|
WC Kampus |
Sebelumnya saya ingin berterima kasih pada seluruh personil situs 17tahun
baru ini mau memuat ceritaku ini. Saya sudah lama bergelut dengan situs
17tahun, dari situ saya membaca banyak sekali pengalaman rekan-rekan
seputar kegiatan seksnya. Terus terang selama saya membaca 17tahun (dan
sekarang 17tahun2), kesan yang saya dapat betapa bebasnya rekan-rekan
melakukan kegiatan seks. Saya sempat menganggap mereka adalah
orang-orang yang tidak bermoral, namun pandangan itu berubah setelah
saya sendiri mengalaminya. Jadi, untuk meringankan beban perasaan, saya
memberanikan diri untuk membagi pengalaman saya di 17tahun. Mohon maaf
bila kalimat yang saya gunakan kurang enak dibaca, sebab saya memang
bukan penulis handal. Selamat membaca.
Namaku Rendy (nama samaran, mohon maaf bila ada kesamaan), umur 22 tahun,
tinggi 170 cm, berat 60 kg. Saya mahasiswa ekonomi jurusan manajemen
semester 7 di sebuah universitas swasta di Jakarta. Aku tergolong anak
yang biasa-biasa saja di lingkungan pergaulan kampus, maksudnya dibilang
kuper tidak tapi dibilang anak gaul pun tidak. Aku anak bungsu dari dua
bersaudara, yang berasal dari keluarga menengah atas. Di kampus aku
dikenal oleh anak-anak cewek sebagai cowok pendiam, namun aku tidak
demikian bila sedang berkumpul dengan teman-teman cowokku.
Aku memang agak sulit bergaul dengan cewek. Bila berhadapan dengan cewek,
otomatis sikapku langsung kaku, pikiran buntu mau ngomong apa, jangankan
ngomong, basa-basi pun aku sulit. Aku bingung mesti bersikap bagaimana.
Tetapi yang aku perlu sangat tegaskan di sini bahwa aku sama sekali
bukan homo! Sebab aku masih terangsang bila melihat cewek cantik apalagi
memakai baju ketat lewat di hadapanku, sampai kalau cewek itu belum
hilang dari pandanganku, aku belum mau melepaskannya. Hal itu sering
menjadi beban pikiranku, aku berkhayal dapat memiliki cewek itu, namun
untuk berkenalan saja rasanya berat sekali. Bila aku sedang birahi,
tetapi aku tidak tahu harus menyalurkannya ke mana, aku suka melakukan
onani. Hal itu sudah kulakukan sejak SMP.
Ternyata sifat pendiamku membuat cewek-cewek di kampusku penasaran,
sepertinya mereka ingin tahu lebih banyak tentangku. Salah satu cewek
yang penasaran dengan diriku adalah teman sekelasku sendiri. Namanya
Desti, wajahnya cukup manis kalau menurutku, bodinya langsing namun
tidak terlihat kurus, kulit putih, rambut lurus sebahu, dan bibirnya
tipis. Dari informasi temanku, diam-diam dia sering memperhatikan
tingkah lakuku. Namun biar aku lebih percaya aku ingin mengeceknya
sendiri. Bila aku kebetulan sedang sekelas dengannya, aku ingin melihat
sikapnya.
Dia kalau duduk sering di belakang, jadi aku sengaja mengambil posisi
duduk di depan. Begitu kuliah berjalan 30 menit, dengan tiba-tiba aku
pura-pura menoleh ke belakang ngomong dengan temanku sambil dengan cepat
melirik ke arah cewek itu. Benar ternyata! Begitu aku melirik ke
arahnya, dia agak gugup sambil cepat-cepat membuang muka. Kulihat
wajahnya merah. Aku dalam hati geli juga melihatnya, namun kalau
dipikir-pikir ini lampu hijau buatku. Kejadian itu berlangsung lama
dengan model yang berbeda-beda, sepertinya dia memang ingin menarik
perhatianku. Aku menjadi termotivasi untuk berkenalan lebih jauh
dengannya.
Kemudian pada suatu hari aku mendapat kejadian yang seakan-akan aku
memperoleh impianku. Saat kuliah usai pada pukul 19:00, selepas keluar
ruangan aku pergi ke WC untuk sekedar mencuci muka. Tadinya aku ingin
menunaikan shalat Isya, tetapi aku ingin melakukannya di rumah saja.
Kebetulan WC terletak agak menyendiri dari gedung utama, soalnya WC yang
di gedung utama sedang diperbaiki. Di sana tinggal beberapa orang saja
yang sedang berwudhu. Selesai mencuci muka aku juga sekalian ingin buang
air kecil, tapi pintu masih tertutup, berarti masih ada orang. Aku
menunggu sampai orang yang tadi berwudhu sudah pergi semua, tinggal aku
bersama dengan "seseorang" yang di dalam WC.
Setelah lama menunggu, terdengar suara kunci pintu dibuka, akhirnya.
Begitu pintu dibuka, yang keluar ternyata Desti, cewek yang selama ini
diam-diam suka padaku. Aku kaget campur girang, terus campur grogi
melihatnya. Sikapku hampir salah tingkah, begitu pun dengannya. Kami
saling bertatapan mata dan terdiam beberapa saat. Dia agak tersenyum
malu-malu. Kok dia ada di WC cowok sih? pikirku. Kemudian aku
memberanikan diri untuk memulai pembicaraan, walaupun sangat kupaksakan.
"Des, kok elo make WC cowok sih?" tanyaku.
"Ehh.. itu.. mm.. tempat cewek penuh semua, aku males ngantri. Lagian
aku sudah kebelet banget sih.. he.. he.."
"Iya juga sih, lagian tidak bagus kalau ditahan, bisa penyakit," kataku
sok-sok nasehatin.
"Eh sorry yah aku pengen wudhu dulu," sambil minggirin tubuhku yang
kebetulan menghalangi kran air.
Setelah itu gantian aku yang masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil,
sementara Desti sedang berwudhu. Rupanya Desti sudah selesai duluan
sebelum aku keluar kamar mandi, soalnya sudah tidak ada suara apa-apa
lagi. Aku kemudian keluar tanpa berpikiran apa-apa. Aku mendadak heran
begitu melihat pintu tertutup, padahal tadi terbuka. Aku berpikir apa
yang menutup pintu si Desti, tapi ngapain? Apa dia mau ngerjain aku,
atau temanku yang suka iseng. Tapi tidak mungkin soalnya hari ini tidak
ada jadwal kuliah yang bareng komplotan aku. Aku tambah heran lagi kalau
pintunya ternyata dikunci. Lama-lama aku kesel juga, siapa sih nih yang
reseh? Masa penjaga kampus jam segini sudah ngunci-ngunci segala,
padahal mahasiswa masih banyak yang berkeliaran.
Hampir 10 menit aku di dalam WC sial itu. Aku berharap ada yang lewat,
biar bisa minta dibukakan. Tiba-tiba mataku mendadak melihat ada satu
pintu kamar mandi yang tertutup. Berarti ada orang dong, tapi kok tidak
ada suaranya. Terus masa sih dia betah sekali di kamar bau pesing
seperti itu. Sudahlah, aku tidak suka penasaran lama-lama. Dengan
hati-hati aku dekati pintu itu, belum ada suara sedikit pun. Pikiranku
sudah mulai curiga, bisa aja nih orang begitu selesai kencing "anunya"
kejepit resleting, terus pingsan deh. Aku aneh-aneh aja yah, sudah
situasi seperti itu masih punya pikiran konyol saja, dasar.
Begitu sampai di depan pintu, tanganku sudah mau ngetuk, tiba-tiba dalam
hitungan detik pintu terbuka dengan cepat. Aku langsung kaget setengah
mati, bukan soal pintu yang mendadak kebuka, tapi siapa yang ada di
dalam kamar mandi itu. Sebab yang kulihat adalah ternyata si Desti dalam
keadaan telanjang bulat sambil senyum-senyum ke arahku. What the hell is
going on?
Aku masih terbengong-bengong dengan pemandangan yang disiarkan secara
langsung itu. Tanpa sadar aku mulai melangkah mundur sambil mataku
menyapu seluruh bagian tubuh Desti. Emang sih, aku tidak mau munafik,
walau bagaimana pun aku akui bodinya bagus banget. Kulitnya putih mulus,
langsing, dadanya proporsional sama badannya, putingnya masih berwarna
pink, sementara yang paling aku suka, bagian kemaluannya mulus, tidak
ada bulu sama sekali. Aku memang suka sama cewek yang bulu kemaluannya
dicukur, aku tidak begitu nafsu sama kemaluan yang berbulu lebat.
Belahan kemaluannya juga kelihatan bersih, tidak hitam seperti cewek
lain kebanyakan. Pasti dia juga suka merawat bagian vitalnya itu. Bersih
juga nih cewek.
Aku sama Desti masih saling tatap-tatapan. Tidak ada yang berani
ngomong. Suasana benar-benar hening. Kemudian entah keberanian dari
mana, aku mulai mendekati dia lagi, tapi perlahan-lahan. Mata Desti
masih memandang mataku dalam-dalam, sambil lidahnya menjilati bibirnya
sendiri. Gila, nih cewek sepertinya sudah nafsu banget, pikirku. Melihat
aku sudah berani mendekat, dia juga mulai melangkah ke depan. Akhirnya
aku benar-benar berhadapan langsung sama cewek manis plus bugil. Kami
masih belum berkata-kata sama sekali. Cuma mulut Desti kelihatan mulai
terbuka seperti ingin bilang sesuatu. Terus terang, aku lama-lama jadi
terangsang juga kalau terus-terusan kayak gini.
Aku mulai mengelus pipinya, sambil membelai rambutnya. Dia kelihatan
senang sekali, nafasnya sudah mulai memburu, sampai hembusannya terasa
ke dadaku. Tanganku juga sudah mulai berani mengelus pantatnya yang
mulus habis. Terus dia mulai mendekati wajahnya ke wajahku, bibirnya
langsung mengecup bibirku dengan lembut. Untuk pertama kalinya aku
dicium sama cewek. Jelas aku belum begitu mahir, jadi aku tidak
membalas. Tapi lama-lama aku jadi menikmati ciumannya, secara reflek
kubalas dengan mainkan lidahku ke dalam bibirnya. Aku mulai mengerti
soalnya aku juga sudah pernah nonton BF, jadi saat kejadian itu
berlangsung, aku sudah tahu apa yang mesti kulakukan, meskipun masih
agak kaku.
Kami masih berciuman dengan cukup lama. Desti sangat menikmatinya dengan
menghisap lidahku kuat-kuat. Aku juga mempererat tekanan bibirku. Sambil
tetap berciuman tanganku mencoba untuk mengusap kemaluannya. Rasanya
kenyal-kenyal lembek. Aku berusaha mencari klitorisnya, pas ketemu
kuusap-usap dengan lembut. Desti mulai sedikit mengerang, sehingga
ciuman kami terlepas.
"Hehh.. iyahh.. bener.. itunya.. teruss.." desah Desti keenakan.
Lama juga aku mengusapi kemaluannya. Tanganku mulai merasakan
kemaluannya agak basah.
"Terus dong Ren.. kok diem.. sshshsh.." Rupanya Desti agak kesel
tanganku berhenti mengusap.
Mulutku ganti menciumi lehernya yang putih mulus. Aromanya bikin aku
makin gencar melumat lehernya. Aku jilat, hisap, sampai kugigit sedikit.
Desti menengadahkan wajahnya ke atas menahan nikmat. Tangannya mulai
berani menggosok-gosok batang kemaluanku yang masih terhalang celana
panjang. Diremasnya batang kemaluanku dengan keras. Sepertinya dia sudah
tidak sabaran ingin mencoba punyaku. Sabar sayang.
Buah dadanya yang mengeras ke depan membuatku makin penasaran.
Kuraba-raba buah dadanya, aku remas secara bergantian.
"Ahh.. sshh.. aduh.. duh.. pelan-pelan.. dong.. say.." Desti agak
kesakitan.
Aku langsung minta maaf dan aku meremasnya jadi lebih lembut. Dia jadi
senyum lagi. Puas meremas payudara, putingnya yang sudah tegak aku hisap
sambil kukemut. Kusedot susunya sampai buah dadanya merah akibat
kemutanku. Buah dadanya kelihatan mengkilat bekas jilatanku.
Dia mulai membuka bajuku, terus celana panjangku. Aku risih juga
setengah bugil di depan dia. Akhirnya tanpa ragu-ragu dia meloroti
CD-ku. Batang kemaluanku langsung mencuat tegak di hadapannya. Dia kagum
memandangi batang kemaluanku yang tidak terlalu panjang. Dielus-elusnya
batang kemaluanku dengan lembut, selembut tangannya. Dia masih mengagumi
sebentar sebelum dimasukkan ke mulutnya. Dia mulai mencium-cium kecil
batang kemaluanku sambil biji zakarku yang keleweran. Kemudian yang
bikin jantungku berdebar, dia mulai membuka mulutnya sambil mendekatkan
batang kemaluanku ke arah mulutnya.
Kemudian dia melihat ke wajahku sambil tersenyum, terus sedikit demi
sedikit dia memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya. Baru setengahnya
batang kemaluanku di dalam mulutnya. Sepertinya dia ragu-ragu. Aku kasih
dukungan kepadanya dengan membelai-belai rambutnya. Dia mencoba
memasukkan lebih dalam lagi batang kemaluanku.
"Slepps.." masuklah seluruh bagian batang kemaluanku ke dalam mulutnya.
Aku sudah tidak dapat lagi melihat barang kesayanganku, semuanya sudah
tertutup oleh mulutnya.
Kemudian dia mulai menggerak-gerakkan mulutnya. Mulanya perlahan,
lama-lama gerakannya makin cepat. Sedotan dan hisapannya sangat nikmat.
Aku menahan geli yang amat sangat. Hampir saja aku ejakulasi di
mulutnya. Tapi jangan! Belum saatnya. Aku masih ingin menikmati elusan
dan kekenyalan dinding liang kemaluannya. Maka kukasih tanda agar Desti
berhenti sebentar. Aku mencoba rileks sebentar sambil mempermainkan
putingnya. Setelah yakin tak akan terasa keluar, kuijinkan lagi Desti
melanjutkan kesenangannya. Sempat ada cairan bening yang keluar dari
ujung batang kemaluanku, dan langsung dijilat oleh Desti.
Kami mulai berganti permainan. Desti menopangkan salah satu kakinya di
atas bak mandi. Pahanya dibukanya lebar-lebar. Terlihatlah gundukan
liang kemaluannya yang bersih. Aku mengambil posisi agar dapat mengamati
pemandangan indah ini. Kubuka lipatan liang kemaluannya, dagingnya
berwarna merah jambu, kedua dinding liang kemaluannya masih sangat
rapat. Desti memang pandai merawat kewanitaannya. Kucoba untuk
menjilatnya. Bau kemaluannya sangat enak, aroma kewanitaannya sangat
merangsang. Aku tidak tahan lagi, langsung saja aku "makan" sepuasnya.
Kumainkan klitorisnya pakai lidahku dengan gerakan memutar. Desti
menggelinjang hebat. Badannya menahan geli seperti orang kejang. Aku
terus memainkan liang kemaluannya yang lama kelamaan mulai basah oleh
cairannya. Mata Desti terlihat sayu, pasrah terhadap apa yang kulakukan
pada liang kemaluannya. Bibir atasnya mengigit bibir bawahnya dengan
kuat. Tubuhya seakan-akan menghindari jilatanku, namun terhalang oleh
tembok. liang kemaluannya rasanya hangat dan lembut. Betul-betul liang
kemaluan ternikmat yang pertama kurasakan.
Puas menjilati, aku coba masukkan jariku sambil mengait-ngaitkan ke
seluruh penjuru dinding liang kemaluannya. Tentu saja Desti makin gila
reaksinya, kelonjotan tidak karuan. Dia sampai menjepitkan kedua pahanya
hingga kepalaku terperangkap di antara sepasang paha putih mulus. Liang
kemaluannya mengeluarkan cairan yang cukup banyak sampai meleleh ke
pipiku dan sebagian ke bibirku. Karena penasaran ingin tahu bagaimana
rasanya cairan kewanitaan, aku rasakan saja sedikit. Rasanya aneh, cuma
enak, agak asin. Jadi kuhisap sebanyak-banyak dari lubang kemaluannya.
Tiba-tiba Desti mendorong kepalaku yang sedang asyik menjilati
kemaluannya. Kupikir permainan apa lagi nih yang diinginkan oleh dia?
"Ren, gue sudah tidak tahan nih, masukin dong punya elo!" pinta Desti
dengan nafas masih ngos-ngosan.
Aku agak ragu-ragu, sebab untuk yang satu ini memang tidak sembarangan.
Aku masih bengong, sambil mikir-mikir.
"Kok malah bengong sih lo.. ayo cepet dikit dong!" katanya dengan
sedikit heran campur kesal.
Biarinlah, aku sudah terlanjur nafsu, rugi kehilangan kemaluan enak
kayak gini.
Dengan posisi mengangkang seperti tadi, kuarahkan batang kemaluanku ke
liang kemaluannya dengan perlahan-lahan. Kutempelkan kepala batang
kemaluanku ke bibir kemaluannya sambil kugesek-gesek dengan kepala
batang kemaluanku. Kulihat liang kemaluannya sudah basah sekali, jadi
masukinnya mudah-mudah gampang. Kucoba dorong batang kemaluanku ke
dalam, masuk sedikit demi sedikit. Pantatku juga kudorong untuk menambah
tenaga. Tapi batang kemaluanku baru masuk seperempat saja, itu pun
rasanya sudah sempit sekali. Desti pun kelihatan meringis menahan sakit,
air matanya sedikit mengalir.
Gila! aku benar-benar dapat lubang kemaluam perawan, segini saja rasanya
seperti sudah mentok. Tapi aku belum menyerah, kutekan lagi batang
kemaluanku dengan sekuat tenaga, sambil mempertahankan kekerasan batang
kemaluanku.
Saat kuhentak, Desti agak menjerit, "Auuwww.. sststs.. sakiitt..
hghhgg.."
Aku mendengarnya jadi kasihan, cuma gimana lagi, yang mau dia juga.
Kulihat batang kemaluanku sudah masuk setengahnya. Dengan satu tekanan
kuat lagi pasti dapat masuk semua, pikirku.
Kudorong lagi pantatku. "Sreett.. bless.. ahh.." Akhirnya batang
kemaluanku sudah masuk seluruhnya. Aku bangga juga melihatnya, begitu
pun dengan Desti, wajahnya seakan-akan memberi applaus.
Kubiarkan batang kemaluanku menancap di dalam agar lubang kemaluannya
terbiasa menerima batang kemaluanku. Kemudian baru aku memulai gerakan
maju-mundur perlahan-lahan. Batang kemaluan serasa dipijat-pijat oleh
dinding liang kemaluannya yang bergerinjal. Rasanya enak juga, pantas
orang banyak yang senang kawin. Batang kemaluanku ngilu dielus-elus oleh
jepitan liang kemaluanDesti. Semula yang tadinya agak seret lama-lama
jadi tambah licin, sehingga dapat mempercepat gesekanku.
Selama kami bersenggama, mulut Desti mendesah sangat keras dan tak
karuan. Aku khawatir kalau sampai ada yang dengar. Sesekali aku melihat
pemandangan dimana batang kemaluanku dengan lubang kemaluan Desti saling
bergesekan. Kupandangi sekilas wajahnya, dia tampak sangat menikmati
hubungan seksual ini, begitu juga denganku. Biar tidak bosan,
kuremas-remas juga buah dadanya yang mengguncang-guncang akibat hentakan
kami. Hampir 15 menit alat kelamin kami saling bergesekkan, Desti masih
terlihat enjoy, sedangkan aku sudah tidak kuat lagi. Batang kemaluan
seakan-akan ada yang menggelitik dari dalam. Memaksa mengelurkan isinya.
Namun aku tidak mengecewakan Desti, soalnya aku sudah mulai timbul rasa
sayang sama dia. Kutahan desakan maniku. Sabar, belum saatnya. Pelayanan
Desti memang luar biasa, hampir aku dibuat "ngecret" sekali lagi.
Aku minta berganti posisi. Aku ingin menyetubuhi dia dengan cara yang
konvensional, yaitu aku di atas sedangkan dia telentang di bawah. Desti
pergi mengambil bajunya untuk alas dia telentang. Dalam posisi itu
lubang kemaluan Desti terlihat lebih menantang. Lubang kemaluan Desti
benar-benar mengkilat oleh cairanku dan dia. Di bagian dalamnya tampak
busa putih, mungkin itu dari gesekan dahsyat barusan. Kubuka pahanya
lebar-lebar. Aku kembali memasukkan batang kemaluanku. Kali ini lebih
lancar, sebab sudah agak lebar lubangnya. Kembali kugesek-gesekkan
batang kemaluanku dengan cepat. Kali ini aku ingin menuntaskannya, aku
tidak tahan lagi. Gerakan Desti lebih hebat dari sebelumnya, ia
memutar-mutarkan pantatnya. Aku berusaha mengimbangi gerakan liarnya
dengan memutar pinggulku ke arah berlawanan. Rasanya sungguh sangat luar
biasa. Aku tak akan dapat melupakan persetubuhan ini.
Akhirnya, aku merasakan kembali desakan yang luar biasa dari
kejantananku. Aku makin pasrah saat merasakan ada yang menjalar dari
buah zakar menuju dengan cepat ke arah ujung batang kemaluanku. Seluruh
tubuhku serasa bergetar hendak pelepasan.
"Dess.. gue.. sudah tidak kuat lagi.. nihh.. gue keluarin sekarang
yah.." rintihku.
"Sabar.. se.. bentar.. sayang.. barengan.. dong.. gue.. juga.. bentar..
lagi.. sshstt.. hehghh.."
Tiba-tiba batang kemaluanku memuncratkan air mani ke lubang kemaluannya
berkali-kali. Desti menjerit dengan keras, seperti meregang nyawa. Tak
kusangka banyak sekali spermaku yang berlumuran memenuhi lubang
kemaluannya. Kemudian Desti bangkit untuk menjilat dan mengulum batang
kemaluanku yang belepotan sperma. Dia menelan semua spermaku sampai
batang kemaluanku bersih mengkilat. Bibirnya memperlihatkan senyum
kepuasan dan bahagia. Desti memelukku yang masih kelelahan, nafasnya
masih ngos-ngosan. Kami saling mengecup dengan mesra, sambil bercanda
kecil.
Setelah itu kami membersihkan diri bersama sebelum meninggalkan WC.
Selama membersihkan diri kami sempat mengobrol sebentar, soalnya aku
ingin tahu maksud dia melakukan seperti tadi.
"Des, kok elo berani sih ngelakuin itu?" tanyaku.
"Ehmm.. gue.. sebenernya.. emang suka banget sama elo, abis elo orangnya
cool sih, jadi ya.. pas banget sama tipe cowok kesukaanku.." Desti
menjawab agak malu-malu, (dasar).
"Tapi kenapa mesti kayak tadi? Kan elo bisa bilang sama gue.."
"Sorry deh, soalnya gue takut elo nolak gue, gue tidak mau sakit hati.
Aku merasa tidak enak dengarnya. Selama ini aku telah menyia-nyiakan
kesempatan. Lalu aku akhirnya berterus terang kalau aku juga suka banget
sama dia. Dia juga seakan tidak percaya. Saking senangnya, dia langsung
meluk erat dan cium bibirku. Kalau WC ini bisa bicara, mungkin dia
satu-satunya saksi dari kejadian ini.
Kuantar Desti ke rumah kontrakannya kira-kira jam 20:00 WIB. Sebelumnya
kami saling bertukar nomor telepon. Desti sebenarnya dari Bandung dan
memilih kuliah di Jakarta. Dalam perjalanan pulang aku sempat khawatir
kalau persetubuhan yang kami lakukan tadi membuahi hasil, sebab aku
tidak sempat mengeluarkan maniku di luar. Habis keenakan sih.
Semenjak kejadian di WC itu hubunganku terus berjalan, aku sering jalan
bareng, makan, nonton, kadang kami suka melakukan hubungan seks dengan
mencoba berbagai gaya. Ternyata Desti termasuk tipe cewek yang dapat
memuaskan cowok, terbukti dari cara bercintanya. Kami melakukannya
sampai 4 kali dalam sehari. Untuk mencegah kehamilan, katanya dia selalu
minum obat anti hamil setiap habis berhubungan. Namun yang paling
menyedihkan, dia ternyata sudah dijodohkan oleh orang tuanya untuk
menikah dengan pilihan orang tuanya itu. Kami hanya sempat jadian selama
6 bulan. Dia dipanggil orang tuanya ke Bandung untuk menikah dengan
tunangan resminya. Namun dia bilang ke aku, kalau tunangannya itu cuma
dapat tubuhnya saja, bukan hatinya, sedangkan hati dan tubuhnya tetap
selalu ada padaku. Dia sekarang sudah menikah. Walaupun begitu, kami
tetap saling e-mail untuk melepas kerinduan kami. Kalau dia kebetulan ke
Jakarta tanpa sepengetahuan suaminya, kami tak segan-segan bercinta
sepuasnya.
Begitulah kisahku. Kejadian yang kualami tak dapat kulupakan dalam
hidupku. Siapa yang menyangka, cowok yang kuper sama cewek sepertiku
ternyata dapat langsung mencicipi tubuh cewek. Hal itu membuatku jadi PD
dengan cewek, sehingga aku sekarang jadi lebih terbuka sama cewek. Tapi
bukan berarti aku play boy, kalau itu aku sama sekali tidak suka. Bagi
para netter atau pembaca setia situs 17tahun ini yang ingin kasih
komentar silakan kirim pendapat anda ke email-ku. Kalau ada perkembangan
baru, mudah-mudahan dapat kulanjutkan lagi kisahku.
|
|
|
|