ahh.."
Bersamaan dengan keluarnya mani Donnie, aku pun merasakan yang sama,
cairan hangat milik Donnie membasahi vaginaku. Bau khas kejantanan itu
menyetuh penciumanku. Aku mengatakan bahwa aku tidak menyesal melakukan
hal ini, karena ini timbul dari keinginanku, tetapi Donnie mengatakan
berulang kali bahwa dia tidak mau kehilangan diriku.
Setahun kemudian.
Aku berpisah dengan Donnie, karena aku tertarik dengan lelaki lain. Aku
tidak mau menghianati Donnie dengan melakukan affair, oleh karena itu
kuputuskan Donnie. Apabila Anda tertarik untuk mengikuti pengalaman saya
selanjutnya, stay tune di situs 17Tahun.
|
|
|
|