|
Wanita Indonesia 7: Yanti |
Masih ingat kisahku dengan Yuni (Wanita Indonesia 2)?
Kisah ini sedikit ada hubungannya dengan tempat dimana aku dulu bertemu
Yuni. Aku kadang-kadang masih nongkrong di tempat dulu aku bertemu
dengannya dengan harapan bisa bertemu dengannya. Saat aku duduk di sana
dan berharap untuk bertemu lagi dengannya, peristiwa ini terjadi.
Selagi duduk-duduk di halte sambil baca koran dan sesekali memperhatikan
sekelilingku, ternyata sudah ada wanita setengah baya duduk di sebelahku.
Kelihatannya baru pulang kerja. Tidak sulit untuk membuka percakapan.
Kusapa dia dan setelah ngobrol beberapa saat aku tahu namanya Yanti,
umurnya empat puluhan, tubuh mungil 155 cm, kulit agak gelap, rambut
tebal agak lurus. Berasal dari Nusa Tenggara Barat, sekarang tinggal di
Ciputat. Secara umum dari keadaan fisiknya paling tinggi kunilai 6,5.
Rasa penasaran dan fantasi tentang kuda Sumbawa yang sangat terkenal
serta iklan khasiat susu kuda liar dari Nusa Tenggara tiba-tiba saja
memenuhi benakku. Dengan memutar otak aku berpikir bagaimana caranya aku
dapat merasakan tubuhnya. Orangnya tidak cantik memang, tapi karena
ingin merasakan sensasi naik kuda Sumbawa aku jadi cari akal untuk
mengarahkan pembicaraan dan membuka jalan.
"Eiihh, lapar juga..", kataku bergumam agak keras seolah-olah berbicara
sendiri.
Ia menatapku sejenak, tanpa mengeluarkan komentar. "Nggak lapar?"
tanyaku padanya.
"Nggak tuh, saya biasanya makan malam nanti setelah jam sembilan malam",
katanya.
"Mau temani aku makan?" kataku memintanya.
Sekilas dia melihat jam tangannya, dan akhirnya, "Boleh, tapi saya tidak
ikut makan".
Kami berjalan ke warung tenda Soto Betawi, tempat aku dulu juga pernah
makan dengan Yuni. Kutawari makan, tetapi kembali dia menolaknya.
"Aku minum sajalah", katanya.
Sambil makan kembali kami ngobrol. Kini aku tahu dia bekerja pada sebuah
hotel berbintang. Aku lupa apa namanya dalam dunia perhotelan, yang
jelas dia bertugas membantu chef untuk menyiapkan pesanan makanan dari
kamar hotel. Aku masih juga berpikir bagaimana mengarahkan pembicaraan
kami, tapi belum ketemu juga caranya.
"Sudah yuk, sudah mulai gelap tuh. Aku mau pulang, takut kemalaman dan
kelihatannya mau hujan", ia mengajak keluar warung setelah kami selesai
makan.
Kami kembali ke halte dan duduk diatas bangku semen. Aku sudah kehabisan
akal bagaimana cara mengajaknya main kuda-kudaan. Aku sudah gelisah.
Akhirnya kuputuskan tembak langsung saja. Untung-untungan. Kalau dapat
ya aku untung, kalau ditolak bahkan didamprat atau dimaki ya buntung.
Paling kalau dimaki, tinggalin pulang saja. Toh dia juga tidak tahu
alamatku, hanya tahu namaku saja.
"Yan, jangan marah ya! Aku mau ngajak kamu check in..", kataku dengan
suara berbisik di dekat telinganya.
Gila juga aku, sudah ngajak orang yang baru kenal untuk check in, bilang
jangan marah lagi. Gambling cing! Ia nampak terkejut. Mungkin shock
mendengar ajakanku. Ia menatapku dengan ekspresi yang sulit untuk
kutafsirkan. Antara kaget, marah dan bertanya-tanya.
"Apa..?" katanya dengan nada tinggi.
"Ke hotel di dekat sini yuk", kataku. Kali ini dengan mantap. Kepalang
basah.
"Nggak, emangnya saya apaan..", katanya tajam sambil menatapku.
Kubalas tatapannya dengan sedikit senyum. Kutunggu reaksi berikutnya. Ia
tidak beranjak dari tempat duduknya. Kepercayaan diriku mulai timbul,
peluang fifty-fifty! Kami saling berdiam diri. Kusenggol lengannya dan
kuajak lagi.
"Ayolah..", rayuku.
"Ti.. Dak..!"
"Ngapain di sini kalau begitu?" kataku memancing agar dia marah.
"Suka-suka orang dong", katanya dengan tenang dan senyum sinis.
"Tuh, mobilnya sudah datang", kataku sambil menunjuk ke arah mikrolet
yang menuju ke arah rumahnya.
"Entar aja. Kenapa sih dari tadi sibuk ngurusin aku terus?" tanyanya
ketus.
Aku diam saja. Tapi melihat situasinya, peluang meningkat jadi 70:30.
Setengah jam lebih berlalu dan kami masih di situ. Berdiam diri dan
memandang ke arah deretan kemacetan lalu lintas di depan kami. Aku
sengaja menunggu sampai dia pulang atau menyerah. Toh pada jam-jam
begini jalan masih macet juga.
"Benar nih, nggak mau..", pancingku.
Yanti diam saja sambil memainkan tali tasnya.
"Ya sudah aku mau pulang, sudah gelap", kataku sambil berdiri.
Ia kelihatan ragu-ragu. Aku semakin yakin dapat menguasai keadaan. Aku
masih berdiri sambil pura-pura melihat ke arah mikrolet yang mendekat.
"To.. Anto..", dia memanggilku pelan. Aku menoleh dan kulihat air
mukanya masih menampakkan keraguan.
"Kenapa..?" tanyaku sambil duduk di sebelahnya lagi. Kutatap dia dan ia
mengangguk pelan.
"Tapi sebentar saja ya, aku nanti pulangnya kemalaman nggak dapat
kendaraan", katanya lemah.
Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya keras-keras.
"Akhirnya..", kataku dalam hatii.
Kami berjalan berdampingan. Kusentuh tangannya dengan jariku. Ia menoleh
dan tersenyum kecil. Tidak berapa lama kami sudah berada di dalam kamar
hotel. Aku membuka sepatu dan kemejaku lalu membaringkan badan ke atas
ranjang yang empuk. Lumayan, dari tadi duduk di bangku semen yang keras.
Rasanya ada kenikmatan tersendiri bisa memenangkan situasi ini. Yanti
ikut membaringkan tubuhnya disampingku.
"Kamu tadi kok begitu gigih ngajakin aku tidur di sini sih?" tanyanya
memecah kesunyian.
"Namanya juga usaha, kali-kali aja berhasil. Ternyata kan..".
"Iya sih, aku tadinya ragu-ragu. Tapi melihat kegigihanmu aku mulai
berpikir lain. Sudah tiga tahun aku tidak pernah melakukannya lagi.
Selama ini tidak ada yang tertarik padaku, maklum sudah tua dan kendor.
Kalaupun ada yang naksir, paling-paling duda yang sudah di atas lima
puluhan. Kamu sendiri masih muda kenapa begitu gigih merayuku?"
"Jujur saja, aku belum pernah naik kuda Sumbawa dan minum susu kuda liar
yang fresh, dan sekarang aku bisa merasakannya", kataku menggodanya.
"Hussh, .. Kebanyakan berkhayal dan termakan iklan kamu ini", katanya
sambil tertawa.
"Aku mandi dulu, badanku terasa lengket", katanya kemudian.
Ia membuka pakaiannya. Meskipun dia membuka pakaiannya di dalam kamar
sehingga aku bisa melihatnya secara utuh seluruh tubuhnya, namun karena
bentuk tubuhnya yang sudah kendor dan jika dinilai secara obyektif
sebenarnya tidak menarik, maka adik kecilku belum bereaksi. Pantat dan
payudaranya sudah turun, tapi perutnya lumayan, masih datar.
Kembali fantasi tentang kuda Sumba dan susu kuda liar melintas.
Adrenalinku mulai naik. Kususul dia ke kamar mandi setelah aku membuka
celana dan celana dalamku yang kulemparkan saja ke lantai kamar. Kubuka
pintu kamar mandi, Yanti terkejut. Ia sedang menikmati guyuran shower
dan tangannya sedang menyabuni selangkangannya.
Kupeluk dia dari samping dan kuciumi belakang telinganya. Kuremas
payudaranya. Kurapatkan selangkanganku di pinggangnya. Ia menggelinjang.
Di bawah siraman shower kami saling berpelukan dan berciuman. Ciumannya
tidak dalam. Kucoba untuk melumat bibirnya. Ia hanya membalas saja tanpa
berusaha untuk mengambil inisiatif lainnya. Kujilat dan kulumat puting
payudaranya. Meskipun payudaranya sudah kendor, namun putingnya yang
besar masih keras dan kenyal. Yanti selesai mandi dan kubiarkan ia
keluar dari kamar mandi duluan. Aku masih menyabuni tubuhku dan mulai
mengocok penisku. Tentu saja sekedar pemanasan. Alangkah konyolnya jika
ada sasaran tembak namun peluru ditembakkan sembarangan percuma.
Setelah selesai mandi, aku keluar kamar mandi dengan hanya dibalut
handuk dan ternyata Yanti sedang tiduran terlentang. Sebelah kakinya
ditekuk ke atas dan lututnya dilipat. Saya menikmati pemandangan itu dan
kejantananku mulai mengeras. Kuterkam tubuhnya dan kuciumi telinga,
leher dan payudaranya. Handuk di tubuhku terlepas dengan sendirinya.
Yanti memegang penisku sambil memelukku, nafasnya menderu.
"Anto.. Tapi tolong puasin saya malam ini, saya sudah lama tidak
merasakan nikmatnya kepuasan bercinta.. Ohh..".
Kulumat bibirnya dengan rakus, tangannya bergerak ke bawah dan sebentar
kemudian sibuk mengocok penisku. Aku melepas lumatanku pada bibirnya.
Kedua tanganku mengusap payudaranya dengan gerakan melingkar di bawahnya
menuju ke arah puting tanpa menyentuh putingnya. Kemudian gantian
punggungnya kuusap dengan usapan ringan sampai dia merasa kegelian.
"Ohh.. Anto.. Nikmat To..!!"
Yanti menancapkan mulutnya di dadaku dengan keras kemudian mengisap dan
mengigitnya. Ketika mulutnya dilepas tampak bekas kemerahan daerah
gigitannya tadi. Lidahnya kemudian mencari putingku dan menjilatinya.
"Ooohh.. Yanti.., Eeeihh.. Nikmat..".
Kedua tangannya meremas remas pantatku. Yanti mengangkangkan kakinya
sehingga kaki dan pinggangku bisa dijepitnya. Yanti menatapku tajam,
sebelah tangannya menggantung dileherku, nafasnya memburu. Ia memejamkan
matanya, kucium kening, pipi dan kujilati daun telinganya.
"Yanti aku akan memuaskanmu terlebih dahulu baru nanti kuambil
bagianku..".
"Terimakasih To.. Ohh..".
Kulumat payudaranya dan tangan kananku meremas remas panyudaranya yang
lain, sedangkan tangan kiriku menyusup di antara kedua pahanya,
memainkan vaginanya.
"Ouuoh.. To.. Nikmatnya.. Anto..".,
Tangannya memainkan penisku dan buah pantatku.
Oh.. Aku tidak tahan lagi.., Anto sayy.. Oh.. Aku tidak kuat. Ssshh..".
Kakinya yang terangkat dan mengangkang membuatku semakin bernafsu. Yanti
mengangkat pantatnya. Kupegangi kedua belah pahanya dan semakin kubuka
kakinya lebar-lebar. Terlihatlah belahan vaginanya agak kehitaman dengan
bagian dalam yang kemerahan, dihiasi rambut tipis.
"Aahh..", Yanti melenguh panjang, badannya goyang kekanan kekiri,
kuberikan rangsangan tambahan. Kujilati pusar dan perutnya, lalu ke paha
dan betisnya. Kugigit dekat pangkal pahanya sampai memberkas merah.
"Too.. A n t o.. Kamu.. Oh.., sudah.. Aku enggak tahan..".
Ditariknya kepalaku ke atas dan didekapkan ke dadanya kemudian diraihnya
penisku dan diarahkan ke vaginanya yang becek, dan.. Blesshh..
"Ouuhh.. Ohh..".
Kutekan pantatku perlahan dan akhirnya masuklah semua penisku ke dalam
vaginanya.
"Aahh.. To Ayo.. To Berikan aku..".
Yanti menaikan pantatnya dan aku menekan lagi pelan-pelan, terus
berlangsung beberapa lama, kian lama kian cepat.
"Aku mau keluar.." Yanti memekik.
Aku semakin kencang mengocok vaginanya dengan penisku. Dia diam sejenak
sambil memegang lenganku.
"Sudah Yan?"
"Sebentar lagi.. Ohh.."
Tiba-tiba digerakannya pantatnya naik turun agak memutar dengan cepat,
batangku terasa mau patah.
"Ah..". Yanti meremas remas payudaranya dan menjambak rambutnya sendiri
dan matanya terpejam. Jepitan kaki di pinggangku menguat. Dinding
vaginanya terasa menebal sehingga lubangnya menjadi lebih sempit.
Ia memelukku dan mengulum bibirku, "An.. To.. Aku.. Hggkk.., Ahh..
Nikmatt.." Yanti bergerak liar.
Kutekankan penisku dalam-dalam dan kurasakan denyutan di dinding vagina
serta dasar rahimnya. Kurebahkan tubuhku ke atas tubuhnya. Ia masih
terus menciumiku dengan lembut. Kubiarkan penisku terendam dalam cairan
vaginanya.
"Kamu belum keluar ya..?" Ia mendesah.
Kami diam sejenak. Kuberikan kesempatan untuknya beristirahat dan
mengatur nafasnya. Matanya masih tertutup. Sejenak kurangsang vaginanya
dengan gerakan pada otot kemaluanku. Ia mendesah dan membuka matanya.
Dikalungkannya kedua tangannya pada leherku.
"Sayyang.. Kini giliranku.." kataku berbisik. Ia mengangguk dan
tersenyum.
Kugerakkan lagi pantatku naik turun dan memutar. Perlahan-lahan dan
semakin lama semakin cepat. Kurasakan vaginanya lebih becek dari semula,
namun aku tidak mau menghentikan permainan untuk mengeringkannya.
Gesekan kulit penis dengan dinding vaginanya masih terasa nikmat.
Gairahnya mulai bangkit lagi. Iapun mengimbangi gerakanku
perlahan-lahan. Setelah beberapa saat kemudian gerakannyapun juga
semakin cepat. Kuangkat pantatku sampai tinggal kepala penisku saja yang
menyentuh bibir vaginanya, dengan gerakan cepat dan bertenaga
kuhempaskan lagi ke bawah. Badannya terguncang.
Kurapatkan pahanya, kemudian kakiku menjepit kedua kakinya. Aku
menurunkan tempo permainan sambil beristirahat sejenak. Sesaat kemudian
kukembalikan pada tempo semula. Aku hanya menarik turunkan penisku
sampai setengahnya saja. Jepitan vaginanya lebih terasa. Kurasakan
aliran darah di penisku semakin cepat.
".. Yanti.. Aku mau keluar..".
"Tunggu.. Kita bareng.. A.. Nnto.."
Kukangkangkan kakinya kembali. Kedua betisnya kujepit di ketiakku. Dalam
posisi demikian maka vaginanya terbuka lebar sekali.
"Anto..". Tubuh Yanti menegang.
"Yanti aku juga.. Mau.. Ohh..".
"Ahh.. Nikmatt".
Cairan vaginanya bertambah banyak, sementara itu ujung penisku berdenyut
denyut. Tubuhnya bergerak seperti kuda Sumbawa yang melonjak-lonjak
liar.
"Yanti.. Oh.. Kukeluarkan.. Dimana..?"
"Di dalam saja.. Aku sedang dalam masa tidak subur.."
Dan kemudian.. Crot.. Crot.. Crot.. kutumpahkan spermaku di dalam guanya
sampai menetes-netes keluar.
"Tahan sebentar.. Ahh..".
Iapun mendapatkan orgasmenya setelah berusaha sesaat sebelum penisku
berhenti menyemprotkan pelurunya. Kutekankan lagi penisku, denyutan pada
otot-otot kemaluan kami saling memberikan kenikmatan ekstra. Aku
berguling ke samping. Kami berpelukan dengan badan bersimbah keringat.
"Makasih To.. Yach", Yanti lagi melumat bibirku.
Kubalas dengan ganas, tetapi ia melepaskan lumatannya dan berkata "Sudah
malam, lain kali pasti akan kuberikan lagi".
"Terima kasih kuda Sumbawaku. Terima kasih kasih untuk susu kuda
liarku", kataku.
Selama beberapa bulan kemudian, setiap dua minggu sekali ia menelponku
untuk mengajak berpacu. Sengaja kubiarkan dia yang meminta. Bukannya aku
tidak butuh, namun aku berpikir kadang-kadang bisa saja tiba-tiba aku
mendapatkan pengalaman bersama wanita lain, sehingga biar Yanti saja
yang aktif meminta kupacu. Setiap kali bertemunya, fantasi kuda Sumbawa
selalu ada dalam pikiranku.
|
|
|
|