|
Wanita Indonesia 3: Rina |
Kali ini saya akan menceritakan kisah hubunganku dengan Rina, gadis dari
Bukittinggi. Kami ketemu ketika aku nongkrong di salah satu Studio 21 di
Jakarta. Setelah lihat poster film yang akan diputar kurasa aku nggak
tertarik untuk nonton hari ini. Di sebelahku ada seorang wanita muda
yang juga sedang melihat-lihat poster film. Dari raut mukanya
kelihatannya dia juga tidak tertarik.
"Mau nonton Mbak?" tanyaku
"Rencananya sih, tapi filmnya kurang bagus menurutku, dan yang dua lagi
saya udah nonton," jawabnya.
Kami berdua duduk di lobby dan mendiskusikan film yang sedang diputar,
When a Man Loves a Woman. Boleh juga wawasan dan ulasannya. Karena film
sudah diputar dan pintu studio akan ditutup, kami berdua keluar dari
studio.
"Kemana sekarang Mbak?" tanyaku.
"Jalan-jalan aja, lagi males di rumah," jawabnya.
"Boleh dong ikutan. Mbak jangan takut, aku orang baik-baik kok"
"Nggak pa-pa, malah senang ditemenin dan ada pengawal. Mas ini anggota
ya?" tanyanya.
Memang karena perawakanku yang tegap aku sering disangka sebagai tentara
atau polisi. Tapi aku selalu jujur kalau ditanya demikian.
"Anggota apa? Kalau anggota masyarakat betul, tapi kalau militer bukan
kok. Dulu pernah ikut tes tapi nggak lulus".
"Habis badannya tegap begitu".
Akhirnya kami berputar-putar saja di mall yang ada di dekat situ. Habis
berputar-putar kami singgah di sebuah kafe dan minum di sana. Sambil
ngobrol kuamati wanita di depanku ini. Badannya OK, sintal dan montok,
kulitnya kuning langsat.
Dalam setiap percakapan selalu kupanggil dia dengan sebutan "Mbak".
"Eh, aku bukan orang Jawa, panggil saja namaku, Rina, atau kalau mau
panggil Uni Rina," ia memprotes. Akhirnya kupanggil namanya saja.
Panggilan Uni rasanya kurang familiar di lidahku.
Aku tidak berani memancingnya untuk melakukan hal-hal yang lebih jauh
mengingat cerita kota asalnya yang penduduknya terkenal taat. Namun
memang kalau lagi rejeki, ada saja jalannya. Waktu dia buka tasnya,
mengambil sesuatu tiba-tiba dompetnya terjatuh ke lantai. Dia membungkuk
mengambilnya. T-shirt yang dipakainya sedikit membuka tanpa disadarinya.
Aku yang memperhatikannya langsung saja seperti terkena aliran listrik.
Buah dadanya yang besar dan putih, terbungkus bra dengan model cup yang
hanya menutup puting, menggantung seolah minta dipetik. Dia masih belum
sadar kalau aku memperhatikan ke balik t-shirtnya sampai dia tegak
kembali. Aku masih termangu-mangu menikmati pemandangan yang baru saja
kulihat.
Rina menggoyangkan tangannya di mukaku.
"Eh, bangun.. Bangun. Ada kebakaran," katanya mengejutkanku.
Aku tersentak dari lamunanku. Dia tertawa kecil.
"Jangan melamun, nanti keterusan," katanya lagi. Dipegangnya tanganku.
Aku semakin panas dingin. Digesernya tempat duduknya ke sampingku. Tak
sengaja sikuku menyentuh dadanya yang kenyal. Mukaku agak merah,
sementara dia diam saja.
"Sorry Rin, nggak sengaja," kataku meminta maaf.
"Aku tahu kok, kalau sampai sengaja namanya kurang ajar. Tapi kalau mau
boleh lagi kok. Lagian daripada ngelamun lebih baik cari pengalaman,"
katanya pelan sambil mukanya berpaling ke arah lain. Haah! Aku seakan
tak percaya dengan ucapannya. Otakku mulai menganalisa peluang yang bisa
kutangkap.
"Bener nih nggak mau. Kalau mau ayo kita cari tempat yang aman.
Jangankan kau senggol, lebih dari itupun ayuk saja," ia mengerling ke
arahku dan lidahnya memainkan bibirnya.
"Tarik Mangg!!" sorakku dalam hati.
Tanpa buang waktu lagi kami naik taksi dan menuju sebuah hotel yang
cukup bersih. Kami berdua berbaring di atas ranjang. Rina berada di
sebelahku, menatapku lalu mendekatkan mukanya ke mukaku dan menciumku.
Aku membalas perlahan. Kuremas dadanya dari luar kausnya. Ia naik ke
atas tubuhku.
"Ouw.. Mulai nakal tangannya ya!" bisiknya.
Rina terus menciumiku sambil melepas t-shirtnya. Kemudian tangannya
menarik kaus yang kukenakan dan melepas lewat kepalaku. Ia membelai
dadaku dan mengusapkan bibirnya pada bulu dadaku.
Bibirnya ke bawah dan sudah sampai di leherku. Kuciumi telinganya dan
kuhembuskan napasku dekat telinganya. Ia menggelinjang geli sekaligus
nikmat. Debaran di dada meningkat. Ia terus menciumi dadaku. Kurasakan
buah dadanya yang tadi sempat kuintip menekan dadaku. Kenyal dan padat
dibungkus bra hitam. Onde mandeh, indah sekali.
Tangan kanannya ke bawah, membuka ikat pinggangku, melepas kancing
celana dan menarik ritsluiting dan kemudian menariknya ke bawah. Aku
mengangkat pantatku untuk membantu memudahkan tangannya membuka
celanaku. Kugerakkan kepalaku ke punggungnya dan dengan gigiku kulepas
kait branya. Kuciumi punggungnya yang putih mulus. Tanpa dibuka, dengan
pergerakan kami berdua akhirnya tidak lama branya sudah terlepas sendiri
dan merosot ke ranjang.
Buah dadanya berukuran besar, mungkin 36, terlihat sangat putih, kencang
dan padat dengan bagian ujungnya berwarna kemerahan. Putingnya yang
merah kecoklatan tidak sabar menungguku untuk segera mengulumnya.
Payudara kiri kuisap dan kujilati, sementara sebelah kanannya kuremas
dengan tangan kiriku. Kulakukan demikian berganti-ganti. Tangan kiriku
mengusap-usap rambutnya dengan lembut.
Rina mengerang dan merintih ketika putingnya kugigit.
"Upps.. Lagi Anto. Ououououhh.. Nghgghh, Anto ayo teruskan lagi..
Ouuhh.. Anto"
Payudaranya kukulum habis. Rina menggoyangkan kepalanya dan mencium
leherku sampai ke dekat tengkuk. Akupun sudah tidak tahan. Senjataku
sudah siap untuk masuk dalam pertempuran. Terasa keras dan kepalanya
nongol melewati ban pinggang celana dalamku. Tangannya menurunkan celana
dalamku sampai ke paha dan dilanjutkan dengan jari kaki ia melepas
celana dalamku.
Mulutnya terus bergerak ke bawah dan kini Rina mengisap-isap buah
zakarku dan menjilati batang meriamku. Kupalingkan mukaku ke samping dan
kugigit ujung bantal.
Tiba-tiba secara refleks meriamku mengencang hingga condong mendekati
permukaan perutku ketika lidah Rina mulai menjilat kepalanya.
Kukencangkan otot perutku sehingga meriamku juga ikut bergerak dan
berdenyut-denyut.
"Hmm.. Tidak terlalu besar, rata-rata saja ukurannya tapi keras dan
berdenyut. Pasti luar biasa nikmat," komentar Rina sambil terus
melakukan aktivitasnya. Kuangkat kepalaku dan kulihat Rina sedang asyik
menjilat, menghisap dan mengulum meriamku. Kadang-kadang ia melihat ke
arahku dan tersenyum.
Rina melepaskan kepalanya dari selangkanganku dan tangannya dengan cepat
melepas celana dalamnya sendiri. Bibirnya menyambar bibirku. Kubalas
dengan ganas dan kusapukan lidahku pada bibir dan masuk dalam rongga
mulutnya. Lidah kami kemudian saling memilin dan mengisap. Tanganku
mengembara ke selangkangannya dan kemudian jari tengahku masuk menerobos
liang kenikmatannya sampai menemukan tonjolan kecil di dinding atasnya.
Rina meremas dan mengocok meriamku. Meriamku semakin tegang dan keras.
Kami saling memberikan stimulasi.
"Ouououhhkk.. Nikmat.. Puaskan aku," ia memohon dengan suara tertahan.
Kemudian tangannya mengurut dan menggenggam erat meriamku. Kurasakan
pantat dan pinggul Rina bergoyang menggesek meriamku. Dan tanpa
kesulitan kemudian kepala meriamku masuk ke dalam gua kenikmatannya.
Terasa lembab dan agak kendor. Kurasakan dinding guanya semakin berair
membasahi tonggak pusakaku.
"Akhh Anto ayo kita sama-sama nikmati.. Oukkhh".
Kujilati lehernya dan bahunya. Ia terus menggoyangkan pantatnya sehingga
sedikit demi sedikit makin masuk dan akhirnya semua batang meriamku
sudah terbenam dalam guanya.
Rina bergerak naik turun untuk mendapatkan sensasi kenikmatan. Pantatnya
bergerak maju mundur. Gerakannya berubah dari perlahan menjadi cepat dan
semakin cepat sampai akhirnya dia berhenti karena kelelahan. Ia mengubah
gerakannya menjadi ke kanan ke kiri dan berputar-putar. Pantatnya naik
agak tinggi sehingga hanya kepala meriamku berada di bibir guanya dan
bibir guanya kemudian berkontraksi mengurut kepala meriamku. Tidak
terlalu kuat kontraksi otot vaginanya, hanya sedikit terasa meremas
batang kemaluanku.
Kemudian ia menggesek-gesekkan bibir guanya pada kepala meriamku sampai
beberapa kali dan kemudian dengan cepat ia menurunkan pantatnya hingga
seluruh batang meriamku tenggelam seluruhnya. Ketika batang meriamku
terbenam seluruhnya badannya bergetar dan kepalanya bergoyang ke kanan
dan kekiri. Napasnya terputus-putus.
Kuisap putingnya yang sudah keras. Gerakannya semakin liar dan cepat.
Tanganku memeluk punggungnya dengan erat sehingga tuuh kami merapat
total. Ia juga memeluk diriku rapat-rapat. Kini gerakannya pelan namun
sangat terasa. Pantatnya naik ke atas sampai kemaluanku terlepas, dan ia
menurunkan lagi dengan cepat dan kusambut dengan gerakan pantatku ke
atas. Kembali meriamku menembus guanya. Ia merinding dan menggelepar.
Tangannya meremas rambutku dan mencakar punggungku, punggungnya
melengkung menahan kenikmatan. Mulutnya merintih dengan kata-kata yang
tidak jelas dan mengerang keras.
"Anto.. Ouhh Anto, aku mau dapat, aku tidak tahan mau kelu.. Ar,"
desahnya.
"Sshh.. Shh"
"Anto sekarang ouhh.. Sekarang" ia memekik.
Tubuhnya mengeras, merapat di atasku dan kakinya membelit betisku.
Pantatnya ditekan ke bawah dengan keras dan vaginanya menjadi sangat
basah hingga terasa licin. Tubuh Rina mulai melemas. Keringatnya menitik
di sekujur pori-porinya. Kemaluanku yang masih menegang tetap dibiarkan
di dalam vaginanya.
"Terima kasih jantanku. Kau sungguh hebat sekali. Aku puas dengan
permainanmu. Berikan aku istirahat sebentar, lalu..," ia berbisik di
telingaku.
Kusambar bibirnya dengan bibirku dan kugulingkan ke samping. Penisku
yang memang belum menyelesaikan tugasnya tentu saja masih tegang dan
penasaran.
"Sudahlah sayang, biarkan aku istirahat dulu sebentar saja.. "
Aku tidak menghiraukannya, kini kugenjot vaginanya sampai berdecak-decak
menimbulkan suara yang justru sangat merangsang. Ia hanya pasif dan diam
saja saja menerima gempuranku.
Vaginanya terasa sangat licin dan ditambah lagi kondisi ototnya yang
sudah kendor, maka gerakanku tidak memberikan kenikmatan yang maksimal.
Kucabut penisku dan kuambil handuk untuk mengelap vaginanya supaya agak
kering. Aku naik lagi ke atas tubuhnya. Kembali kuarahkan moncong
meriamku ke sasaran. Kudorong pelan, meleset sampai beberapa kali.
Kuangkat kedua kakinya dan kurenggangkan pahanya. Dengan tenaga penuh
kudorong pantatku. Kini berhasil, dan langsung kugenjot dengan tempo
perlahan saja. Lumayan, dalam keadaan dinding vagina kering begini baru
bisa terasa nikmat.
Rina kembali bangkit nafsunya setelah beberapa menit beristirahat. Iapun
kemudian mengimbangi permainanku dengan gerakan pinggulnya. Diganjalnya
pantatnya dengan bantal sehingga kemaluannya agak naik. Kami berciuman
dengan penuh gairah. Kaki kami saling menjepit dengan posisi silang,
kakiku menjepit kaki kirinya dan kakinya juga menjepit kaki kiriku.
Dalam posisi seperti ini dengan gerakan yang minimal dapat memberikan
kenikmatan optimal, sehingga sangat menghemat tenaga.
Kami makin terbuai dengan gerakan masing-masing. Kini kedua kakinya
menjepit kakiku. Ia memutar-mutar pinggul dan membuat gerakan naik
turun. Aku meremas, memilin serta mengisap payudaranya. Kami bisa saling
memberikan kenikmatan.
"Ouh.. Achch.. Mmmhh.. Ngngngnhhk" Rina mendesah tertahan.
Kugenjot pinggulku naik turun dengan irama tertentu. Kadang cepat kadang
sangat lambat. Setiap gerakanku kubuat pinggulku naik agak tinggi
sehingga penisku terlepas dari vaginanya, lalu kutekan lagi. Setiap
penisku dalam posisi masuk, menggesek bibir vaginanya ia terpekik kecil.
Kakinya bergerak dan kedua kakinya kujepit dengan kedua kakiku. Dalam
posisi begini aku hanya menarik penisku setengah batang saja saja karena
kalau sampai tercabut keluar susah untuk memasukkannya lagi. Namun
keuntungannya jepitan vaginanya jadi sangat terasa.
Kami mengubah posisi lagi, kembali dalam posisi konvensional. Kedua
kakinya kuangkat ke atas bahuku, lututnya menempel pada perutnya. Dengan
bertumpu pada tangan kubiarkan tubuhku melayang tanpa menempel pada
tubuhnya. Sepintas seperti gerakan orang sedang melakukan push-up.
"Rina.. Ouhh nikmat sekali, hebat sekali permainanmu.. "
Kuperkirakan sudah setengah jam kami bercinta, tenaga sudah mulai
berkurang sehingga kuputuskan untuk segera mencapai puncak. Kupercepat
gerakanku dan gerakannya juga semakin liar.
"Ke atas sedikit yang.. Oooh," pintanya. Kuturuti permintaannya. Aku
menggeser tubuhku, sehingga penisku menggesek bagian atas vaginanya.
Gesekan kulit penisku dengan klitorisnya terasa sangat nikmat.
Bunyi deritan ranjang, erangan, bunyi selangkangan dan paha beradu
seakan-akan berlomba. Tubuh kami sudah basah oleh keringat yang
membanjir. Dinginnya udara kamar tak terasa lagi. Kurasakan ada aliran
yang menjalar dalam penisku. Inilah saatnya akan kuakhiri permainan ini.
Rina terengah-engah menikmati kenikmatan yang dirasakannya.
"Rina.. Rin sebentar lagi aku mau keluar.. "
Gerakanku semakin cepat hingga seakan-akan tubuhku melayang. Lututku
mulai sakit.
"Ayolah Anto aku juga mmau kkel.. Uar. Kita sama-sama sampai".
Ketika kurasakan aliran pada penisku tak tertahankan lagi maka
kurapatkan tubuhku ke tubuhnya dan kulepaskan kakinya dari atas bahuku.
Kakinya mengangkang lebar. Kuhunjamkan pinggulku dalam-dalam sambil
memekik tertahan.
"Rina.. Ouh .. Sekarang.. Sekarang".
"Ouh Anto aku.. Juga.. Keluar".
Kakinya membelit kakiku, kepalanya mendongak dan pantatnya diangkat.
Kurasakan denyutan dalam vaginanya sangat kuat. Kutembakkan laharku
sampai beberapa kali. Giginya dibenamkan dalam di dadaku sampai terasa
pedih. Napas kami masih tersengal-sengal, kucabut penisku dan
menggelosor di sampingnya. Tangannya memeluk lenganku dan jarinya
meremas jariku.
"Anto aku masih mau lagi, kita habiskan malam ini bersama-sama. Ayolah,
kumohon.. Pleasse!" ia memintaku.
"Sorry Rin, jangan malam ini. Bukannya aku tidak mau, tapi besok
pagi-pagi aku akan keluar kota selama beberapa hari. Nanti aku akan
memuaskanmu setibanya dari luar kota," aku mengelak.
Rasanya badanku sangat lelah sehingga jika kuturuti permintaannya aku
merasa tidak mampu lagi menandinginya. Rina kelihatan agak kecewa namun
dia bisa menerima alasanku. Kami masuk kamar mandi, berpelukan dan
berendam air hangat bersama-sama di bath tub sampai rasanya mau
tertidur. Kemudian kami saling membersihkan tubuh masing-masing. Setelah
berpakaian kukecup bibirnya, dia membalasnya dengan bernafsu, tapi
kudorong tubuhnya dengan halus.
"Sudahlah Rin, nanti saja kita habiskan waktu kita bersama-sama
sepanjang hari," rayuku.
*****
Kami keluar dari hotel dan berpisah di jalan dengan janji untuk bercumbu
lagi setelah kembali dari luar kota.
|
|
|
|