|
Wanita Indonesia 2: Yuni |
Aku mengenalnya pertama kali ketika nunggu bus di sebuah sudut Jakarta.
Tiba-tiba saja turun hujan. Aku hari itu memang sudah sedia payung lipat
karena waktu berngkat dari rumah kulihat langit sudah gelap. Kubuka
payungku dan kulihat seorang gadis, masih muda, berlari menembus hujan.
Kusambut saja dia dengan payungku dan kami berpayungan bersama. Selama
berpayungan bersama kami hanya saling berdiam saja. Akhirnya kami
berteduh di bawah emperan toko.
"Iiih, laki-laki kok bawa payung, tumben-tumbennya ada laki-laki takut
hujan" katanya.
"Bukannya berterima kasih, malahan mencela. Coba kalau tadi aku nggak
bawa payung kamu udah basah kuyup" kataku tanpa merasa tersinggung.
Biarin aja orang mau ngomong apapun, nggak efek bagiku. Tapi aku sendiri
heran juga kok tumben memang aku mau bawa payung. Biasanya cuek aja.
"Mau kemana?" tanyaku.
"Pulang ke Grogol" jawabnya.
Kutanya namanya, kudengar dia jawab bahwa namanya Yuli. Akhirnya
angkutan yang ditunggunyapun datang. Akupun pulang ke rumah. Beberapa
hari kemudian di tempat yang sama kembali aku bertemu dengannya.
"Hai, masih ingat aku?" tanyaku.
"Masih. Mana payungnya, kok nggak dibawa?" jawabnya.
"Ah, hari panas gini kok".
"Baru pulang Yul?"
"Namaku Yuni, bukan Yuli".
"Kemarin Yuli, sekarang Yuni besok apa lagi," olokku.
"Kamu aja yang budi, dari dulu juga namaku Yuni, kadang juga dipangil
Ike".
Dari tadi suaranya datar, cenderung ketus. Kuajak Yuni untuk makan Soto
Betawi di seberang jalan.
"Buru-buru Yun? Makan dulu yuk!" ajakku.
"Boleh, tapi kamu yang traktir".
"Jangan kuatir".
Akhirnya kami masuk ke dalam warung tenda Soto Betawi. Kupesan dua porsi
tapi dia menolak.
"Aku nggak usah, masih kenyang. Aku minum es teh saja".
"Ya sudah. Bang sotonya satu es tehnya dua," kupesan pada si abang
tukang soto.
Kami duduk berhadapan dipisahkan oleh meja kecil untuk 4 orang. Aku
makan dengan cepat dan kemudian mulaiminum es teh tadi. Karena mejanya
kecil lutut kami bisa saling beradu. Tiba-tiba Yuni menggoyangkan
lututnya agak keras.
"Kenapa?" tanyaku.
"Orang di belakangmu dari tadi lihatin aku terus".
"Biarin aja, mata dia sendiri aja"
Kedua lututnya kemudian menjepit salah satu kakiku. Aku agak terkejut
juga.
"Pijitin dong," kataku.
"Mau? Jangan di sini," katanya sambil mengedipkan mata.
Alamak, apalagi yang terjadi setelah ini?
"Jadi di mana?" pancingku lagi.
"Di hotel saja" sahutnya berbisik.
Kutatap dia, seolah-olah tak percaya dia ngajak check in.
Aku segera selesaikan makan, bayar dan keluar dari warung. Laki-laki
yang dibilangnya tadi ngelihatin terus masih curi-curi pandang ke Yuni.
Kami berjalan menuju hotel dekat tempat kami makan tadi. Sambil jalan
kubisikkan di telinganya "Pakai kondom?"
"Terserah aja," jawabnya.
Aku hampir tidak pernah pakai kondom, apalagi nawarin teman kencanku
untuk pakai kondom dalam bercinta. Entah kenapa, atau mungkin kasihan
aja kepada Yuni makanya kutawarkan pakai kondom. Sambil jalan kucoba
cari-cari apotik atau toko obat, tapi nggak ada sampai kami tiba di
hotel.
Begitu masuk kamar, aku ke kamar mandi dan membersihkan senjataku. Yuni
berbaring di ranjang. Aku keluar dari kamar mandi dan Yuni menatapku. Ia
berdiri dan segera melepas pakaiannya sampai ia telanjang bulat. Akupun
kemudian melepas pakaianku dan berbaring di sampingnya.
"Mas ini orang mana sih, kok bulunya banyak sekali?" tanyanya.
"Jawa asli 100%," kataku.
"Ada turunan Arab atau India kali ya?" selidiknya lagi seperti tak
percaya dengan jawabanku.
"Kamu kerja di mana Yun?"
"Di Pasar Minggu".
"Kok mau ke Grogol lewat sini?"
"Iya, sekaligus mampir tempat bapakku kerja"
Setelah ngobrol beberapa saat aku tahu ternyata dia berasal dari Riau,
umurnya sedikit di bawahku. Pada saat ini aku dapat mengamati dia dengan
lebih teliti. Tingginya kutaksir 150 cm, kulitnya kuning kecoklatan,
agak kurus. Rambutnya lurus sebahu, matanya kecil dan dadanya cukup
besar untuk ukuran dia.
"Nggak usah mandi ya" kataku.
"Nggak usah, nanti aja. Nanti aja sekalian" katanya.
"Oh ya, katanya tadi mau pijitin saya," kataku menggodanya sambil kuubah
posisi tubuhku tengkurap.
Yuni merapat padaku dan tangannya mulai memijit tubuhku. Keras juga
pijitan tangannya. Ia mulai memijit dari kaki, kemudian paha, tangan,
kepala dan punggungku.
"Udahan, sekarang mana lagi yang mau dipijit?" tanyanya menantang.
"Depan ini belum dipijit," kataku.
Aku membalikkan badan dan Yuni segera menerkamku dengan ciuman yang
ganas. Aku membalas dengan tak kalah ganas. Kecil-kecil nafsunya besar
juga nih anak. Bibirnya bergeser ke bawah dan ia mencium dan menjilat
leherku. Aku menggelinjang nikmat.
Napas kami mulai memburu. Sambil menciumi dan mengecup dadaku, Yuni
memelukku erat. Kulihat buah dadanya yang kenyal dan padat dihiasi
dengan puting kecil yang berwarna merah muda menantangku untuk segera
mengulumnya. Payudara sebelah kanan kusedot dan kukulum, sementara
sebelah kirinya kuremas dengan tangan kananku. Tangan kiriku
mengusap-usap ppipnya dengan lembut. Yuni mengerang dan merintih ketika
putingnya kugigit kecil dan kujilat-jilat.
"Ououououhh.. Nghgghh, Mas.. Ouuhh.. Mas Anto"
Payudaranya kukulum habis sampai semuanya masuk ke mulutku. Yuni
menjilati telingaku. Akupun terangsang hebat. Meriamku sudah mengeras
siap untuk maju dalam pertempuran yang dahsyat.
Yuni melepaskan diri dari pelukanku dan kini ia menjilati dan menciumi
tubuhku. Dari leherku bibirnya kemudian menyusuri dadaku, dan ".. Oukhh,
Yuni.. Yachh.. " aku mengerang ketika mulutnya menjilati putingku.
Kutolak tubuhnya karena tak tahan dengan rangsangan yang diberikan pada
putingku dan kemudian kugulingkan ke samping.
Bibirku menyambar bibirnya. Kudorong lidahku menggelitik mulutnya.
Lidahku kemudian disedotnya. Tangannya menjelajah ke selangkanganku dan
kemudian mengocok meriamku. Meriamku semakin tegang dan besar.
"Puaskan aku, Mas. Bawa aku dalam lautan kenikmatan.. " ia memekik.
Tidak lama kemudian tangannya memegang erat meriamku dan kurasakan
pantat dan pinggul Yuni bergerak-gerak menggesek meriamku. Kepala
meriamku kemudian masuk ke dalam lubang kenikmatannya. Terasa sempit dan
basah.
"Akhh.. Oukkhh" Yuni mendongakkan kepalanya dan memberikan kesempatan
kepadaku untuk menjilati lehernya yang tepat di depanku. Ia memutarkan
pantatnya dan dengan tusukan keras akhirnya semua batang meriamku sudah
terbenam dalam vaginanya.
Pinggulku bergerak maju mundur menimba kenikmatan. Kadang gerakanku
kuubah menjadi ke kanan ke kiri atau berputar berlawanan dengan arah
putaran pantatnya. Sesekali gerakanku agak pelan dan kugantung
selangkanganku. Pantatnya naik agak tinggi sehingga kepala meriamku
berada di bibir guanya dan kemudian dengan cepat kuturunkan pantatku
hingga seluruh batang meriamku tenggelam ke dalam liang nikmatnya
Punggungnya naik dengan bertopang pada sikunya. Kuisap puting buah
dadanya yang sudah mengeras. Gerakanku menjadi semakin liar dan berat.
Tangannya kini memeluk punggungku dan dadanya merapat pada dadaku.
Tangannya meremas dan menjambak rambutku, mulutnya merintih dan
mengerang keras.
"Anto.. Ouhh Anto, aku mau nyampai, aku mau kelu.. Ar"
"Sshh.. Shh"
"Anto sekarang ouhh.. Sekarang" ia memekik. Tubuhnya mengejang rapat
diatasku dan kakinya membelit kakiku. Mulutnya mencari-cari mulutku dan
kusambar agar ia tidak merintih terlalu keras lagi. Vaginanya berdenyut
kuat sekali. Akupun merasakan akan menggapai kenikmatan dan kutekan
pantatku ke bawah dengan keras hingga meriamku mentok.
"Akhkhkh Yuni.. Terimalah tembakanku," kumuntahkan cairan maniku ke
dalam vaginanya. Terasa banyak sekali dan meleleh keluar menetes di
sprei.
Tubuhku melemas di atas badan Yuni. Keringat kami bagaikan diperas,
menitik di sekujur tubuh. Kemaluanku yang masih menegang kubiarkan tetap
di dalam vaginanya sampai akhirnya mengecil dan terlepas sendiri.
Akhirnya kami bangun setelah napas kami menjadi teratur. Kami masuk ke
dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Kami pulang menuju rumah
masing-masing. Karena sudah agak malam dan angkutan umum sudah jarang,
maka kuberikan ongkos taksi untuk Yuni. Kami janjian untuk ketemu
seminggu lagi.
Seminggu kemudian kami sudah ada di dalam kamar hotel. Kini aku sudah
menyiapkan kondom sebelumnya. Begitu masuk ke dalam kamar, Yuni langsung
memelukku dan menciumiku dengan ganasnya. Tangannya dengan cekatan
mempreteli baju kemudian celana dan sekaligus celana dalamku. Setelah
itu kemudian ia membuka pakaiannya sendiri dengan cepat. Tangannya sudah
mengembara ke selangkanganku, meremas, mengurut dan mengocoknya.
Perlahan namun pasti meriamku semakin membesar dan mengeras. Kami masih
berciuman dan memagut leher.
Kami mulai terangsang dan tubuh kami mulai hangat. Detak jantung mulai
cepat dan napas menjadi berat. Kududukan dia di atas meja di dalam
kamar. Kini kami lebih leluasa mengeksplorasi tubuh kami. Tangannya
masih juga bermain di bawah perutku. Tanganku meremas payudaranya,
memilin putingnya. Kutarik pantatnya sedikit ke depan sehingga posisinya
berada di bibir meja. Dengan bantuan tangannya kucoba memasukkan penisku
ke vaginanya dalam posisi aku berdiri. Ia menggerak-gerakkan pantatnya
untuk membantu usahaku. Digesekkan kepala penisku pada bibir vaginanya.
Setelah cukup pelumasan ia berbisik, "Dorong Mas.. Dorong".
Kudorong pantatku dengan pelan dan akhirnya batang meriamku bisa masuk
dengan lancar ke dalam guanya. Dalam beberapa saat kami masih bertahan
pada posisi berdiri. Kakiku sudah mulai gemetar menahan tubuhku.
Kuangkat tubuhnya kemudian kugendong berjalan ke arah ranjang. Uuppss..
Sayang penisku terlepas. Kudorong dia sambil tetap berpelukan dan
berciuman ke kamar mandi. Sampai kamar mandi kulepaskan pelukanku dan
kami membersihkan milik kami masing-masing terlebih dahulu untuk
melanjutkan permainan berikutnya yang lebih panas.
Kubopong tubuhnya yang mungil dan kuhempaskan ke ranjang. Sebentar
kemudian kami kembali bergumul untuk saling memberi dan menerima
kenikmatan. Yuni berada di atas tubuhku. Kepala Yuni ke bawah, ke perut
dan terus ke bawah. Digigitnya meriamku dengan gigitan kecil di
sepanjang batangnya.
Yuni memandangku dan aku menarik buah zakarku sehingga batang penisku
juga tertarik dan berdiri tegak menantang. Aku memberi isyarat ketika
kepalanya ada di atas selangkanganku. Kepalanya kemudian bergerak ke
bawah. Ia mengisap-isap kepala penisku dan menjilatinya.
Tiba-tiba tubuhku seperti kena sengatan listrik ketika lidah Yuni
menjilat lubang kencingku. Kulihat Yuni dengan asyiknya menjilat,
menghisap dan mengulum kepala meriamku. Ia tidak memasukkan seluruh
batang penisku ke dalam mulutnya, melainkan hanya kepala penisku saja
yang menjadi areal kerjanya.
Kutarik tubuhnya dan kini kutindih. Yuni memelukku dan menciumi daun
telingaku. Aku merinding. Dadanya yang kencang dan padat menekan dadaku.
Kucium bibirnya dan kuremas buah dadanya.
"Ouhh ayo Mas.. Aku.. Masukkan Mass.. Ayo masukkan.. "
Aku menurunkan pantatku dan segera penisku sudah tengelam dalam
lubangnya.
"Mass.. Enak sekali Mas Anto, aku.. Oukhh"
Ia memekik kecil, lalu kutekan kemaluanku sampai amblas. Tangannya
mencengkeram punggungku. Tidak terdengar suara apapun dalam kamar selain
deritan ranjang dan lenguhan kami.
Kucabut kemaluanku, kutahan dan kukeraskan ototnya. Pelan-pelan
kumasukkan kepalanya saja ke bibir gua yang lembab dan merah.
Yuni terpejam menikmati permainanku pada bibir kemaluannya.
".. Hggk.. ". Dia menjerit tertahan ketika tiba-tiba kusodokkan
kemaluanku sampai mentok ke rahimnya.
Kumaju mundurkan dengan pelan setengah batang sampai tujuh kali kemudian
kusodokkan dengan kuat sampai semua batangku amblas. Yuni menggerakkan
pinggulnya memutar dan naik turun sehingga kenikmatan yang luar biasa
sama-sama kami rasakan. Kejantananku seperti dipelintir rasanya. Kusedot
payudaranya dan kumainkan putingnya dengan lidahku.
Yuni seperti orang yang mau berteriak menahan sesuatu menikmati hubungan
ini. Ia memukul-mukul dadaku dengan histeris.
"Auuhkhh.. Terus.. Teruskan.. Mass Anto.. Enak sekali.. Ooh"
Kini kakiku menjepit kakinya. Ternyata vaginanya nikmatnya memang luar
biasa, meskipun agak becek namun gerakan memutarnya seperti menyedot
penisku.
Aku mulai menggenjot lagi. Yuni seperti seekor singa liaryang tidak
terkendali. Keringat membanjiri tubuh kami. Kupacu Yuni mendaki lereng
terjal penuh kenikmatan. Kami saling meremas, memagut, dan mencium.
Kubuka lagi kedua kakinya, kini betisnya melilit di betisku. Matanya
merem melek. Aku siap untuk memuntahkan peluruku.
"Yuni, aku mau keluar.. Sebentar lagi Yun.. Aku mau.. ".
"Kita sama-sama Mas, Ouououhh.. ". Yuni melenguh panjang.
Sesaat kemudian.., "Sekarang Yun. Ayo sekarang.. Ouuhh", aku mengerang
ketika peluruku muntah dari ujung rudalku.
"Mas Anto.. Agghh" kakinya menjepit kakiku dan menarik kakiku sehingga
kejantananku tertarik mau keluar.
Aku menahan agar posisi kemaluanku tetap dalam vaginanya. Matanya
terbuka lebar, tangannya mencakar punggungku, mulutnya menggigit dadaku
sampai merah. Kemaluan kami saling membalas berdenyut sampai beberapa
detik. Setelah beberapa saat kemudian keadaan menjadi sunyi dan tenang.
Kami membersihkan diri dan check out dari hotel.
*****
Aku menggauli Yuni sampai lima kali dan setelah itu tidak pernah bertemu
lagi. Dulu aku pernah minta nomor telepon kantornya tapi dia tidak mau
memberikannya. Entah apa alasannya. Sampai sekarang aku tak pernah
bertemu lagi dengan dirinya, meskipun kadang-kadang aku masih nongkrong
di tempat biasa kami bertemu.
|
|
|
|