|
Wanita Indonesia 6: Della |
Aku pulang dari Balikpapan setelah berada di sana selama tiga minggu untuk
urusan kantor. Aku tidak dapat pesawat yang langsung ke Jakarta, jadi
terpaksa naik pesawat terakhir yang transit di Surabaya. Karena badan
terasa lelah sekali, begitu pesawat take off aku langsung tertidur lelap
dengan melepas seat belt agar lebih nyaman. Aku sudah tidak peduli
dengan penumpang di sampingku. Seorang wanita berumur tiga puluhan.
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara halus.
"Pak, sandarannya ditegakkan dan sabuknya dipasang. Sudah mau landing"
Ternyata suara pramugari mengingatkanku. Aku setengah terkejut dan
kesadaranku masih belum pulih ketika roda pesawat sudah menyentuh
landasan. Setelah pesawat berhenti baru aku sadar sepenuhnya. Kemudian
awak kabin mengumumkan pesawat akan transit selama 45 menit dan
penumpang dipersilakan untuk turun menunggu di rung tunggu bandara
Juanda.
Karena aku duduk di dekat jendela, maka aku menunggu wanita tadi keluar
dari bangkunya. Aku mengikuti barisan penumpang yang turun dan tak lama
aku sudah berada di ruang tunggu. Wanita tadi duduk di depanku agak ke
menyamping ke kanan. Aku berdiri sebentar dan merentangkan tanganku agar
otot-ototku relaks, lalu duduk lagi. Wanita tadi memperhatikanku sekilas.
Kulempar senyum dan iapun membalas sekedarnya. Kacamata tipis, mungkin
minus satu atau paling banter minus dua bertengger di hidungnya yang
bagus.
Kubaca Matra Edisi Khusus yang kubeli di book store. Liputannya tentang
kehidupan malam sepanjang Bopunjur. Tahu Bopunjur? Bogor, Puncak,
Cianjur. Kubuka-buka sebentar dan sekilas isinya aku sudah tahu. Bahkan
bukan sombong, tempat-tempat yang disebutkan di dalam liputan itupun
bukanlah sesuatu yang asing bagiku. Akhirnya kuletakkan Matra tadi di
atas meja di sampingku. Wanita tadi sekilas memperhatikan covernya.
"Mas, boleh pinjam majalahnya?" ia bertanya sambil mendekat mengambil
Matra tadi.
Sayang, rupanya tempat duduknya kemudian diambil orang yang berdiri dan
mengobrol dengan teman yang duduk di sebelah wanita tadi. Kuturunkan
tasku dari bangku di sampingku dan tanpa disuruh wanita tadi sudah duduk
di situ dan mulai muembuka lembaran majalah yang dipegangnya.
Terdengar pengumuman bahwa pesawat yang kunaiki mengalami gangguan
teknis sehingga pemberangkatan ditunda satu jam. Kudengar gerutuan
sebagian penumpang. Wanita tadi cuma memiringkan kepalanya memperhatikan
pengumuman tadi dan setelah itu ia kembali asyik membaca.
Setelah tigapuluh menit membaca, ia menyerahkan majalah itu kembali
padaku sambil mengucapkan terima kasih. Aku memulai percakapan.
"Ke Jakarta?" tanyaku.
"Iya, untuk tugas dari kantor," jawabnya.
"Di Jakarta tinggal di mana?" tanyaku lagi.
"Belum tahu, sebenarnya saya harus ke Ciawi untuk ikut kursus, tapi
nampaknya kita akan kemalaman tiba di Cengkareng. Aku sendiri belum
hafal Kota Jakarta. Apalagi malam hari. Tadi kalau berangkat siang sih
sebenarnya ada panitia yang jemput. Mau langsung ke Ciawi agak ngeri,
apalagi setelah membaca liputan tadi".
Dari logatnya aku menduga ia berasal dari Banjar. Setelah kutanyakan
kepadanya ternyata benar dan ia sudah bekerja di Balikpapan selama lima
tahun. Aku tidak menanyakan statusnya. Buat apa pikirku. Toh aku tidak
berniat memacarinya.
"Kerja di mana sih?" Pertanyaanku mulai menjurus hal-hal yang personal.
"Saya apoteker".
"Pantas bajunya bau obat," aku kelepasan bicara. Aku baru sadar
setelahnya. Ia melengos mukanya memerah, mungkin tersinggung dengan
ucapanku tadi.
Satu jam berlalu dan kulihat ia menjadi gelisah sambil terus-menerus
memandang keluar, ke arah landasan. Akhirnya setelah seperempat jam
kemudian pesawat kami sudah siap melanjutkan penerbangan dan para
penumpangpun naik ke pesawat.
Lima puluh menit kemudian pesawat sudah tiba di Cengkareng. Karena tidak
bawa bagasi, aku bergegas keluar. Wanita tadi masih menunggu tas satunya
di bagasi. Aku masih berdiri di luar sambil cari-cari taksi ketika
wanita tadi mendekatiku.
"Mas pulangnya kemana?"
"Saya tinggal di Jakarta Timur".
Dia kelihatan ragu hendak mengatakan sesuatu. Aku menduga-duga ini ada
kaitannya dengan tujuan kepergiannya.
"Kalau mau begini saja. Mbak nginap saja di hotel, besok pagi baru
berangkat ke Ciawi. Lebih aman," kataku menyarankan. Kulihat dia
ragu-ragu dan kelihatan seperti sosok yang lemah. Dia menatapku lagi
seakan-akan minta perlindungan.
"OK, jadi begini, Mbak nginap di hotel. Saya akan temani. Eh.. Maksudnya
saya ambil kamar satu juga di sana. Besok pagi saya antar ke Ciawi.
Kebetulan saya masih ada kelebihan hari perjalanan dinas," kataku
memutuskan.
Akhirnya dia setuju dan mukanya menjadi cerah.
"Oh ya maaf, dari tadi kita belum kenalan. Saya Della," katanya sambil
mengulurkan tangan.
"Anto," kataku sambil kujabat tangannya.
Aku berpikir, kalau saja dia tidak memerlukan pertolonganku, mungkin dia
tidak akan mengajak berkenalan. Tapi wajar saja karena dia perempuan.
Beberapa menit kemudian kami sudah sampai di sebuah hotel di kawasan
Matraman. Kami dapat kamar bersebelahan. Kami masing-masing masuk ke
kamar dan berjanji untuk makan di bawah setelah mandi dan merapikan
diri. Setengah jam kemudian kuketuk pintu kamarnya. Tok tok tok.
"Della.. Della. Ini Anto".
"Tunggu sebentar Mas".
Tak lama kemudian ia membuka pintu kamarnya. Kulihat sekilas barangnya
masih berantakan di atas ranjang. Kamipun segera turun ke bawah untuk
mencari makanan. Dengan pertimbangan biaya kuajak dia untuk makan di
warung tenda saja. Di Jakarta tidak ada tempat untuk gengsi.
"Saya dari Balikpapan kepingin makan gudeg setelah sampai di Jawa,"
katanya.
"Ada, nanti kita cari," jawabku sambil menyusuri trotoar.
Jalan sudah mulai lancar, kupegang tangan kanannya. Ia terkejut dan
dengan halus menarik tangannya. Sekilas kulihat jarum pendek sudah
melewati angka sembilan.
"Sorry.. Saya hanya mau lihat jam saja kok". Ia hanya menunduk dan
kamipun terus berjalan.
Setelah makan gudeg, kami kembali ke hotel dan duduk di lobby. Rasa
penat masih terasa di badanku. Aku sebenarnya mau massage, tapi nggak
enak sama Della. Kami masih bicara ke sana ke mari, sampai akhirnya kami
merasa mengantuk. Kulihat jam dinding menunjukkan jam setengah sebelas.
Kami naik dan kuantar dia di depan kamarnya. Kuharap dia mempersilakanku
masuk, namun Della hanya mengucapkan terima kasih kemudian selamat malam
dan menutup pintunya. Sekilas kulihat sorot matanya yang berbinar
memandangku.
Aku masuk ke kamar dan langsung membaringkan diri ke atas ranjang tanpa
membuka pakaianku. Kucoba untuk memejamkan mata, tetapi tidak bisa.
Kubayangkan Della yang tidur sendirian di kamar sebelah. Lebih satu jam
aku hanya bergolek ke kanan kekiri tanpa bisa memejamkan mata. Akhirnya
kuputuskan kuhubungi saja gadis di kamar sebelah ini. Kuraih gagang
telepon dan kutekan nomor kamarnya, 237. Setelah beberapa kali berdering
kemudian dari seberang terdengar suara agak serak,
"Hallo".
"Della, belum tidur kan?"
"Eh.. Mas Anto. Belum Mas, mataku tidak bisa terpejam. Padahal di lobby
tadi sudah menguap terus. Mikirin besok pagi".
"Atau lagi mikirin yang lainnya kali," kataku menggodanya.
"Ahh Mas Anto ini ada-ada saja".
"Kita ngobrol lagi aja yuk," ajakku.
"Sudah malam, nggak enak dilihatin orang nanti".
"Ini Jakarta Non, saya ke kamarmu ya?" kataku dengan nada setengah
memaksa.
"Iya deh," katanya lemah.
Kuketok pintu kamarnya tiga kali dan kemudian pintu dibuka dari dalam.
Aku masuk, kini barangnya gantian berantakan di atas kursi.
"Maaf Mas, berantakan. Belum sempat beresin. Rencananya besok aja
sekalian berkemas. Duduk, Mas!".
Aku mengedarkan pandanganku. Karena sudah tidak ada tempat duduk lagi
maka aku duduk diatas ranjangnya. Kami akhirnya ngobrol tentang
pengalaman kami masing-masing saat masih kuliah. Semakin lama semakin
seru topik obrolan kami. Ia mengeluarkan dua kaleng minuman ringan dari
mini bar. Dan meletakkannya di antara kami.
"Diminum Mas".
Aku mengambil satu kaleng tapi tidak kubuka, hanya kupegang-pegang saja.
Entah bagaimana awalnya, tangannya tiba-tiba sudah kupegang dan kutarik
dia ke pangkuanku. Kucium bibirnya dengan ganas. Della menghindari
ciumanku, tapi aku tidak menyerah. Kucoba lagi, kali ini bibirku
mendarat pas pada bibirnya. Ia meronta sebentar tapi kemudian ia
membalas ciumanku dengan tidak kalah ganasnya.
"Mas.. Ah.. Ehh .. Ouhh," Ia gelagapan membalas seranganku.
Kulepaskan seranganku sebentar karena aku merasa jalan tol sudah terbuka
di depanku, sekarang tinggal tunggu saat yang tepat saja untuk memacu
mobilku. Kutatap dia dengan tajam. Ia kelihatan jengah dan menghindari
tatapanku. Ketika mata kami saling bertemu, aku memberi isyarat dengan
menganggukkan kepalaku. Iapun mengangguk malu dan menundukkan mukanya.
Aku sedikit terkejut ketika sadar bahwa ia tidak mengenakan bra di bawah
kausnya. Aku tahu karena putingnya menonjol, membentuk bayangan satu
titik di kausnya. Aku tersenyum sambil melirik pada payudara Della.
Della hanya tersenyum melihatku, kakinya ditaruh di atas pahaku dan dia
menyodorkan dadanya ke depan mukaku. Tanpa diberi komando aku langsung
meremas payudaranya dengan penuh nafsu. Tanganku kemudian membuka
kausnya. Aku menciumi payudaranya dan menghisap putingnya yang mulai
mengeras. Tangan Della membelai rambutku sambil sesekali mendorongnya ke
payudaranya.
Aku menggunakan jariku untuk membelai daerah selangkangannya, dan jariku
juga mulai menekan terutama di lipatan vaginanya. Tangan Della
digesek-gesekan di penisku yang juga sudah mengeras.
"Aah.. Mas ss.. Enak.. Teruss.. Anto.. Ahh"
Mendengar erangan Della nafsuku sudah tidak dapat ditahan lagi. Aku
merebahkan diri sambil menciumi leher Della dan naik ke bibirnya. Kubuka
celana panjangku. Aku terus menciumnya dengan penuh nafsu, kutindih
tubuhnya diatas spring bed yang empuk. Kulirik bayangan di kaca lemari.
Badanku yang besar seolah-olah menenggelamkan badannya yang mungil.
Sambil mendesah Della tertawa kegelian,
"Ahh.. Nafsu amat sih.."
Kubuka celana pendeknya dan kutarik sekaligus dengan selana dalamnya.
"Akhh.."
Kami saling mengulum bibir dengan penuh nafsu, nafas kami mulai tidak
teratur. Kaki Della menjepit pinggangku Aku menciumi leher kemudian
turun ke payudaranya, lalu aku hisap putingnya. Terus turun dan
menghisap pusarnya, Della tidak tahan diperlakukan demikian,
"Anto.. Akh.. Geli akh..,"
Aku terus menciuminya lalu aku turun dan saat sampai di depan
selangkangannya aku menurunkan kepalaku, menjilati paha dan sesekali
menggigitnya. Dia mengganjal kepalanya dengan bantal dan
memperhatikanku. Ketika mulutku akan menyapu vaginanya ia menarik
kepalaku ke atas dan menciumiku kembali.
"Jangan.. Aku tidak biasa..".
Penisku kuarahkan ke vaginanya yang basah, kutekan perlahan dan saat
sudah masuk setengahnya aku menekan dengan keras.
"Sshh.. Akhh.. Terus To.. Akh..," Della merintih
Bibir kami saling bertautan dengan kuat. Ketika kulepaskan bibirnya yang
justru mencari-cari bibirku. Mulutnya setengah terbuka sambil
mendesis-desis. Aku menggerakkan penisku dengan perlahan dan kadang aku
percepat temponya. Rasanya penisku dijepit dan diremas-remas dengan kuat
oleh otot vaginanya. Dan hal ini membuat aku semakin tidak tahan,
penisku rasanya sudah hampir meledak.
Aku terus memompa penisku di vaginanya dengan tempo yang bertambah
cepat. Nafasku mulai memburu. Payudaranya kuremas dan kupencet sehingga
putingnya bertambah menonjol. Kujilati putingnya dan kugigit-gigit
dengan bibirku. Aku menghnetak-hentakkan tubuh Della ke ranjang dengan
kasar saat aku sudah tidak dapat menahan ledakan penisku,
"Dell Della.. Akh.. Ouch.. Akh..".
Kurasakan tubuh Della juga mulai bergetar dan bergerak-gerak dengan
irama yang liar. Matanya merem melek, bola matanya memutih. Kakinya
menjepit pinggangku. Tubuhku mengejang dan aku menekan tubuh Della
hingga semakin tubuh kami semakin merapat.
"Akh.. Anto.. Nikmat sekali.. Sss"
"Yeah Della.. Akh. Kalau saja dari tadi.. Pasti aku.."
"Akh.. Tekan yang cepat dan kuat.. Akh.."
Mata Della merem melek menikmati sodokan penisku. Aku kemudian
mengangkat kedua kakinya dan memegangnya dengan tanganku. Aku dalam
posisi setengah jongkok dengan tumpuan kedua lututku. Tanganku memegang
pinggangnya dan penisku menekan dengan irama yang semakin cepat.
Vaginanya terasa basah dan becek, namun penisku bagaikan dijepit kuat
dengan tang.
"Akgh Anto.. Aku hampir.. A a kku.. Hampir keluarhh.. Ouchhggakhh,"
Kurebahkan tubuhku diatas tubuhnya dan kupeluk dengan rapat. Aku
menikmati ekspresinya saat Della menunggu mencapai orgasmenya. Kudiamkan
sejenak gerakan penisku. Della memprotes dan tangannya memegang
pinggangku serta menggerakkannya naik turun. Kurasa tensinya sedikit
turun. Aku masih ingin menikmati permainan dan kuharapkan dapat kucapai
puncak bersama-sama.
Aku mengehentakkan pantatku naik turun dengan sedikit kasar. Keringat
kami sudah mulai bercucuran. Tangan Della meremas-remas pantatku dan
kadang menariknya seolah-oleh penisku kurang dalam masuk dalam
vaginanya. Saat aku merasakan hampir meledak aku melambatkan gerakanku
dan mengatur nafasku sambil menghisap putingnya, ketika perasaan itu
sedikit hilang aku mulai bergerak lagi.
Tangannya meremas pundakku dan dengan liar bibirnya mencari bibirku. Dia
mendesah dan gerakannya sangat liar. Aku tahu kini saatnya kami dapat
mencapai puncak kenikmatan tertinggi bersama-sama.
"Yeah.. Anto.. Akhh. Kamu belum mau keluar juga.. Akhh ouchh.."
Della mengejang dia mengangkat pantat menekan penisku sehingga rasanya
sampai di dasar rahimnya dan penisku serasa disedot dengan kuat, tubuh
Della melengkung dan tangannya mengusap pipiku dengan kuat. Kutekan
pantatku perlahan namun penuh tenaga.
"Yeacchchh..".
Tubuh kami menggelinjang dengan hebat, kami berteriak dan tidak perduli
jika ada orang lain yang mendengarnya.
"Akhh.. To.. Anto.. Aakkhh..".
"Della kamu hebataunhh.. Akh.. Ouchhakhh.. Akh.. Ouch.."
Kami mengelepar menikmati kenikmatan yang kami rasakan bersama. Aku
beranjak bangun dari tubuhnya saat penisku sudah mengecil, Tubuhnya
bergetar saat aku mencabut penisku.
"Kau luar biasa Del.. Hmm.. Tabat Barito ya!" pujiku.
Ia tersenyum saja dan menggayut di lenganku, "Kok tahu aja sih..".
Katanya manja.
"Apoteker yang punya obat-obatan lengkappun masih mengandalkan Tabat
Barito. Luar biasa memang," kataku lagi.
Kami tidur berpelukan sampai pagi dan paginya kuantarkan dia ke Ciawi.
Dia berjanji akan menginap lagi semalam di Jakarta dan memberikan lebih
lagi nanti pada saat dia mau pulang ke Balikpapan.
|
|
|
|