|
Widya 1: A Long Day at the Office |
Jakarta, medio September 2000.
05:00 WIB..
Bip.. Bip.. Bip.. Bip
Terdengar suara mirip alarm berbunyi berulang-ulang saat aku masih
meringkuk di balik selimut hangat dan nyaman yang menemani tidurku
sepenjang malam.
Bip.. Bip.. Bip.. Bip..
Menyebalkan sekali bunyi itu. Kuletakan kedua tanganku di kepala dan
mulai memijit-mijit halus kepalaku agar rasa pening ini segera berlalu
dan aku dapat meneruskan percumbuanku dengan ranjang ini.
Bip.. Bip.. Bip.. Bip..
Ah! sebegini parahkah hangover yang aku alami? Aku memang semalam minum
agak banyak dalam pesta ulang tahun rekan kantorku Diana yang diadakan
di News Cafe Kemang. Aku ngerasa betul-betul 'having a good time' sampai
lepas kontrol menghabiskan 2 gelas contreau' ditambah segelas 'Long
Island. Aku memang bukan tipe wanita peminum (Thank God!), namun dalam
saat-saat tertentu aku bisa minum diluar kemampuanku apalagi ketika aku
sedang benar-benar in the good mood.
.. Bip.. Bip.. Bip..
Bunyi itu rasanya familiar buat pendengaranku. Sepertinya bunyi yang
rutin kudengar tiap hari. Mana mungkin pikirku.. Aku khan nggak tiap
hari minum sampai 'hangover begini. Tunggu sebentar.. Wait a second..
Aku mengumpulkan kesadaranku yang masih melayang kira-kira setengah
meter diatas tubuhku.
"Ya ampun suara itu..!"
Tersentak aku sambil bangun dari ranjangku setengah melompat. Itu bunyi
alarm jam-ku! 'Oh Widya kenapa jadi begini!' Kukenali suara itu.. Itu
suara si peri baik yang biasanya berbisik di telinga kananku. 'Jangan
sampai telat lho' katanya lagi menasihatiku. Aku menjawab nasehatnya
dengan segera masuk ke shower dengan langkah yang masih setengah
diseret. 'Ah Widya.. Udahlah ngapain susah-susah.. Khan lamu bisa telpon
kantor terus bilang nggak enak badan' Nah yang ini pasti suara si peri
nakal yang selalu berbisik di kuping kiriku. 'Just one phone call aja
dan kamu bisa kembali merasakan kenyamanan ranjangmu' ucapannya kian
menggoda.
Nggak mungkin lah kataku dalam hati. Soalnya hari ini aku harus ketemu
supplier-ku dan nggak mungkin di cancel begitu aja. Segera aku membuka
kran shower dan si peri pun lenyap tersapu air deras yang menerpa
kulitku. Sejenak aku melirik ke kanan dan kulihat si peri baik tersenyum
kepadaku. Seperti biasa aku tidak pernah memakai water heater/pemanas
untuk mandi pagi karena aku lebih suka membiarkan dinginnya air shower
ini memberikan 'shock terapi buat mengusir rasa malas dan kantuk-ku.
Betapa segarnya merasakan siraman shower di atas kepalaku bagaikan
rintik hujan yang terus-menerus menerpa membuatku sejenak memejamkan
mataku dan membiarkan air dari shower itu terus turun menjelajahi
lekuk-lekuk tubuhku. Kurasakan sejuknya air membelai tubuhku dari atas
sampai ke bawah menggelitik tubuhku dengan rasa dinginnya. Rasa
dinginnya menimbulkan rasa merinding terutama di wilayah dadaku. Terasa
payudaraku agak mengeras dan kedua puting susu-ku yang berwarna merah
muda agak kecoklatan menjadi lancip meregang suatu sensasi yang sulit
diungkapkan. Kuteruskan mandi pagiku dengan bersenandung dan kadang
menyanyikan potongan bait lagu Mariah Carey kesukaanku.. And the hero
comes along.. With the strength to carry on..
20 menit kemudian aku sudah berada di meja makan, menghabiskan sarapan
pagiku sambil terburu-buru. Oh ya aku sangat mengutamakan sarapan karena
aku tipe pekerja yang aktif bahkan cenderung workaholic. Berbeda dengan
teman-teman wanitaku yang lain, aku tidak terikat untuk melakukan diet.
Pertama adalah karena aku tipe sibuk dan banyak kegiatan sehingga selalu
butuh tambahan energi, kedua adalah karena aku tipe cewek yang susah
gemuk. Bukan karena cacingan tapi karena kegiatanku yang padat membuat
bentuk tubuhku senantiasa terjaga.
Pukul delapan tepat saat aku melirik jam tanganku ketika memasuki pintu
kantor Segaris senyuman ramah dari Nina resepsionis kantor menyambutku
hangat. Ucapan selamat pagi kuterima dari Bramanto, satpam kantor yang
bertubuh tinggi besar namun memiliki suara seperti tikus kejepit.
Kontras sama bodinya. Aku balas menyapanya sambil berlalu menuju ruangan
kerjaku.
Perusahan tempat aku bekerja ini adalah perusahaan percetakan dan
penerbitan terbesar di indonesia dan aku adalah salah satu manager
disitu. Usiaku 28 tahun dan ini adalah tahun keempat aku bekerja disini.
Gelar S1 UI dan S2 di sebuah perguruan tinggi di Australia sepertinya
sangat menolongku mencapai posisi ini dalam waktu relatif cepat. Cukup
cepat sehingga menimbulkan kecemburuan diantara rekan-rekan senior
disini. Well, bagiku itu problem mereka yang penting aku tidak menginjak
kepala mereka untuk menduduki jabatan ini.
Ruang kerjaku terletak di lantai 4 di gedung milik perusahaanku. Gedung
yang cukup besar karena sekaligus menjadi satu dengan tempat percetakan
dan penerbitan. Ruang kerjaku tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil.
Cukuplah bagiku untuk bisa melakukan senam-senam kecil di siang hari. Oh
iya itu merupakan salah satu kebiasaanku untuk menghilangkan penat dan
merenggangkan otot. Kebiasaan itu terbukti cukup sukses mengurangi
stress dalam bekerja.
"Tok.. Tok.. Tok" terdengar ketukan dan sesaat kemudian seraut wajah
muncul dari balik daun pintu itu.
"Hai.. Good morning Wid" ucapan itu muncul dari wajah ganteng milik
Hendra asistenku.
"Eh.. Pagi Hen" jawabku.
"Wah gimana Wid.. Masih hangover?" Hendra bertanya sambil melangkah
duduk di depan mejaku.
"Thank God nggak tuh.. Tadi waktu bangun tidur sih sempet agak pusing
tapi sekarang sudah enggak lagi tuh".
Hendra semalam yang terpaksa mengantarku pulang karena aku sudah terlalu
'hi' buat mengemudi.
"Sungguh.. Aku baru kali itu liat kamu mabuk Wid" ujarnya sambil sebuah
map berisi berisi beberapa berkas yang harus kuperiksa.
"Oh ya.. Aku juga enggak tahu tuh bisa kebablasan minum gitu" aku
menjawab dengan enteng sambil membaca berkas-berkas yang disodorkannya.
Hubunganku dengan Hendra memang lebih mirip hubungan antar teman biasa.
Aku sendiri yang meminta dia agar bersikap informal dalam hubungan kita.
Dia baru mulai bersikap formal dengan memanggilku 'bu' apabila dalam
situasi-situasi tertentu saperti dalam rapat atau di depan atasanku.
Umur kita berdua hampir sama. Aku cuma lebih tua setahun darinya. Hendra
sudah berkeluarga dengan satu orang putra balita. Kami biasa bercerita
apa saja mulai dari masalah keluarganya atau kantor bahkan sampai
masalah sex kami bicarakan dengan gamblang. Tidak jarang kita suka
bertukar joke-joke ringan mengenai sex.
Hendra memang ganteng tapi cara bicara dia yang halus bahkan cenderung
kemayu makin membuatku tidak risih dengannya. Kalau bisa dibandingkan,
gaya bicara dan tindak tanduknya mirip Syahrul Gunawan bintang sinetron
yang kemayu itu. Malahan dalam urusan gosip dia menjadi trend setter di
kantorku. Apabila terlihat kerumunan ibu-ibu saat jam makan siang dan
suasananya riuh, dapat dipastikan kalau Hendra berada ditengah-tengahnya
sedang memeberikan laporan up to date-nya tentang gossip hari itu.
"Hen, bagaimana tentang nanti siang? Jam berapa Pak Faisal datang?"
tanyaku. Pak Faisal itu adalah suplier yang akan kutemui siang ini.
"Oh iya.. Dia datang setelah jam makan siang"
"Tadi sekretarisnya sudah confirm kesini" ujarnya lagi menambahkan.
"Eh tahu nggak Wid tentang desas-desus Mbak Diana dengan si Nina
resepsionis itu?" kata Hendra mulai dengan nada 'rumpi-nya'.
Memang akhir-akhir ini di kalangan keryawan disini tersebar isu yang
mengatakan kalau Diana teman kantorku dari bagian finance yang semalam
berulang tahun itu seorang 'lines' (lesbian) dan memiliki 'affair'
dengan Nina resepsionis baru kantorku.
"Ah masa sih.. Diana khan sudah punya suami" aku menimpali sambil
membereskan beberapa pekerjaanku.
Sebetulnya aku nggak suka ngomongin sesama teman. Apalagi gosipnya
termasuk dalam kategori 'berat' seperti itu.
"Tapi kayaknya benar tuh.. Akhir-akhir ini mereka suka keluar makan
siang berdua dan selalu nggak mau gabung kalau diajak makan bareng sama
yang lain". Hendra makin seru dengan gosipnya. Kemudian dengan
menurunkan nada suaranya ia berkata," Ada lagi yang lebih parah Wid".
Melihat ekspresi Hendra yang serius aku jadi mulai penasaran akan
ceritanya.
"Parah gimana?" tanyaku sambil ikut2an merendahkan nada suaraku.
"Si tikus kejepit Bramanto.. Pernah liat mereka berdua kiss-kissan
sambil pegang-pegangan di toilet".
Wah seruku dalam hati. Gosip sih gosip, tapi kalau ternyata memang
betul?
"Pervert banget dong.. Si bramanto ngomong benar tuh?" kini aku
benar-benar tertarik. Tak dapat terbayangkan olehku kalau di kantor ini
telah terjadi hal-hal yang betul-betul 'kinky' itu.
"Aku sih percaya omongan dia.. Lagipula kamu nggak tahu yah kalau
semalam Mbak Diana tuh pulangnya bareng Nina. Lagian baru kali ini khan
anak resepsionis yang masih baru sudah diundang acara luaran kita"
katanya lagi.
Wah aku tidak sanggup meneruskan bayanganku tentang hubungan mereka itu.
"Ah thats enough Hen.. Aku sih mending diam ajalah.. Kecuali benar-benar
ngeliat di depan mata kepala sendiri" Kataku, ingin segera menyudahi
pembicaraan ini karena aku merasa bersalah sudah membayangkan Diana
melakukan perbuatan itu.
"Ok ok terserah kamu deh Wid, moga-moga juga gosip itu nggak benar
semua.. Aku cerita ke kamu aja sih soalnya khan kamu termasuk dekat sama
Mbak Diana" Kalimat Hendra seakan mencari pembenaran bagi ke'ember'annya
itu.
"Knock it off.. Will u.." kataku sambil bercanda dan mengibaskan
tanganku seakan aku tidak begitu tertarik dengan gosip itu." I think we
better back to work.. Ndra tolong kamu siapkan berkas penawaran dari
suplier sebelumnya and i want it on my desk before lunch time" Sudah
cukup 'chit-chat-nya' dan aku kembali ke gaya kantoran lagi.
"Ok deh mam'.. Eh kamu mau lunch bareng enggak nanti?". Hendra bertanya
sambil melangkah menuju pintu.
"Mmm.. Aku mau makan siang di sini aja.. Thx buat ajakannya" jawabku.
Snip! Hendra membalas dengan menjentikan jarinya lalu jari telunjuknya
mengarah padaku lalu dengan gaya kartun-nya yang agak ngeselin dia
mengedipkan matanya sambil berucap" see u then".
Grown up man! itu yang terucap dalam hatiku melihat tingkah Hendra yang
kadang masih kekanakan. Anyway kalau nggak ada dia aku kesepian juga sih
soalnya dia orangnya easy going dan asyik aja (kecuali kalau kita lagi
serius kerja). Geli juga sih ngebayangin gimana kelakuan dia di rumah.
Khan dia sudah berkeluarga. Gimana cara istrinya menghadapi sifat
'rumpi' dan childish suaminya itu? 'Widya.. Go back to work!' Ah si peri
manis kembali berbisik di telinga kananku mengingatkanku agar kembali ke
pekerjaanku.
Belum sejam aku tenggelam dalam kesibukanku aku mendadak dikejutkan
dengan suara berisik dari jendelaku. Begitu aku palingkan wajahku ke
arah jendela tampak sesosok tubuh pria berdiri diluar. Oh rupanya itu
maintenance kantor yang sedang membersihkan jendela dengan menggunakan
lift khusus untuk membersihkan jendela gedung tinggi. Kulihat petugas
pembersih itu mengenakan safety helm dan kemeja seragam maintenance
kantorku. Dipinggangnya dia memakai ikat pinggang pengaman dan berbagai
alat pembersih tergantung di pinggangnya. Terlihat wajahnyayang keras
dan kulitnya terbakar ditimpa matahari.
Gerakan tangannya yang berotot itu terlihat luwes menggerakan pembersih
kacanya sementara tangan yang satu lagi sesekali menyemprotkan cairan
pembersih. Mataku tertuju pada bagian celananya yang terlihat menyembul
tanpa kusadari aku menelan ludah menatap daerah kejantanan pria itu yang
terlihat seperti polisi tidur menggunduk di daerah retseling celananya.
'Mmm pasti kokoh dan besar'ups o'o itu pasti suara peri nakal di telinga
kiriku! Segera aku meninggalkan pandanganku dari petugas pembersih itu.
Ada perasaan malu timbul dalam hatiku. Perasaan gengsi karena petugas
maintenance itu telah 'membius' pandanganku. Untung jendela kantorku
terbuat dari kaca gelap yang memantulkan cahaya dari luar. Pasti orang
itu tidak tahu kalau aku tadi memandangnya seakan ingin 'menelan' (atau
lebih tepat mungkin mengulum) bagian 'itu'. Aku kembali ke pekerjaanku
sambil sesekali menengok ke jendela. Aku merasa seperti rugi melewatkan
'pertunjukan' yang jarang ini (jendela kantorku dibersihkan 2 minggu
sekali itu pun belum tentu dengan orang yang sama).
Limebelas menit kemudian dia menghilang dari jendelaku pindah ke tingkat
lain. Saat itu Hendra kembali datang dan menyerahkan berkas yang aku
minta padanya. Hendra masih sempat mengajaku lunch bersamanya di luar
tapi kutolak karena aku memang sedang tidak ingin keluar kantor. Mungkin
karena tadi pagi sarapanku cukup banyak sehingga aku memutuskan hanya
menyantap apel yang kubawa dari rumah.
Biasanya segera setelah memasuki jam istirahat kantor aku melakukan
senam-senam ringan di ruanganku. Hal itu kulakukan rutin hingga menjadi
semacam ritual harian bagiku. Lebih baik aku makan siang dengan porsi
kecil plus senam ringan daripada aku pergi makan hingga kenyang tapi
mengakibatkan rasa kantuk dan penat sepanjang sisa waktu kerja.
Kunyalakan stereo set di ruanganku dengan remote kemudian aku melepas
sepatu dan duduk agak selonjoran dengan santai di kursi. Kuangkat kedua
tungkai kakiku dan kuletakan diatas meja dengan posisi kaki saling
menyilang. Kuhabiskan apel yang kubawa dari rumah lalu kemudian meminum
sebotol air mineral. 'How refreshing! aku tetap duduk santai sambil
menggerakan ujung jari kakiku unutuk meregangkan otot. Suasana kantor
yang begitu tenang karena para karyawan sedang istirahat makan siang
membuatku merasakan suasana privacy yang tentram. Bayangan petugas
pembersih jendela itu kembali memenuhi fantasi-ku.
Sebenarnya aku adalah tipe wanita yang sangat pemilih dalam menentukan
pria yang akan kujadikan pertner dalam masalah sex. Biasanya aku
memiliki standar yang tinggi akan hal itu. Salah satu yang penting
adalah pria itu haruslah memiliki tingkat intelektual minimal sama
denganku. Aku suka tipe pria yang tenang, dewasa dan gentle. Seorang
pria yang mempu memberikan kepuasan psikologis daripada sekedar
kenikmatan fisik yang hambar.
Selama ini rekan kencanku adalah pria berlatar belakang pendidikan
tinggi dan mampu melakukan 'clever conversation'. Akan tetapi entah
mengapa dalam berfantasi aku lebih suka membayangkan pria-pria kasar
dengan fisik yang kekar dan kuat. Tipe-tipe pekerja low class yang
mengandalkan otot daripada otak. Lebih nikmat rasanya membayangkan
mereka merengkuh tubuhku dengan kasar dan meniduriku dengan senggama
yang liar.
Bayangan pria pembersih jendela tadi diam-diam membangkitkan libidoku.
Terasa jelas tubuhku mulai dialiri gairah hangat yang berwujud suatu
perasaan sensasi seperti aliran listrik halus menggelitik naik mulai
dari ujung kaki lalu perlahan lahan naik ke atas menjalari segenap
bagian tubuhku. Tanganku secara otomatis bereaksi dengan mulai menyentuh
dan mengusap-usap kedua pahaku yang di balut stocking yang halus. Tangan
kiriku mulai meremas payudaraku dan tangan kanan membelai paha bagian
dalam hingga menyentuh tepat diantara kedua kakiku. Tanpa sadar aku
merentangkan kedua kakiku selebar mungkin diatas meja hingga rok kerjaku
kusut terangkat hingga pinggang.
Kubayangkan tangan-tangan kasar pria itu meremas dan mempermainkan buah
dadaku. Kubayangkan tangannya menyusup ke balik baju dan BH-ku dan mulai
mempermainkan puting susuku. Gerakan jari-jarinya begitu kasar hingga
mulai memelintir dan 'menjewer' kedua puting-ku. Terasa bagian tengah
celana dalamku yang masih terlapis pantyhose mulai basah. Kuteruskan
gerakan tanganku dengan menekan kuat daerah klitoris dan melakukan
gerakan 'tekan dan putar' mirip gerakan mengulek. Ahh.. Nafasku mulai
berat memburu. Kuatur dengan menarik nafas panjang. Lalu kubayangkan
pria tadi melepaskan celana kerjanya.. Kubayangkan kejantanannya yang
besar dan kokoh itu berdiri bebas tanpa ditutupi celananya. Lalu
perlahan diletakan di bibir kewanitaanku.
Kini kedua belah tanganku membelai daerah pangkal paha sambil
kubayangkan kenikmatan yang diberikan olehnya apabila 'kejantanannya'
itu menusuk menghujam kewanitaanku. 'sshh.. Aku mendesis dengan penuh
perasaan merinding yang nikmat mambayangkan hal itu. Terlebih lagi
nikmatnya gerakan kasar pria itu apabila 'memompa' kewanitaannku dalam
senggama yang liar dan kasar. Kian keras aku menekan areal klitoris-ku,
makin cepat seiring kenikmatan dan cairan kemaluanku yang mengalir
keluar seiring kedutan-kedutan di dalam liang kenikmatanku. Makin kuat..
makin kuat hingga kesadaranku menjadi gelap diselubungi kabut kenikmatan
yang memabukan.
Mulutku beberapa kali terbuka lebar megap-megap menahan nafas yang
memburu serta berusaha mencegah suara rintihan itu keluar dari mulutku.
Akhirnya saat kubayangkan pria itu menusuk berulang dan makin keras,
maka terlepaslah samuanya.. Ibarat listrik mengaliri seluruh
persendianku, aku tenggelam dan tersapu gelombang orgasme yang hebat!
kedua kakiku mengejang diatas meja sampai pantatku agak terangkat hingga
posisi duduk-ku makin melorot! Hmm! tak dapat kulihat apa-apa lagi
selain ribuan kunang-kunang menari manyilaukan mataku!
Ahh! Kulepaskan nafasku yang berisi gelombang kenikmatan terakhir lalu
aku kembali lunglai diatas kursi. Terdengar suara tawa si peri nakal
cekikikan di telinga kiriku. Begitu mulai kesadaranku kembali aku dapati
kalau posisi duduku merosot hingga punggungku tinggal bersandar di
dudukan kursi dan bagian pinggang sampai pahaku menggantung diantara
kursi dan meja. Tinggal sebatas lutut hingga ujung kakiku saja yang
masih berada diatas meja mencegahku jatuh ke lantai. Ingin kutetap dalam
posisi itu hingga desah nafasku kembali normal tapi bunyi telpon
membuatku segera bangkit untuk menjawabnya.
"Halo.." desah nafasku masih setengah memburu.
"Halo.. Mbak ini aku" terdengar suara dari ujung sana. Suara itu sangat
kukenal karena itu suara adiku Sonny (Sonny Amulet).
"Lho Mbak kenapa koq nafasnya gitu abis senam apa abis lari?" ujarnya
yang cukup membuat wajahku merah padam.
"Eh aku abis senam.. Ada apa?" aku balik bertanya sambil mengalihkan
perhatiannya dari deru nafasku.
"Lho besok jadi nggak ke nyari PC-nya ke ITC?" jawabnya
Oh iya aku hampir lupa kalau besok aku janji mau menemaninya mengganti
komputer.
"Iya.. Iya gimana dong bukannya kamu kerja sama kuliah?".
"Besok aku kuliah pagi sampai siang.. Soal kerja sih besok nggak ke
kantor lagian Erika keluar kota" jawabnya.
"Oke deh kalau begitu.. Mbak jemput kamu jam 11 di kampus yah.. Tapi
kalau bisa sebelum jam tiga sudah kelar soalnya Mbak harus ke tempat
suplier jam tiga".
"Ok deh bisa.. Sebentar koq paling 2 jam-an" katanya memastikan.
"Ok deh.. Ampe besok Mbak daah" tanpa menanti jawabanku dia menutup
telponnya.
Dasar tuh anak kalau ada maunya bisa aja. Aku segera merapikan bajuku
mengenakan sepatu lalu ke toilet untuk segera membersihkan bagian
kewanitaanku yang 'kegerahan'. Siang itu pertemuan dengan Suplier
berjalan dengan baik dan segalanya sesuai dengan rencana.
Sore itu selepas jam kantor aku masih saja berada di ruang kerjaku.
Seperti biasa aku membereskan semua sisa pekerjaanku sekaligus semacam
evaluasi pribadi akan kinerjaku hari itu. Itu merupakan salah satu
kebiasaanku karena aku tidak mau ada sesuatu yang tercecer atau
tertinggal hingga membuatku repot di hari berikutnya. Dan seperti
biasanya suasana lalulintas di depan kantorku sangat padat (nggak cuma
di depan kantorku sih.. Di jakarta memang dimana-mana padat kalau jam
pulang kantor). Biasanya aku suka mampir di Playan yang kebetulan dekat
dengan kantorku dan bersama beberapa rekan kantor 'hangout'di kafe wien
sampai keadaan jalan mulai lenggang baru pulang. Tapi saat itu aku malas
beranjak keluar kantor dan iseng browsing di internet sambil minum
capucino.
20 menit kemudian aku merasa harus segera ke toilet dan seperti biasa
aku suka menggunakan toilet yang terletak di bagian direksi. Alasanku
adalah karena toilet wanita disana lebih jarang digunakan karena biasa
hanya digunakan oleh tamu direksi yang wanita dan para sekretaris
direksi saja (lagipula para direksinya adalah pria semuanya) jadi lebih
memenuhi rasa higienis-ku.
Aku melintasi ruang kantor utama yang sudah kosong menuju ke bagian
selatan lantai 4 ini. Di bagian direksi sebagian besar lampu sudah
dipadamkan sehingga hanya lampu2 pada koridor saja yang masih tetap
menyala. Sebenarnya suasana temaram dan sepi ini agak menyeramkan tapi
karena sudah empat tahun bekerja disini aku sudah familiar dengan
suasana gedung ini. Lagipula di lantai satu dan dua di bagian produksi
kegiatan tetap berlangsung dan masih ramai dengan pekerja. Aku memasuki
toilet wanita yang terletak di tempat paling ujung bagian direksi.
Lampunya masih menyala dan tanpa ragu aku melangkah masuk ke dalamnya.
Begitu memasuki toilet aku langsung melewati jajaran wastafel di kedua
sisi dengan cermin sepanjang dinding kedua sisinya. Ada empat bilik
toilet di dalamnya. Di pintu masuk dua bilik pertama tergantung sign
"RUSAK/DALAM PERBAIKAN" sehingga aku memasuki pintu ketiga. Ketika aku
sedang duduk di toilet itu ada perasaan aneh yang muncul. Perasaan yang
mengatakan kalau aku tidak sendiri di ruangan ini. Insting-ku seperti
merasakan kehadiran orang lain di ruangan ini.
Aku segera mengusir perasaan itu jauh-jauh dan segera setelah selesai
buang air kecil aku segera membersihkan diri (tentunya flushing the
toilet juga) lalu ingin segera meninggalkan ruangan yang mulai 'spooky'
itu. Belum sempat aku keluar tiba-tiba pintu masuk toilet terbuka dan
terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa. Ada sedikit suara bisik-bisik
singkat yang membuatku mengenali suara itu.
Itu suara Diana! rasa ingin tahuku keluar hingga aku perlahan membuka
pintu bilik-ku mengintip. Rupanya mereka berada di sisi yang sama dengan
jajaran bilik toilet sehingga aku tidak dapat melihat langsung ke arah
mereka. Akan tetapi cermin besar sepanjang sisi seberangnya membuatku
bisa melihat mereka melalui cermin itu. Dan apa yang kulihat benar-benar
membuat kedua lututku gemetar. Diana dan Nina si resepsionis sedang
bergelut penuh nafsu birahi! Kulihat bibir keduanya saling menempel erat
dan desah nafas mereka berdua terdengar keras memenuhi ruangan itu.
Perasaan antara jijik dan shock aku rasakan menyaksikan dua orang wanita
yang kukenal melakukan hubungan sejenis di depan mataku. Ingin aku
memalingkan muka karena muak melihat perbuatan mereka namun rasa ingin
tahu-ku terlalu kuat hingga aku menyaksikan 'permainan' mereka dari
balik pintu toilet ini.
Diana terlihat lebih mendominasi 'pergumulan' itu sedangkan Nina lebih
tampak sebagai objek pemuas. Tangan Diana tampak begitu rakus dan liar
menjelajahi setiap lekuk tubuh Nina. Dua pasang tangan yang halus dan
lentik terlihat tergesa-gesa saling mencopot pakaian bagian atas
pasangan masing-masing.
Sepasang bibir yang sama-sama mengenakan lipstik tampak sangat tidak
wajar saling menempel lekat seperti itu. Bahkan bayanganku tentang
hubungan lesbian selama ini tidak se'seram' kenyataan yang terlihat
gamblang di depan mataku. Aku menarik nafas panjang dan sejenak berusaha
menerima fakta di depanku bahwa gosip si Hendra benar dan cerita
Bramanto si satpam juga benar adanya. Tapi mengapa harus Diana? mengapa
harus teman yang telah kukenal sejak pertama kali aku kerja disini dan
mulai cukup dekat dua tahun terakhir ini.
Aku tidak menyebut akrab karena hubunganku dengannya memang hanya
sebatas hubungan kantor dan di acara-acara luar kantor yang melibatkan
orang-orang dari kantor (such as ultah-nya semalam). Tapi kuakui selama
dua tahun terakhir ini kita berdua cukup intens dalam berhubungan. Diana
cukup sering menelpon dan bercerita banyak hal denganku. Memang belum
sampai dalam taraf curhat sih soalnya kami berdua seperti-nya tipe
wanita yang lebih suka menyimpan hal-hal pribadi dan hanya menikmati
percakapan yang bersifat umum dan populer saja.
Oh iya Diana adalah wanita yang telah berumah tangga, usianya 30 tahun
wajahnya menarik dan memiliki pesona kematangan seorang wanita yang
pastinya sangat sexy khususnya di mata pria berpendidikan yang suka
dengan wanita yang memiliki intelektualitas dan mandiri. Nina sendiri
masih terlihat sangat muda, mungkin sekitar 22-23 tahun umurnya.
Kulitnya kuning langsat dan wajahnya khas mojang Priangan dengan
kecantikan yang lumayan.
Kulitnya tampak kencang dengan payudara dan bagian pantat yang cukup
montok. Tubuhnya lumayan jangkung dan jujur saja membuatku iri (padahal
tinggi badanku yang 162 cm ini menurut teman-teman sudah cukup tinggi).
Tapi tetap saja aku iri dengan tinggi badannya titik. Saling bergantian
kedua wanita itu melepaskan nafsu mereka meremas, dan kemudian
menghisap, menjilat (etc.. Etc segala jenisnya) payudara pasangannya.
Kemudian tubuh Nina yang langsing itu tampak beranjak duduk diatas
wastafel. Diana dengan sigap menarik celana dalam pasangannya sampai
lepas hingga tersangkut di sebelah kakinya lalu melakukan oral. YUKS!!
agak mual aku membayangkan bila aku yang harus melakukan itu. Adakah
kenikmatan yang didapatkan dengan mencumbui kemaluan dari sesama
wanita?? Setidaknya itu yang ada di pikiranku pada awalnya.
Tubuh Diana dalam posisi berlutut. Kepalanya tepat berada diantara paha
milik Nina yang kadang-kadang menutup mengejang menahan geli.
Kuperhatikan wajah Nina yang sangat 'ekspresif' menterjemahkan tiap
kenikmatan yang dirasakannya. Matanya yang sayu terbius kenikmatan
kadang agak mendelik dan kadang terpejam dalam waktu lama seiring
galombang kenikmatan yang datang menerpanya bagaikan ombak memecah
pantai silih berganti. Kedua telapak tangannya yang halus itupun seperti
mengikuti irama yang sama dengan ekspresi wajahnya menjelajahi tiap
bagian dadanya sendiri. Terkadang tangannya membelai, kadang seperti
menggaruk dan memelintir kedua ujung payudaranya sendiri. Dia menikmati
itu semua serasa dia hanya sendiri diruangan ini.
Kedua pasangan itu tampak seperti menikmati permainan mereka dengan cara
sendiri-sendiri. Kurasakan detak jantungku kian berdentang kencang dan
nefasku kian berat. Lambat tapi pasti fantasi memenuhi kepalaku. Aku
membayangkan kenikmatan saat aku melakukan masturbasi tadi siang.
Posisiku yang sedang mengintip menimbulkan semacam sense of privacy yang
membuatku makin tenggelam dalam permainan panas yang disuguhkan dua
insan sejenis di depan mataku.
Seumur hidupku belum pernah aku melihat langsung wanita yang sedang
berhubungan sex (jelas karena selain bukan lesbi aku juga belum pernah
melakukan orgy or threesom). Ketika masih kuliah beberapa kali aku
pernah berkencan di motel kelas 'mahasiswa' yang full cermin sampai ke
plafon hingga aku bisa melihat diriku bagai dalam aquarium. Tapi berbeda
menyaksikan diriku sendiri bercinta dengan menyaksikan wanita lain yang
memiliki tubuh yang lekuknya tidak kukenal. Aku merasakan ada suatu
pesona unik dalam tiap geliat tubuhnya itu. Pesona yang kuyakin diliat
juga oleh partner sex-ku dalam diriku. Setidaknya ini akan menambah
percaya diriku apabila ber-intercourse kelak.
'Widya.. What are u doing honey!!' suara itu tiba-tiba membuyarkan
konsentrasiku. Si peri baik lagi.. Ah selalu tepat disaat-saat tidak
dibutuhkan' keluhku dalam hati. 'Kamu harus malu sama diri kamu sendiri'
suaranya tajam menusuk persaanku. Betul juga sih.. Untuk apa aku
mengintip seperti ini? aku jadi malu sendiri. 'Hah abis harus gimana
lagi dong khan kamu terjebak disini' uh itu si peri nakal membela-ku
kali ini. Iya betul aku khan nggak sengaja. Lagian khan lebih tidak
menyenangkan kalau saat ini aku keluar dan mengganggu 'permainan'
mereka. Bukannya aku setuju dengan perbuatan mereka, tapi bagaimana
caranya? Apakah aku harus keluar lalu menyapa 'hai diana, hai Nina'
terus berlalu? Jelas nggak mungkin dong!
Sebersit perasaan bersalah muncul dalam hatiku. Kenapa tidak sejak awal
aku keluar dari bilik ini saat mereka masuk pertama kali. Mungkin hal
itu akan membatalkan niat mereka. Tapi kembali kupikir bahwa disini atau
ditempat lain sama saja. The point is: Diana dan Nina itu betul-betul
Lesbian! dan mereka pasti akan melakukan perbuatan itu walau tidak
disini!
Segera aku mengusir rasa bersalah itu jauh-jauh. Kutinggalkan peri nakal
dan peri baik saling bertengkar dan kembali aku memusatkan perhatian
kepada sepasang wanita yang sedang mabuk oleh hasrat 'panas'
masing-masing. Sekarang Diana sudah duduk di tepi wastafel disamping
Nina mereka berciuman sejenak lalu keduanya merogoh tas memsing-masing
dan mengeluarkan masing-masing mengeluarkan benda panjang dan lonjong
yang sudah sangat aku kenal.. Dildo!
'My God.. Mereka pasti sudah merencanakan ini' aku terkejut melihat
'peralatan' mereka yang cukup lengkap itu (jelas menunjukan niat
mereka). Kedua dildo itu berwarna biru muda dan memiliki ukuran panjang
sekitar 20 cm (sepertinya dibeli bersamaan di satu tempat melihat model
dan warnanya seragam). Aku cukup akrab dengan 'mainan' itu karena aku
memiliki 'koleksi-nya' dirumah.
Aku sebut koleksi karena aku sama sekali tidak pernah menggunakannya dan
belum terpikir untuk mencobanya karena bagiku fantasy abstrak dan
sentuhan alami lebih dapat dinikmati daripada sentuhan stimulasi kasar
dari benda yang cukup 'imajiner' bentuknya itu. Aku memiliki dua buah
alat stimulasi sejenis. Sebuah Dual-dildo (dildo yang memiliki dua
'kepala' sehingga bisa digunakan bersamaan dengan arah yang berlawanan),
dan satu vibrator jenis standar yaitu dildo yang mampu bergetar dengan
tenaga batere dengan tiga tingkatan kecepatan yang dapat diganti-ganti.
Benda-benda 'kinky' itu adalah oleh-oleh dari Caroline-gadis Singapura
yang pernah jadi roommate-ku ketika studi pasca serjana di Aussie. Dua
tahun lalu dia liburan ke jakarta dan menghadiahi aku 'mainan' itu. Biar
aku tetap inget masa gila-gilaan kita berdua di Aussie katanya. Well.. I
do have a good time waktu itu (mungkin akan aku ceritakan di kisahku
yang lain). Ups, aku malahngelantur mikirin yang lain. Ok back to the
'love' scene lagi deh.. Diana dan Nina duduk bersandar pada cermin
diatas wastafel.
Kini giliran Nina yang gencar mencumbui leher Diana yang tampak
mengkilat bersimbah peluh. Keduanya menggenggam dildo masing-masing
dengan pegangan yang begitu mesra serasa seperti memegang sesuatu yang
lain. Sesuatu yang dengan jelas dan eksplisit direpresentasikan oleh
bentuk dildo itu. Sekitar 10 menit kemudian ruangan toilet itu di penuhi
suara nafas dan lenguh kenikmatan tatkala sepasang wanita cantik itu
mulai menggunakan 'mainan' mereka sesuai dengan kegunaannya. Kakiku
mulai terasa letih disaat Diana dan Nina mulai melenguh panjang dengan
nafas yang menderu saling bersahutan. Makin liar mereka 'memainkan'
dildo ditangan mereka yang tersembunyi di didalam rok kerja mereka.
Jelas terlihat guratan kenikmatan memenuhi ekspresi Diana. Sedangkan
wajah Nina terlihat mulai 'blushing', merah padam. Sedetik kemudian
tubuh mereka berdua mengejang menahan derasnya orgasme yang jelas
terlihat menyelimuti getaran tubuh mereka berdua. Mereka bagai hendak
menghujamkan dildo itu sampai tertelan semuanya dalam kewanitaan mereka
dan tangan mereka yang bebas saling menggenggam erat.
Begitu eratnya sehingga baru terlepas perlahan sesaat setelah desahan
nafas kenikmatan terakhir mereka berlalu. Aku merasa sudah cukup melihat
semuanya. Lebih dari cukup buatku menyaksikan suatu pemandangan yang
membuatku cukup shock sekaligus membawa sensasi kenikmatan dan keindahan
tertentu dalam diriku. Yang jelas aku seperti melihat sesuatu yang baru
dalam diri kaumku sendiri-Lesbian itu nyata adanya! Aku terduduk lemas
di atas tutup closet. Terasa peluh di bagian leherku mengalir hingga ke
dadaku. Aku terus diam sampai mereka berdua meninggalkan ruangan dengan
hanya memperdengarkan suara pintu yang ditutup perlahan. Lega rasanya
bebas setelah terjebak dalam toilet akibat ulah sepasang wanita yang
dimabuk 'cinta'tadi. Bagiku kata mabuk saja lebih cocok dibanding kata
cinta.
My God! dalam keadaan mabuk berat sekalipun aku masih cukup waras untuk
tidak bercumbu dengan pasangan sejenis. Segera aku keluar dan ketika
melewati deretan wastafel aku menyempatkan diri merapikan diri di depan
cermin (always) Tentunya aku tidak bercermin di deretan wastafel tempat
Diana dan Nina tadi karena ada semacam perasaan 'emoh menyentuh ataupun
mendekati bekas tempat mereka 'bermain' tadi. Bahkan aku masih merasakan
sisa aura mereka di bagian itu.
Aku meraih HP-ku dan segera men-dial no telepon Hendra. Tidak sabar aku
ingin mendengar komentarnya akan apa yang baru saja aku alami disini.
Biasalah dalam keadaan seperti ini aku tidak dapat menahan keinginan-ku
untuk segera bergosip (panggilan jiwa!! Nggak salah khan?).
Tiba-tiba aku tersentak dan memekik tertahan mendengar bunyi ponsel yang
suaranya cukup menyolok pendengaran (karena suasana sedang hening) dan
berasal dari salah satu bilik toilet yang dipintunya terpampang sign
rusak tadi! Suara itu diikuti suara hentakan sepatu dan bunyi benturan
di pintu bilik itu.
"Siapa disitu!" dengan spontan aku menegur dengan hati ciut.
Karena kaget aku segera mematikan ponselku dan menanti jawaban dari
balik pintu. Sesaat kemudian pintu itu terbuka dan betapa terkejutnya
aku melihat wajah Hendra asisten-ku muncul dari balik pintu kedua
toilet! Lho..! kata-kata itu hampir bersamaan keluar dari mulut kita
berdua dengan penuh rasa terkejut.
Wajah Hendra masih tampak dengan ekspresi kaget dan konyol-nya itu
ketika pintu bilik pertama terbuka dan Bramantio-si Satpam keluar dengan
melongo kepadaku tanpa mampu berkata apa-apa! Antara kaget dan malu aku
menghardik mereka berdua bagai seorang kakak yang marah pada
adik-adiknya.
"Ngapain kamu berdua disini.. Di toilet wanita?"
Aku segera sadar kalau mereka rupanya sudah janjian ngintip Diana dan
Nina disini.
"Lha kamu sendiri ngapain?" ucap Hendra dengan lugu sekenanya.
"Lho ini kan toilet wanita jelas aku ada keperluan masuk ke sini" kataku
dengan nada meninggi.
Aku kesal pada mereka berdua karena merasa bahwa mereka telah mengganggu
privasi-ku disini. Kesal karena baru sadar kalau dua orang lelaki ini
tadi juga telah ada saat aku duduk di closet. Walaupun aku cuma pipis
tapi ada semacam sense of privacy-ku yang dilanggar dengan kehadiran dua
pria ini kendatipun aku juga sadar kalau mereka juga pasti tidak
menyangka aku akan ke sini.
Kulihat Hendra senyum-senyum kecut menatap-ku dengan tatapan tolol-nya
sedangkan Bramanto terlihat salah tingkah dan tidak berani memandang
wajahku. Tubuhnya yang gempal tampak bergerak-gerak mengikuti nafasnya
yang berat agak tersengal-sengal serta sebentuk gundukan panjang mirip
polisi tidur tercetak jelas di celana satpam-nya yang ketat. Rupanya si
Bramanto ini masih belum bisa menghilangkan sensasi rangsangan akibat
'tontonan' gratis tadi.
"Sorry Wid.. Kita nggak tahu kalau kamu bakal masuk kesini" ujar Hendra
dengan guilty face.
"Eh tapi benar khan cerita-ku.. Aku sama 'manto memang sengaja mau
buktiin gosip itu" ujarnya lagi setengah membela diri tapi dengan
ekspresi penuh kemenangan karena berhasil membuktikan omongannya padaku.
"Iya bu.. Mereka sudah sering begituan disini" ujar Bramanto menimpali.
"Berarti kamu juga sudah sering nyelinap masuk kesini buat ngintip
mereka" kataku dengan dengan nada suara agak mengintimidasi satpam itu.
"Eh nggak bu.. Ini baru yang kedua dan ini juga karena Pak Hendra
penasaran mau tahu"
"Waktu yang pertama juga aku nggak sengaja pas lagi kontrol aku dengar
suara kasak-kusuk.. Nggak taunya ibu Diana dan Mbak Nina itu.." katanya
tanpa melanjutkan kalimatnya.
"Sudah yang jelas masalah ini biar aku saja yang ngomong ke Ibu Diana..
Pak Hendra dan kamu diam-diam saja" Aku berbicara dengan tegas dan
singkat.
Yang jelas aku ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan toilet wanita ini.
Sebenarnya aku masih ingin ngobrol banyak sama Hendra tapi karena ada
Bramanto si satpam aku jelas harus tetap menjaga image-ku sebagai atasan
juga image Diana dan Nina di depan satpam itu seburuk apapun keadaan
mereka dimata kita sekarang.
Kita bertiga segera beranjak keluar dari situ. Aku dan Hendra kemudian
terlibat perbincangan (lebih tepatnya pergunjingan) seru tentang
kejadian yang sama sekali tidak disangka tadi (bagi Hendra mungkin sudah
disangka karena mereka memang niat mau ngintip). Waktu sudah menjelang
pukul delapan malam ketika Hendra pamit pulang.
Aku sendiri masih asyik mengutak-atik internet explorer-ku sambil
menikmati suasana lengang di kantor. Pikiranku kembali terbayang pada
kejadian paling menghebohkan yang kualami hari ini. Aku jadi bertanya
dalam hati.. Apakah aku betul-betul menikmati apa yang kulihat dari
adegan-adegan penuh nafsu yang dipertontonkan Diana dan Nina di toilet
tadi? Normalkah aku kalau ada rangsangan yang timbul dalam diriku ketika
melihat 'ulah' mereka tadi? Suasana ruangan kantorku yang sudah kosong
ini mirip sekali dengan suasana tadi siang pada jam istirahat.
Lenggang dan nyaman membuat aku merasa kembali rileks. Perlahan tapi
pasti aku seperti ter-sugesti oleh semua yang kualami hari ini. Mulai
dari nikmatnya air dingin dari shower tadi pagi, kemudian orgasme yang
penuh sensasi tadi siang, lalu terakhir adalah suguhan nafsu yang penuh
keindahan yang diperagakan dengan sempurna oleh Diana dan Nina diatas
wastafel itu.. Oh benakku kembali diserbu berbagai fantasy yang cukup
membuat peri baik yang senantiasa berbisik di telinga kananku cemberut.
Sementara si peri nakal dengan sepasang tanduk kecilnya tampak tersenyum
manis sambil menggelitikku dengan trisula godaannya yang makin tidak
ter-elakan lagi. Kurasakan kewanitaanku mulai basah dan aku diselimuti
oleh aroma sexual yang tinggi.
Tok.. Tok.. Tok suara ketukan halus terdengar dari balik pintu
ruanganku.
"Bu Widya.." terdengar suara lelaki tapi suara itu bagai terjepit
diantara kerongkongannya.
Ah itu pasti Bramanto si satpam.
"Iya.. Kenapa? Masuk aja" aku mengundangnya masuk.
Saat yang bersamaan tanpa diundang semua stimulasi yang kuterima hari
ini turut memasuki pikiranku dan menentukan keputusan buatku.
"Kebetulan aku lewat dan melihat ruangan ibu masih terang.. Ibu masih
lama disini?" suaranya datar dan sopan.
Aku hendak menjawab tapi dia kembali melanjutkan kalimatnya,
"Aku sekalian mau pamit pulang.. Lagian sudah ganti shift.. kalau ibu
masih lama dan perlu beli makanan atau minuman bisa titip aku biar nanti
aku suruh maintenance yang mengantarkan kemari.." ujarnya.
Bramanto rupanya sudah berganti pakaian. Seragam satpam-nya telah
berganti polo shirt dan di tangan kirinya ada tas kecil yang pasti
berisi seragam satpamnya.
"Oh tidak.. Terima kasih sebentar lagi aku juga mau pulang" jawabku
dengan ramah.
"Manto duduk sini aku mau bicara denganmu," suaraku penuh penekanan
dengan nada memerintah. Bramanto tampak agak ragu tapi dia menuruti
perintahku dan duduk di kursi di depan mejaku.
"Eh masalah tadii itu bu.. benar lho aku sebenarnya nggak berniat.. Tapi
Pak Hendra yang.." suaranya terputus putus karena merasa bersalah.
"Aku tidak menyalahkan kamu tapi aku meminta kamu supaya, merahasiakan
hal tadi.. Aku tidak mau mendengar sampai ada orang lain lagi yang tahu
hal ini" ujarku sambil bangkit dan duduk ditepi meja kerjaku tepat di
depannya.
Dengan sengaja aku meletakkan paha kananku diatas paha kiriku. Gerakan
itu sengaja aku lakukan dengan agak demonstratif. Sekarang pasti
sebagian besar pahaku yang terbalut stoking nampak jelas dimatanya.
Bramanto memperbaiki posisi duduknya. Jakunnya terlihat bergerak menelan
ludah. Itu reaksi yang kunantikan!
Sejenak aku memandangi sosok gempal yang nampak rikuh di depanku. Dia
kira-kira berusia 25 tahun dan sudah berkeluarga. Tipe pria pekerja yang
selalu jadi bahan fantasi-ku! Dia pasti merasa kalau aku memandangnya
dengan tatapan yang tidak pantas. Tapi aku telah menentukan pilihanku.
Lebih tepatnya adalah hasratku telah menentukan pilihannya bagi
keinginan tubuhku.
"Mm.. Maaf Bu tapi aku harus segera pulang" rupanya dia sudah merasa
gelisah.
"Kamu sudah berkeluarga?" tanyaku lagi tidak mempedulikan perkataannya.
"Iya bu.. Sudah 4 tahun"
"Istriku sedang hamil," lanjutnya lagi, "Hamil tujuh bulan bu"jawabnya
lagi tanpa ditanya.
Betul-betul terlihat gugup sehingga dia menjawab sesuatu yang tidak
kutanyakan. Cukup mudah bagiku untuk memanipulasi dan memancing pria
sekelasnya. Selama ini aku terbiasa berinteraksi dengan pria
berpendidikan dan memiliki intelektual yang cukup tinggi sehingga dengan
mudahnya aku mendominasi percakapan dengan Bramanto.
Status sosial serta posisiku yang jauh lebih tinggi darinya membuat dia
sangat menghormatiku hingga dengan mudah terintimidasi olehku. Dalam
posisi 'in charge' seperti ini, rasa percaya diriku makin tinggi hingga
aku mulai memperlakukannya sebagai obyek dari hasratku. Segala
sesuatunya telah aku pikirkan dengan matang sehingga aku yakin dengan
setiap perbuatanku padanya.
"Tadi kamu sepertinya menikmati sekali mengintip ibu Diana dan Nina
ditoilet itu," aku berucap dengan penuh provokasi, "Ehm.. Ya nggak juga
sih.. Tapi ya.." sesaat dia bingung untuk melanjutkan ucapannya itu.
"Ehm.. Ibu juga khan ngerti, namanya juga lelaki normal.. Ya suka juga"
Wajahnya tampak memerah berkata begitu tapi aku melihatnya bagai gunung
es yang mulai cair. Nada suaranya terdengar mulai rileks dan lebih
enteng. Ada perubahan yang terlihat dari bola matanya yang hanya
sekali-sekali berani menatap wajahku. Kulihat mulai ada gairah di
matanya. Bagiku itu tandanya Bramanto sudah mulai menduga arah
pembicaraanku. Sekarang tinggal menunjukan padanya secara eksplisit.
"Kenapa.. Apa istri kamu dirumah kurang bisa melayani kamu?" kulepas
kedua sepatuku dan membiarkan kedua kakiku tergantung bebas.
"Ehm.. Segenarnya sih nggak juga.. Tapi ya dia lagi hamil tua.. Ya
jadinya aku sudah lama nggak.." suaranya terhenti ketika kuletakkan kaki
kananku diatas pangkuannya.
Entah apa yang berada di dalam pikiranku karena saat itu yang tujuanku
adalah memuaskan hasrat yang kian menggebu. Kuyakin Bramanto tidak akan
sanggup menolak keinginan-ku. Tinggal masalah kendali bagiku karena
siapa yang mengendalikan dialah yang mendominasi. Sementara bayangan
tubuh Diana dan Nina yang menggeliat saat menahan kenikmatan kembali
membayangi fantasi-ku. Tampak Bramanto terdiam kembali terlihat jakunnya
naik turun dan nafasnya menjadi berat pertanda gairahnya memuncak.
Kini kedua matanya menatap-ku dengan tatapan yang sama sekali tidak
kusukai. Tatapan itu penuh nafsu terpendam dan hasrat ingin menguasai.
Terlihat pandangan khas seorang laki-laki yang memandang wanita di
depannya ini sebagai objek sex yang siap memenuhi nafsu sesuai
seleranya. Itu adalah hal yang paling kubenci dari pria dalam
berhubungan sex apalagi kini tatapan itu keluar dari pria yang kuanggap
tidak selevel dengan-ku. Apa boleh buat aku yang memancingnya, kini aku
yang harus mengantisipasi itu dengan segera memegang kendali 'permainan'
ini.
Tangan Bramanto mulai meraba pergelangan kaki kananku yang kutumpangkan
diatas pahanya.
"Kamu menginginkan aku khan?" kataku halus namun penuh penekanan.
"Ah ibu Widya.. Aku nggak enak" ucapnya namun tangannya mulai merayap ke
atas kebagian paha-ku.
"Tutup mulutmu dan turuti permintaanku" kataku dengan suara pelan dan
halus.
"Layani aku" ujarku singkat setengah berbisik.
Wajah Bramanto masih terlihat bingung ketika aku memindahkan posisi
duduku sehingga sekarang tepat berada diatas meja di depannya. Aku
kemudian membuka kedua pahaku dan menginjakkan kakiku di pegangan kursi
tempat Bramanto duduk.
"Tolong lepaskan stokingnya" ujarku memerintahnya.
Rupanya suaraku dalam keadaan seperti ini membuat Bramanto seperti
terhipnotis sehingga tanpa basa-basi lagi dia menuruti permintaanku.
Tangannya menelusup ke balik rok-ku dan menarik pantyhose yang
kukenakan. Sempat dia berusaha menarik celana dalamku agar turut
terlepas turun namun dengan lembut aku memberi isyarat agar dia tidak
melakukan itu. Matanya tampak setengah melotot dan berulang kali
jakunnya naik turun menelan ludah ketika sepasang betis yang indah mulus
terekspose di depan matanya. Tanpa di suruh dia langsung mengangkat kaki
kiriku dan mulai menciumi betis-ku. Terasa hangat ketika lidahnya
menjilati betisku. Kurasakan sesekali dia mengecup betisku dengan nafas
menderu hingga menimbulkan rasa geli yang mebuatku merinding.
"Tolong mulai dari bawah" ujarku sambil meringis menahan geli dan
nikmat.
Aku ingin sekali Bramanto melakukan 'legjob' di kakiku. Kuangkat kaki
kananku dan kusodorkan tepat di depan wajahnya. Kurasakan dengus
nafasnya di ujung kakiku. Tampak Bramanto mengamati kakiku dengan penuh
minat dan nafsu. Sejenak dia tampak ragu dangan apa yang akan
dilakukannya. Kupikir Bramanto adalah tipe pria Indonesia pada umumnya
yang biasa melakukan hubungan sex dengan foreplay yang kurang kreatif.
Hanya berorientasi pada pemuasan diri sendiri tanpa memikirkan bahwa
wanita ingin mencapai puncak kepuasan melalui semua tahapan
kenikmatannya sendiri. Mungkin Bramanto belum pernah menjilati kaki
wanita dalam berhubungan namun kali ini adalah permainanku dan dia harus
menuruti keinginanku.
Sesaat kemudian dengan perlahan dia mendaratkan bibirnya mengecup
punggung kakiku. Aku menarik nafas panjang sambil merasa cairan dalam
bibir kewanitaanku kian bertambah. Terasa kini seluruh bagian kakiku
dijilatinya dengan penuh nafsu. Rupanya dia baru merasakan nikmatnya
mencumbui kaki wanita. Apalagi aku sangat merawat semua bagian tubuhku
bahkan sampai ke ujung kaki. Wajar Bramanto berbuat demikian karena
mungkin selama ini dia senantiasa berhubungan dengan wanita yang kurang
menjaga tubuh sehingga dia enggan atau bahkan tidak pernah berpikir
melakukan itu.
Kurasakan sensasi yang nikmat mulai menjalari tubuhku ketika Bramanto
mulai menjalari kakiku dengan jilatannya yang kini telah mencapai bagian
dalam pahaku. Tanganku bergerak meraih payudaraku sendiri dan mulai aku
usapkan tepat di bagian putingku yang terasa mengencang di balik bra.
Bramanto masih mencumbui kedua pahaku kepalanya bagaikan terjepit
diantara kedua pahaku dan sesaat lagi dia akan segera menyentuh
kewanitaanku. Kutdorong kepalanya keluar dari rok-ku lalu kurapatkan
kembali kedua belah pahaku. Bramanto menatapku dengan tatapan yang
menunjukan ketidak puasannya sepertinya dia protes padaku. Tapi akupun
demikian akupun belum mencapai kepuasan yang aku inginkan. Aku
memintanya mengeluarkan sapu tangannya lalu kuikatkan di kepalanya
menutupi matanya. Lalu kuborgol tangannya dengan borgolnya.
Bramanto protes namun aku jelaskan padanya kalau ini adalah permainanku
bukan permainnya. Dia pun menurut dan mengikuti perintahku selanjutnya.
Memuaskan dirimu bukan hal yang sulit tapi memuaskan diriku adalah hal
yang sulit pikirku. Kulepaskan celana dalamku lalu berdiri agak
membungkung membelakanginya sambli tanganku bertumpu di meja kerja di
depanku. Bramanto berlutut di belakang badanku dalam keadaan mata
tertutup dan tangan di borgol. betul-betul perfect condition bagiku
untuk menuntaskan hasratku hari ini. Kupejamkan mataku agar memudahkanku
larut dalam fantasi yang sedang kubangun ini. Sejenak aku memejamkan
mataku menunggu sentuhan Bramanto.
"Uhh.." tanpa sadar aku mengerang karena sesuatu yang hangat dan basah
sedang menjilati tumit kaki kiri-ku. Halus sekali sentuhan itu..
Sentuhan yang berasal dari lidah yang serasa menari-nari dipermukaan
kulit tumitku lalu perlahan naik ke betis bagian belakang.
Suasana saat itu sunyi sekali hingga dapat kudengar deru nafasku silih
berganti dengan bunyi nafas berat milik lelaki yang sedang berlutut di
belakangku sekarang. Terasa kumis Bramanto yang kasar itu menggelitik di
sepanjang kakiku. Kurasakan deru nafasnya mendarat di bagian paha dan
membuat aku kembali memejamkan mataku dengan perasaan geli dan
kenikmatan yang makin 'menyengat'ku. Kepala Bramanto makin naik sehingga
aku harus membuka kedua kakiku hingga posisiku sekarang berdiri agak
mengangkang. Pantat-ku aku naikan sedikit agar lebih memudahkan Bramanto
'menggapai' bibir kewanitaanku. Kini wajah Bramanto tepat berada di
antara belahan pantatku dan lidahnya terasa mulai menyentuh bibir
kewanitaanku. Dengus nafasnya terdengar kian memburu sambil sesekali
terdengar dia menarik nafas panjang menghirup aroma kewanitaanku yang
tentunya sangat 'keras' tercium dibagian itu.
Terdengar suara agak berdecak ketika Bramanto menghisap bibir luar
kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan kenikmatan. Kuperbaiki
posisi-ku agar Agar Bramanto lebih leluasa mempermainkan lidahnya
disitu. Aku sempat menoleh ke arahnya sehingga tampak hidungnya kembang
kempis dangan nafas yang memburu. Kumisnya tampak basah oleh cairan yang
barasal dari dalam liang kewanitaanku. Bramanto meleletkan lidah ke arah
kumisnya menyapu sisa-sisa cairan kenikmatan yang melekat disitu lalu
kembali menghujamkan kepalanya ke bagian kewanitaanku yang basah menanti
kenikmatan.
Diriku merinding ketika lidahnya menelusup ke dalam celah kemaluanku
lalu bergerak liar didalamnya. Tanganku agak gemetar merasakan nikmat
yang dihasilkannya. Kenikmatan yang menerobos jauh ke dalam liang
senggamaku hingga membangkitkan sensasi indah di sekujur tubuhku.
tiba-tiba Bramanto menarik lidahnya dari kemaluanku dan seketika terasa
lidah itu menari-nari di kedua bukit pantatku yang padat berisi.
"Uuh" aku menjerit kaget ketika Bramanto sesekali menggigit gemas
pantatku. Aku merasakan wajahku memerah karena gigitan tadi menimbulkan
efek unik yang membuat semua bulu romaku merinding.
Sementara itu jemariku makin cepat memainkan kedua puting susuku yang
sudah sangat keras merespon tiap stimulasi yang diterimanya. Beberapa
kali terasa Bramanto mempermainkan lidahnya di seputar anus-ku Ah dia
sepertinya cukup mahir mempergunakan lidahnya. Sesaat kamudian aku
merasa seperti ada aliran listrik menjalari setiap jengkal tubuhku
ketika Bramanto menempelkan seluruh mulutnya di bibir kewanitaanku dan
menyedot klitoris-ku sambil memainkan lidahnya disitu.
"Aaah" aku mulai kehilangan kontrol. Aku mendengar suara rintihan dan
lenguhanku tanpa mampu menghentikan kenikmatan yang memaksaku melepaskan
gejolak itu.
Lidah Bramanto terasa begitu rakus mempermainkan klistoris-ku. Energi
tubuhku seakan habis tersedot olehnya dan kenikmatan yang dihasilkannya
kian menguras kesadaraanku. Badanku kini rebah diatas meja kerjaku
sementara terasa kakiku gemetaran dalam posisi mengangkang menopang
tubuhku.
"AAHH.. Uuu" suara itu keluar dengan berat dari mulutku ketika Bramanto
menggigit klitorisku.
Gigitan itu lembut tapi menimbulkan sensasi seperti tadi yang membuatku
merasa merinding dan membuat tubuhku berkontraksi.
Menahan kenikmatan yang sejalan dengan keinginan fantasi-ku. Semenit
kemudian aku sudah menyerahkan diriku secara total ke dalam kenikmatan
yang berawal dari bagian paling sensitif dari tubuhku. Bramanto makin
panas dan bernafsu 'menghukumku' dengan menghisap, menjilat, menyedot
klitoris-ku. Tiba-tiba aku perasaan yang kualami siang tadi terulang
kembali..
perasaan disaat fantasiku yang paling dalam bersatu dan manjadi nyata
secara utuh dan total dengan kenikmatan yang secara nyata membakar tiap
bagian tubuhku. Aku hanya bisa memejamkan mataku.. Sudah tidak dapat
kudengar lagi jeritan dan rintihanku.
Aku telah tenggelam dalam badai kenikmatan yang datang bergelombang dan
akhirnya mencapai puncaknya ketika kesadaranku hilang ditelan ribuan
kunang-kunang yang terbang memenuhi ruang kantorku. Aku mengejang,
kewanitaanku terasa berdenyut seperti ingin menyedot sesuatu yang biasa
mengisinya disaat-saat seperti ini. Namun stimulasi tanpa penetrasi pada
klitorisku cukup membuatku terhempas lunglai diatas meja kerjaku.
Sekitar satu menit aku memejamkan mataku membiarkan semuanya berlalu
sampai benar-benar hilang seiring kembailnya kesadaranku. Masih terasa
hangatnya mulut Bramanto menempel di kewanitaanku ketika aku bangkit
kembali. Kasihan juga melihatnya begitu. Pasti dia protes karena
kenikmatan 'tanggung' yang dialaminya. Kudorong kepalanya hingga mulut
dan lidahnya berpisah dari kemaluanku.
Bramanto dengan mata tertutup masih kelihatan menunggu dan berharap aku
melanjutkan 'permainanku' ini dengan sesuatu yang diinginkannya seperti
penetrasi penis. Akan tetapi akulah yang berkuasa dan mengendalikan
permainan ini. Dan bagiku ini telah berakhir aku telah mendapatkan apa
yang kuinginkan. Kukenakan kembali bagian-bagian dari busanaku yang
berserakan di atas karpet kantorku lalu melepas borgol dan saputangan
dari mata Bramanto. Agak keget dia melihatku telah kembali berpakaian
lengkap.
"Terima kasih kamu telah membantu aku malam ini" ucapanku terdengar
dingin atau bahkan agak kejam begi dia yang berharap ada bagian untuk
dirinya melepaskan semua 'ganjalan' yang masih terlihat nyata tercetak
di celananya. Ada kekecewaan di matanya namun melihat pergantian
karakter dalam diriku dia menyadari kalau saat-saat 'bonus' telah
berakhir.
Selanjutnya aku dengan sikap dingin memintanya agar merahasiakan
kejadian malam ini dengan mengingatkan padanya apabila dia bercerita
tentang hal ini pada orang lain maka akan membahayakan buat kelangsungan
pekerjaannya di kantor ini. Selain itu juga dengan otomatis akan
membahayakan rumah tangganya.
Well, terkadang memiliki posisi penting dalam pekerjaan ditambah status
yang masih single memberi banyak 'advantage'. Bramanto masih
terbengong-bengong menatapku dengan ketika aku meninggalkan ruangan
kantorku untuk segera pulang (menurutku apa yang didapat Bramanto malam
ini sebenarnya sudah lebih dari apa yang pantas aku berikan padanya).
Pikiran itu agak mengurangi perasaan bersalahku setidaknya aku tidak
mengeksploitasi ketidak-berdayaannya secara gratis.. Aku membayar dia
dengan kenikmatan pula se-minim apapun kenikmatan itu.
What a long day pikirku dan sebelum pintu lift tertutup aku sempat
berseru pada Bramanto, "Tolong matikan komputer-nya" .
Pukul 22:45 di ranjang tidurku..
'Yang kamu lakukan hari ini benar-benar keterlaluan Widya.. Kamu pasti
menyesal sekarang'. 'Kamu sama saja menjatuhkan derajatmu dengan
tindakan liar yang gila-gilaan tadi'. 'Tapi kamu khan sudah dewasa..
Kamu berhak menentukan kapan dan dengan siapa kamu melakukan itu'.
'Setidaknya kamu masih melakukannya dengan normal tidak seperti Diana
teman kamu itu' Silih berganti peri baik dan peri nakal berbisik padaku.
Dan seperti biasa akhirnya aku sendirilah yang menentukan pilihan-ku.
Ini semua bukan mengenai penyesalan..
Bukan pula mengenai derajat..
Bukan seberapa gila aku melakukannya..
Jelas bukan masalah kedewasaan..
Kapan atau dengan siapa..
Bahkan tidak ada hubungannya dengan normal atau abnormal..
Bagiku ini cuma masalah kendali..
Kepuasan bukan diukur dari lama atau singkatnya senggama..
Tidak diukur berdasarkan mahir atau kurang mahir..
Juga bukan diukur berdasarkan berhasil atau tidaknya mencapai orgasme..
Tapi masalah kendali..
Karena sekali memegang kendali..
Maka satisfaction is just a state of mine..
Maka Theresia Widya pun tertidur pulas.. You Say.. I only hear what i
want to..:)
|
|
|
|