|
Warnet Nikmat |
Aku adalah seorang pria berumur 28 tahun. Bergelar sarjana arsitektur dan
bekerja sebagai konsultan teknik di sebuah perusahaan konstruksi. Bila
ditinjau dari segi umur dan materi, sebenarnya aku adalah pria mapan dan
siap untuk menikah. Namun entah mengapa hingga saat ini belum menikah,
mungkin kurang percaya diri karena satu hal belum kumiliki, yaitu rumah
sendiri.
Hidup sendirian memang asyik, tanpa beban dan pikiran. Namun dalam
urusan seks, aku menghadapi kendala besar. Seorang pria seumurku
tentunya sudah sangat ingin merasakan nikmatnya bersetubuh. Pernah
seorang teman mengajakku ke pelacuran tetapi aku sungguh takut tertular
penyakit kelamin, sehingga batal menikmati daging mentah yang dijual
disana. Akhirnya aku memilih untuk melakukan masturbasi di kamar mandi
untuk melampiaskan hasrat seks yang tak tersalurkan. Beberapa kali
melakukannya sendiri terasa tidak nikmat lagi. Penisku tidak terlalu
keras berdiri, mungkin karena kurang rangsangan. Aku malas melakukannya
lagi.
Suatu hari libido seksku tak tertahan lagi. Setelah makan malam aku
menuju sebuah warnet 24 jam tak jauh dari restoran padang, tempat dimana
aku tadi makan. Saat itu menunjukkan pukul 21.30 malam, warnet tidak
terlalu ramai. Tampak beberapa meja kosong. Segera aku buka beberapa
situs porno yang menyuguhkan gambar-gambar yang sangat syurr. Perlahan
namun pasti penisku mengeras dan berdiri. Tak puas dengan gambar, kucari
17Tahun.com yang menyuguhkan cerita cerita yang merangsang. Aneh bin
ajaib penisku bisa bertambah tegang lebih dari biasanya, setelah membaca
kisah seorang gadis bermasturbasi.
Kulongok kanan-kiri, ternyata kondisi warnet yang tertutup membuatku
merasa aman. Perlahan-lahan aku buka kancing celana dan menyisihkan
celana dalamnya kebawah. Penisku yang sebesar timun kecil langsung
menyembul. Kuusap-usap dengan lembut uh.., aah.., nikmat sekali. Geli
dan nikmat membuatku terpejam-pejam. Dalam bayangan pikiranku, penisku
sedang dihisap seorang gadis cantik yang sedang keenakan mengusap-usap
memeknya. Usapanku makin cepat dan keras, tanpa sadar berubah menjadi
sebuah kocokan.
Kocok-kocok terus aku mendesah ahh.., hemm.. Tangan tak henti-hentinya
bergerak dari kepala penis hingga batang penis paling dasar. Sesekali
tangan kiri meremas remas telor. Aduh nikmat sekali. Darah serasa
berkumpul di ujung kontolku, tubuhku kaku-kaku. Kurasakan ada tarikan
hebat dari arah dengkul, pusar, paha, bahkan kepala menuju ujung kontol
yang berbentuk helm tentara Jerman. Cok., kocok.., cek makin cepat aku
mengocok dan..
"Aahh.., uhh.., oohh", aku mendesah keras.
Croot.., crot.., creet cairan putih sangat kental memancar dari penisku
dan mengenai layar monitor komputer yang kebetulan ada gambar seorang
wanita barat bugil dengan mulut terbuka. Air maniku persis meleleh di
mulutnya. Uhh.., membayangkan wanita tersebut mengisap air maniku
sedoott.., Tubuhku lunglai menahan rasa enak yang luar biasa. Aku
merasakan puas yang tak tertandingi. Setelah mengelap air maniku di
layar komputer, aku langsung pulang dan tidur.
Pengalaman bermasturbasi ini membuatku ketagihan. Aku melakukannya
seminggu sekali di warnet yang sama. Dan tak pernah ada yang tahu apa
yang kulakukan.
Malam itu pukul 21.30, sama seperti malam yang lain, aku datang ke
warnet untuk bermasturbasi. Tapi sial, entah angin dari mana, warnet
tersebut penuh sesak, tak ada tempat untukku. Terpaksa aku mencari
warnet lain. Tak jauh dari tempat yang pertama, aku menemukan warnet
yang sepi. Tanpa basa-basi aku memasuki komputer nomor 3. Sayang
aksesnya payah, apalagi meloading gambar porno lama sekali. Setelah
hampir setengah jam, aku baru dapat memelototi empat gambar porno.
Cukuplah untuk mulai mengocok kontol yang mulai ngaceng. Ueenaakk..
"Warnetnya mau tutup Mas!", tiba tiba seorang wanita berkata di depanku.
Alangkah kagetnya diriku. Ternyata warnet itu tidak buka 24 jam. Dan
yang membuat aku lebih kaget, wanita penjaga warnet itu melihat aksiku
yang sedang mengocok kontol.
"Ehh.. iya Mbak", jawabku sekenanya
"Wah sorry, lagi asyik yaa.. terusin deh", wanita itu menjawab tanpa
rasa kaget.
Lalu ia berlalu. Kudengar suara rolling door yang ditutupnya. Aku
berusaha secepat mungkin merapikan celanaku untuk secepatnya pergi dari
tempat itu. Belum selesai aku merapikan celanaku, wanita itu muncul lagi
dihadapanku.
"Lho kok berhenti Mas, silahkan dilanjutkan", wanita itu tersenyum
manis.
Wajahnya ternyata cantik, putih bersih, kira kira berumur 35 tahun.
Belum hilang kagetku, wanita itu berkata lagi..
"Sini saya bantu", dia berujar sambil duduk disebelahku.
"Jangan malu, nama saya Rini, saya sendirian menjaga warnet ini kok",
katanya genit sambil mengambil alih kontolku.
Kini dia yang mengocok ngocok kontolku. Enak sekali, tangannya lembut
membelai kontolku.
"Saya perlu air mani Mas untuk masker wajah, boleh ya..?", katanya lagi.
"Iya", aku tak bisa menjawab karena rasa nikmat pertama kali dikocok
wanita.
Kini si Rini berubah posisi. Dia lalu berjongkok dan menyuruhku berdiri.
Tangan kanannya menggenggam buah pelirku. Lidahnya yang selembut es krim
menyisiri pangkal kontolku. Disapu-sapunya dijilat-jilatnya dari pangkal
hingga ujung penis mengikuti garis tengah batang penis. Dilakukannya
berkali-kali hingga aku mengelinjang bak penari ular. Puas menjilati,
Rini memasukkan kontolku ke mulut mungilnya. Dimasukkan, dikeluarkan,
dihisap begitu berulang-ulang. Tangan kanannya tidak diam melainkan ikut
mengocok. Aku tak kuat lagi dan mau ejakulasi dan berteriak.. Tiba-tiba
Rini mencabut kontolku dari mulutnya dan menekan ujung penisku kuat-kuat
dengan ibu jarinya, sehingga aku tidak jadi memuntahkan air mani.
"Kenapa Rin?", tanyaku heran.
"Sabar Mas, jangan keluar dulu, kumpulin mani dulu biar muncratnya
banyak", pintanya.
Aku mengangguk saja menuruti kemauannya. Setelah agak rileks, Rini
mengulangi aksi stop-actionnya sampai tiga kali. Yang ketiga kali aku
benar-benar tidak tahan dan muncratlah air mani dengan derasnya croot..,
crett.., serr.. mengenai wajah Rini.
"Aargghh.., hangat Maas, asyik", kata Rini sambil mengusap meratakan air
maniku di wajahnya, persis seperti dia memakai masker kecantikan. Aku
terkulai dan takjub betapa penisku berdenyut kurang lebih 15 kali dan
menyemburkan mani banyaak sekali.
"Aku harus berbaring dulu Mas, biar manimu melekat di wajahku dan tidak
meleleh", kata Rini sambil berbaring.
"Sini Mas, puasin aku dong", katanya memelas.
"Tentu saja Rin", jawabku bersemangat.
Langsung kusingkap roknya ke atas, tampak celana dalamnya berwarna merah
berenda, sexy sekali. Kubuat ia mengangkang. Astaga celana dalamnya
basah pada bagian dimana memeknya menempel. Bulu halus membayang
diantara celana dalam yang transparan karena basah. Tercium aroma memek
yang khas erotis. Kutarik dan kulemparkan celana dalamnya. Aku mulai
dengan mengelus-elus daerah kewanitaannya yang terasa hangat. Telapak
tanganku dengan ringan menekan-nekan bagian atas yang ditumbuhi
bulu-bulu halus yang hitam melebat. Kedua tanganku menjadi aktif di
daerah itu. Yang satu mengusap-usap bagian atas yang sensitif dan tangan
yang satu lagi membelai-belai bibir-bibir memeknya yang basah oleh
lendir. Kuciumi, kuhisap dalam-dalam aroma memeknya yang telah merekah
seperti kue serabi berwarna merah muda.
Kujilati bibir-bibir memek dan itil nya (klitoris), dia menggelinjang.
Ohh Rini pasti kau merasakan nikmat dan geli. Rini mendesis-desis. Aku
terus menjilati itil yang mulai menyembul dan tegang sebesar kacang
tanah. Dua jariku masuk ke dalam goa nikmat yang sudah penuh lendir.
Kukocok-kocok lobang memeknya sambil memepercepat jilatan di itilnya.
"Aahh Mas, terus Mas, percepat Mas, aku tak tahan lagi, ayo Mas, aahh..,
ayo", Rini nyerocos kesetanan.
Pinggulnya diangkat-angkat dan digoyang-goyang, seperti beralas besi
panas. Dan tak lama kemudian..
"Uurrgghh.., Mas, tooloongg, aku keluaarr", jerit Rini.
Tubuh Rini mengejang, dan memeknya berdenyut-denyut kira-kira 20 kali.
Nampaknya ia orgasme hebat. Kami tertidur hingga pagi menjelang. Dengan
tergesa-gesa aku pulang ke rumah kosku. Ada rasa takut dilihat orang
kalau aku keluar dari tempat itu pagi-pagi dengan penampilan seperti
habis terkena ledakan bom. Rasa takut digrebek menghantui perasaanku,
maklum di kota ini sering ada penggrebekan pasangan kumpul kebo. Lagi
pula aku takut bila pemilik warnet atau majikan Rini datang pagi-pagi.
Tapi rasa penasaranku lebih kuat dibandingkan rasa takutku. Aku mulai
mencari tahu siapa si Rini itu sebenarnya. Kutanya tetangga
kanan-kirinya tentang latar belakang Rini. Dari hasil investigasiku aku
mendapat beberapa petunjuk tentangnya. Dia ternyata bukan karyawan,
tetapi pemilik warnet nikmat itu. Warnet itu tidak memperkerjakan orang
lain, tetapi Rini sendiri sekaligus merangkap sebagai kasir dan
penjaganya.
Rini ternyata telah menikah dengan seorang pekerja di kapal pesiar.
Suaminya berlayar dan hanya pulang tiap enam bulan sekali. Aku dapat
memahami betapa kesepiannya dia. Tetapi aku heran kenapa dia hanya
memanfaatkan air maniku dan tidak memanfaatkan kontolku yang setiap saat
bisa ia masukkan ke memeknya.
Suatu malam menjelang warnet nikmat itu tutup, aku mengendap-endap, dan
aku berhasil menyelinap masuk tanpa diketahui Rini. Lalu aku bersembunyi
di salah satu meja komputer yang tertutup. Tepat pukul 22.00 Rini
menutup warnetnya. Selanjutnya ia menaiki tangga ke lantai 2 rukonya.
Aku tunggu beberapa saat, lalu aku menyusul naik ke atas dengan
berjinjit. Tampak sebuah kamar dengan pintu sedikit terbuka. Terdengar
bunyi putaran mesin berderit, seperti bunyi gergaji mesin tapi tak
terlalu keras. Di sela-sela itu terdengar rintihan-rintihan nikmat, dan
aku kenal suara itu pasti dari mulut Rini. Apa yang dilakukannya?
Aku intip perlahan melalui pintu yang agak terbuka, terlihat Rini
bertelanjang bulat dalam posisi mengangkang. Di tangannya tergenggam
sebuah benda mirip jagung. Benda itu yang mengeluarkan bunyi mesin.
Sesekali benda itu digosokkan ke memeknya.
"Rin lagi ngapain kamu?", aku bertanya memecah kesunyian.
"Hai Mas, aku nggak kaget kok, aku tahu Mas nyelinap tadi", sambil
tertawa Rini beranjak.
"Rin, kenapa tidak kontolku saja kau masukkan?", tanyaku heran.
"Jangan Mas, aku takut hamil, aku sudah bersuami, yuk kocok-kocokan
lagi!", pintanya.
Dan malam itu terjadi lagi seperti pertama kali aku bermasturbasi
bersamanya. Dan tiap minggu aku selalu berkunjung ke warnet nikmat,
kecuali bila suaminya datang. Namun aku pindah tugas ke kota lain, tak
kutemui Rini lagi. Tak ada wanita yang bermasker air maniku lagi, aku
merindukannya. Mungkin ada pembaca wanita yang bisa mengobati rinduku?
|
|
|
|