|
Esther, karyawanku |
Anda masih ingat cerita saya dalam judul "Gairah karyawanku"
beberapa waktu lalu? Ada kisah yang masih seputar karyawan saya yang
bernama Esther itu, namun ini bukan terjadi di kantor seperti yang
saya ceritakan dahulu, walaupun kisah ini masih benar–benar terjadi
seperti yang saya alami. Memang seperti yang dibayangkan anda semua,
setelah kejadian itu, kamisering melakukan dimana ada kesempatan,
pasti tidak kami lewatkan begitu saja, seperti di puncak ataupun di
hotel–hotel yang ada di sekitar Jakarta. Kisah yang akan aku
ceritakan ini, terjadi justru di rumahnya kurang lebih 2 bulan
setelah kejadian di kantor tersebut, yang mana kejadiannya di saat
kami pulang kantor.
Seperti biasanya, saya dan Esther serta karyawan lain pulang pada
pukul 4:30 sore, namun kami tidak langsung pulang. Kami habiskan
sisa malam itu (kalau tidak salah malam Sabtu) untuk nonton film di
bioskop. Sepulangnya menonton film **** (edited) pukul 9:30 malam,
saya mengantar Esther ke rumahnya. Oh iya, aku lupa menceritakan
bahwa Esther masih tinggal bersama orang tua dan saudaranya yang
lain.
Sebenarnya aku sudah akan pamit pulang karena lelah bekerja seharian
di kantor, tapi dengan manja Esther mencegahku pulang, "Kenapa sih..?
Sebentaaar... aja, aku bikinin kopi ya..?Pleasee..!"
Aku jadi tidak tega melihatnya, apalagi mendapat tawaran kopi yang
menjadi kegemaranku itu.
"Iya deh, siapa takut?" ujarku setengah bercanda.
Begitu Esther membuka pintu ruang tamunya, kami disambut oleh Rian,
anaknya yang semata wayang itu.
"Bundaa pulang.., ‘kantol’-nya kok malem amat..?" mulut mungil anak
berusia 3 tahun itu terlihat menggemaskan menanyakan ibunya.
"Iya sayang, Bunda kan harus kerja dulu, oh iya salim donk sama Oom
Pam." kata Esther sambil melirik ke arahku.
"Mas, mandi dulu ya, aku bikinin kopi buat Mas..."
Aku hanya mengangguk kecil, kemudian kuterima handuk dari Esther dan
langsung masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi, kulihat ayahnya sedang membaca koran di ruang
keluarga, kemudian kusapa, "Malam Pak, maaf, Saya numpang mandi."
Ayahnya terlihat kaget, "Oh Nak Pram..? Saya kira siapa, mari
silakan duduk."
Kami pun terlibat obrolan ringan sampai akhirnya muncul Esther
keluar dari kamarnya, "Maaf Mas, Aku nidurin Rian dulu, nih Mas
kopinya, Aku mau mandi dulu ya..?"
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 10:45 malam, lalu aku tanya ke
Esther, "Udah malem gini mau mandi..?"
"Kenapa emang..? Abis badanku bau sih..." jawabnya sambil meraih
handuk yang bekas kupakai mandi tadi, terus ngeloyor masuk ke kamar
mandi.
Tidak lama kemudian, ayahnya menyahut, "Mas Pram, Ayah tinggal tidur
dulu ya..?"
Sambil mengangguk, kujawab, "Mari Pak.., silakan..!"
10 menit kemudian, terlihat Esther keluar dari kamar mandi dan
kelihatan segar dengan kaos kutang kuningnya dipadu dengan celana
pendek motif bunga yang bagian pahanya terlihat longgar. Aku yang
dari tadi duduk di sofa di ruang tamunya, pindah selonjoran di
lantai yang dilapisi karpet berwarna coklat tua. Esther pun duduk di
sebelahku ikut selonjoran.
"Enak nggak Mas kopinya..?" Esther membuka percakapan.
Aku pun menyahut, "Yahhh... lumayan, kemanisan dikit." sambil kuraih
cangkir kopi di depanku dan tanpa sengaja siku lenganku menyenggol
daging kenyal di dadanya.
"Iihhh.., nakal ahh..!" katanya diiringi tatapan matanya yang indah
itu.
"Ehh.. Kamu.., nggak pake ya..?" aku setengah kaget begitu
mengetahui Esther tidak pakai BH.
Esther hanya tersenyum penuh arti.
"Nggak suka ya, hhmm..?" kata-katanya begitu menantang gairah
kelakianku.
Sebagai jawabannya, aku meraih kepalanya kemudian kudaratkan kecupan
lembut di bibirnya. Dia pun membalasnya dengan penuh gairah dan
tanpa dikomando, tanganku mulai menjalar ke arah dadanya.
"Mas... hmm jangan Mas, nanti ketauan Ayah.. eehhh.. Ayah kan belum
lama masuk kamar..?" kata Esther pelan, takut ketahuan seisi rumah.
Aku pikir sebenarnya dia sudah dirasuki nafsu birahi. Aku pun
menjawabnya dengan setengah berbisik, "Lho, lagian ngapain Kamu
nggak pake BH, hayo..?"
Esther hanya membalas dengan mencubit perutku.
"Nakal..!" katanya manja tapi tidak berusaha menepis tanganku atau
bagaimana.
Sebenarnya, situasi di rumahnya tidak memungkinkan untuk kami
bercumbu. Tapi nafsu setan yang menguasai kami berdua sudah tidak
bisa dikalahkan. Kemudian sambil mengobrol, kulanjutkan lagi
jelajahan tanganku menelusup ke balik kaos buntungnya itu. Karena di
balik kaos itu, Esther sudah tidak pakai apa-apa lagi, maka tanpa
kesulitan tanganku bisa meraih bola dagingkembar di dadanya. Buah
dada Esther walau sudah punya anak satu, bagiku masih terasa kencang
dan kenyal, apalagi puting di puncak bukit kembarnya masih terasa
kecil di jepitan jari-jariku, layaknya masih gadis saja. Karena
tidak sabar, kutarik kaos kutang itu ke atas dan terpampanglah
tonjolan buah dadanya, lalu aku mulai mengarahkan kepalaku untuk
mengecup payudaranya.
Tapi ternyata kedua tangan Esther menahan kepalaku, "Jangan Mas..,
nanti ketahuan..." Esther berbisik pelan.
"Iya.., ya makanya begini aja, Kamu pura-pura ngobrol apa kek, biar
nggak ketahuan..." aku menyahut sambil memberi saran.
Begitulah selanjutnya, Esther pura-pura ngobrol atau menyanyi kecil
untuk mengkamuflase tindakan kami agar tidak terdengar oleh kedua
orang tuanya. Sementara jemari di tangan kiriku terus memilin puting
payudara Esther sebelah kiri yang sudah mencuat kemerahan, sedang
mulutku mulai mengecup puting yang satunya. Diperlakukan seperti
itu, walau masih menyanyi-nyanyi kecil, tak urung desahan nikmat
juga terdengar pelan dari mulut Esther. Aku menjadi geli sendiri
dengan kelakuan Esther itu. Bagaimana tidak..? Esther menyanyi tapi
diselingi rintihan dan desahnan nikmat, lagu yang dinyanyikannya
jadi tidak karuan.
Begitu Esther tahu aku tersenyum geli, dia menegurku, "Kenapa
sih..?"
Aku menjawab sambil mulutku tetap menghisap putingnya, "He.. he..
nggak apa-apa, lagu Kamu fals..."
"Uu-uhhh jahat..! Habis gimana dong..?" ucapnya pelan.
"Ya udah.., terusin aja, nggak apa-apa..." jawabku sekenanya.
Kembali mulutku mengulum puting Esther yang semakin keras, terasa di
jepitan bibirku. Perlahan namun pasti, tanganku mulai turun ke arah
perutnya dan terus ke arah pangkal pahanya.
Begitu tahu apa yang akan aku lakukan, Esther kembali melarangku,
"Mas.., jangan Mas.., udah nggak usah ke bawah-bawah segala,
pleasee..!" sambil tangan kirinya mencengkeram pergelangan tangan
kananku.
Tapi apalah artinya tangan sekecil itu melawan tanganku yang kekar.
Nyatanya, yang kurasakan tangan itu bukannya melakukan perlawanan,
namun malah seperti mengarahkan jari-jari di tanganku ke arah
pahanya terus menerobos masuk ke selangkangannya melalui bagian
celana pendeknya yang longgar itu.
Sekarang mulutku pindah ke arah lehernya sambil kubisikkan pelan,
"Kamu bilang jangan, tapi kok diam aja..?"
Esther hanya mendesah ketika jemariku mulai menyentuh secarik kain
yang sudah basah dan masih menutupi bagian terlarang
selangkangannya, "Makanya.., ouuhh.., jangan dong Mas.., shhh... Aku
takut nggak bisa nolak..!"
Mendengar kata-kata itu, aku justru semakin berani menyusupkan
jari-jariku melewati jepitan celana dalam Esther. Dan sedetik
kemudian, kurasakan kebasahan yang tersentuh jariku pada bibir
kemaluannya.
Kutatap matanya yang sekarang setengah tertutup sayu sambil mulut
seksinya setengah terbuka, mengeluarkan desahan pelan, "Ouuhhh
Masss.., what should I do..?"
Akhirnya dia menyerah atau memang sebenarnya sudah sangat bernafsu,
mengharapkan tanganku beraksi lebih jauh lagi. Tidak kubiarkan
kesempatan itu, walau di dalam hatiku sendiri masih diliputi
perasaan deg-degan, takut seisi rumahnya terbangun. Perlahan jari
tengahku menyusup masuk ke lorong kemaluan Esther yang sudah terasa
licin sambil ibu jariku memainkan bagian ujung atas pada vaginanya.
Esther hanya bisa merintih keenakkan begitu jariku semakin masuk,
menerobos lubang kemaluannya. Sementara tangan Esther kemudian
seperti refleks, meremas batang kemaluanku yang masih tersimpan
rapih di balik celana jeansku.
"Masss.., aduhh Mas..! Uuhh.., God..! Sshhhtt... uuff..." sepertinya
rintihan Estherterdengar lebih keras, cepat-cepat kubungkam dengan
melumat bibirnya yang memang terlihat sudah siap itu.
Dengan begitu suara rintihannya hanya terdengar di dalam mulutku.
Tetapi tiba-tiba dia melepaskan ciumanku, lalu Esther berkata pelan,
"Masss... celanaku basah nih, dibuka aja kali ya..?"
Aku pun menjawab tidak kalah pelannya, "Cepet amat sih..?
Belum-belum udah banjir..!"
Esther hanya bisa menyungut, "Salah mas juga lagi..! Kenapa udah 2
minggu Mas nggak ngasih jatah ke Aku, perasaan 2 hari yang lalu Aku
udah minta, tapi Mas Pram aja yang nggak tahu..!"
Aku hanya tersenyum menanggapi perkataannya. Lalu aku berusaha
melepas celana pendeknya sambil dibantu oleh Esther. Sementara itu,
kami berdua kompak melirik ke arah ruangan dalam, siapa tahu ada
yang bangun. Aman..! Wah kalau sampai ada yang bangun, bisa berabe
nih urusannya.
Begitu celana pendek itu terlepas, Esther menatapku sayu, "Udah..?
Yang ini aja..? Yang satunya dibiarin aja, apa gimana..?"
Aku pura-pura bego, "Dibuka juga..?"
Kembali Esther menyahut, "Iihh.., norak..! Udah tanggung lagi..!
Ayo.., dibuka juga..!"
Seperti kerbau dicucuk hidungnya, aku menuruti kemauannya. Dengan
terampilnya kupelorotkan celana dalam itu, sementara Esther
mengangkat pinggulnya untuk membantu kemudahan tanganku melepas
celana dalamnnya yang berwarna merah. Celana dalam yang sudah
terlepas itu aku ciumi dengan hidungku sambil kujilati kebasahan
yang lengket disitu.
Melihat ulahku, kontan Esther protes, "Apa-apaan sih Mas..? Jorok
deh ihh..! Ketimbang nyiumin yang itu, kenapa nggak yang aslinya aja
dicicipin..?" sambil tangannya merebut celana dalam miliknya yang
sudah basah dan ternoda itu dari genggaman tanganku.
Sambil tersenyum penuh arti, aku menyahutnya, "Boleh..! Siapa
takut..? Udah lama kayaknya nggak ngerasain.., hmm.. lendir Kamu..."
Esther menanggapinya dengan tersenyum nakal, "Iya nih..! Udah lama
kan lidah dan mulut Mas Pram nggak menengok punyaku..? Tuh.., liat
tuh..! Dia kan juga kangen sama mulut Mas Pram, dijilat, dicium,
diemut, pokoknya dia ketagihan lho sama mulut Mas.., apa Mas Pram
nggak kasihan sih..?"
Mendengar kata-kata erotisnya, birahiku semakin terbakar, "Iya
sayang.., mulutku juga haus nih pingin ngerasain lagi lendir Kamu
itu."
Esther sekarang mulai merebahkan tubuhnya di karpet sambil bertumpu
pada kedua siku tangannya, kedua kakinya ditekuk ke atas, terlihat
di selangkangannya mengintip bulu–bulu halus yang masih menutupi
lubang kemaluannya yang harus kuakui benar-benar membuatku mabuk
kepayang.
Seperti hendak memancing gairah kelakianku, Esther memainkan pahanya
dengan membuka dan menutup pahanya. Aku menjadi gemas karenanya.
Tanpa perlawanan berarti dari Esther, aku menyibakkan lutut di
kakinya dan langsung mengarahkan kepalaku ke daerah selangkangannya.
Tanpa basa-basi lagi, aku mulai menciumi rambut halus yang tumbuh di
daerah pubisnya. Lidahku menjalar ke bawah, mengikuti garis lipatan
pangkal pahanya. Dan aroma kemaluan Esther pun sontak merebak
tertangkap oleh indra penciumanku. Sejujurnya harus kuakui juga
aroma dan bau khas lubang vagina Esther benar-benar membuatku sering
tidak bisa tidur. Untuk memudahkan aksiku, aku memposisikan tubuhku
dengan tengkurap, sementara kedua tanganku menyusup di bongkahan
pinggul Esther, lalu pinggul itu aku angkat hingga lubang kemaluan
Esther sejajar tepat di depan wajahku.
Pinggul Esther yang sudah terangkat itu, kusangga oleh kedua siku
tanganku yang menempel di lantai. Sementara kaki kiri milik Esther
menjuntai di punggungku dan yang kanan disandarkan di atas meja, di
dekat situ. Dengan posisi seperti itu, sekarang aku jauh lebih
leluasa menggarap semua bagian selangkangan Esther yang tepat di
depan wajahku itu. Tidak lupa aku dan Esther tetap bergantian
memantau ke arah ruang tengah untuk menghindari kejadian yang tidak
diinginkan. Bisa kacau kalau ketahuan sama keluarganya. Lidahku
sekarang mulai menyapu bagian bibir luar kemaluannya diiringi
erangan nikmat dari mulut Esther. Sambil tetap tanganku menyangga
pinggulnya, ibu jari di kedua tanganku mencoba membuka lebih lebar
liang kemaluan Esther yang sudah merah itu. Kemudian aku mulai
menjulurkan lidahku menelusup masuk ke dalamnya.
Perlahan kujelajahi bagian demi bagian pada lubang kemaluan Esther.
Dari mulai lubang pantatnya, kemudian naik terus melalui lorong
surga milik kekasihku ini. Terdengar rintihan lirih dari mulut
Esther, "Ouufff.., sshhh.., Goodd..! Yahhh... terus Masss...
yaahh... begitu.. Itil-ku dong Sayang..! Yaahhh... oouwww...
ffssttt..."
Memang saat Esther merintih itu, aku sedang memainkan klitorisnya
yang mencuat seolah mengharap kepada mulutku untuk berbuat lebih
liar lagi. Dari hanya menjilat dan menyentil, mulutku mulai
menghisap klitoris yang bertengger di pucuk atas kemaluan Esther.
Kuhisap perlahan daging sebesar kacang itu dengan menggunakan lidah
dan bibirku. Sementara rintihannya berubah menjadi jeritan kecil
yang membuatku sedikit cemas membayangkan seandainya seisi rumah itu
terbangun.
Kuhentikan aksiku untuk memperingatkan Esther, "Heh.., ssttt..!
Jangan keras-keras... ngaco deh Kamu..!"
Sambil terus mendesah, Esther hanya bergumam, "Iya.., aduuhh...
ouhhh... abis Kamu pinter.., enakkhh banget, tahu nggak sih..?
Terusin dong Sayang... jangan berhenti... terus emut itil-ku yang
keras..!"
Kembali aku menjilati belahan lubang kemaluan Esther yang sedikit
terkuak itu dengan irama yang teratur, menelusuri lembah dan
celah-celah di seantero lubang kemaluannya, dan aroma harum vagina
Esther yang khas semakin tajam menusuk hidungku. Terlihat dinding
luar kemaluannya yang semakin basah dan lengket terasa gurih di
lidahku. Sedang klitorisnya terlihat semakin membesar dan tambah
memerah, seolah mau meledak menahan gejolak nafsu birahi si empunya.
Lalu aku kembali menuruti kehendak Esther untuk mengemut bibir atas
kemaluannya, termasuk klitorisnya dengan irama yang lebih cepat dan
ganas.
10 menit sudah berlalu dan tanganku sudah terasa pegal menyangga
bobot tubuh bagian bawah Esther. Mungkin karena nikmat yang
dirasakannya semakin tinggi, dia lupa untuk tidak membuat suara
gaduh, aku sendiri pun jadi tidak peduli, dengan semangat kupercepat
irama hisapanku pada bagian klitorisnya. Erangan dan rintihan Esther
semakin terdengar panjang, nafasnya memburu kencang, tubuhnya
kelojotan, gerakan pinggulnya semakin liar, seolah semakin mengejar
gerakan lidah dan mulutku.
"Ouuwww... nikmatnya... terus Sayang..! Yahhh... oohh Goodd..!
Yaahh.., yahhh... sedikit lagi Sayang... sshhh ssttt, ouhh ufff...
aduhh.., enak banget sih..! Sshhh... yahh..." desahnya yang mulai
terdengar lebih keras.
Aku sendiri berharap phenomena. Dimana dari lubang kemaluan Esther
akan menyembur lendir bening.
Tubuh Esther meregang hebat, pinggulnya semakin bergerak tidak
karuan dan kedua kakinya kejat-kejat, sementara kepalanya mendongak
ke atas, menandakan nikmat yang dirasakan Esther semakin meninggi.
Dan benar saja, beberapa detik kemudian, "Sruuttt... sreettt...
crrutt..." menyembur cairan yang kutunggu-tunggu itu menyerbu masuk
ke dalam mulutku.
Dengan penuh nafsu, kuhisap dan kuhirup dalam-dalam cairan hangat
dan gurih yang mengalir memenuhi seantero mulutku dan tidak
kubiarkan setetes pun luput dari hisapanku.
"God..! Aaww... yaa teruss... terusss emut... ouuww... aduh
nikmatnya..! Jangan berhenti Sayang..! Hisap lebih keras..! Aahh...
sshhttt.., emut terus, emut lebih kuat Sayanggg..! Ouww sshhhtt...
gila enak banget..! Ya Tuhan... owwhhh.. yaahhh... yaaaahhh..."
jeritan kecil Esther terdengar panjang mengiringi puncak orgasme
yang dialaminya, setelah sekian lama tidak mendapatkannya dariku.
Terlihat bibir kemaluan dan klitorisnya tambah merah dan sepertinya
berdenyut-denyut, menandakan detik-detik dimana Esther sedang
mengalami perasaan yang melayang tinggi dihempas badai kenikmatan
duniawi lewat sentuhan lidah dan bibirku. 1 menit pun berlalu
setelah Esther mengalami puncak kenikmatan yang baru saja
dialaminya. Aku sendiri masih giat menjilati sisa–sisa cairan yang
menetes mengalir keluar menyusuri belahan liang vagina milik Esther
itu.
"Ouhh.. Mas.. aduhh.., bener-bener deh aku.. aku puas banget..!
Ouh.., sshh.. Kamu memang luar biasa Masss..!" pujinya di
tengah-tengah puncak kenikmatannya.
Kemudian kulepaskan bibir dan lidahku pada kemaluannya, dan
kurebahkan pinggulnya di lantai. Lalu dari mulutku kukeluarkan
cairan yang tadi memenuhi mulutku, kutampung dengan telapak
tanganku. Kuperlihatkan kepada Esther cairan berupa lendir bening
agak kental di depan wajahnya.
Sontak dia kaget, "Apa-apaan sih Mas..? Itu cairanku..? Iihh..,
jorok ahh..! Sini Aku bersihkan..!"
Aku menghindar, "Jangan Sayang, aku cuma mau kasih tahu aja ke
Kamu.., ini lho lendir Kamu, enak aja dibuang."
Lalu kuseruput cairan itu dari telapak tanganku sampai habis,
kujilati bekas-bekas lendir yang masih menempel pada jari dan
telapak tanganku. Kukecap-kecap dengan penuh perasaan, seolah aku
baru meresapi sesuatu yang terlezat dan tergurih yang pernah aku
rasakan. Esther hanya bengong dan meringis menatap ulahku barusan.
Sambil merapihkan pakaiannya yang sudah acak-acakkan, dia bertanya,
"Mas, apa Kamu nggak jijik sih..? Apaan sih rasanya..? Enak, apa..?
Kok kayaknya sampai begitu amat..? Tapi.. Aku jadi nafsu lagi lihat
Kamu kayak gitu."
Esther melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu kujawab,
tapi aku coba menanggapinya, "Kan Aku pernah bilang ke Kamu, belum
pernah Aku rasakan cairan wanita sesegar dan seenak yang Kamu
punya..."
Kemudian Esther menyambung, "Tapi mas, eeeng.., Mas Pam kan belum
keluar, Aku keluarin sekarang ya..?"
Aku tidak langsung menjawab, kulirik arlojiku, wah udah hampir jam
12 malam. Lalu kukatakan kepadanya, "Besok aja deh, sekarang udah
malem, nggak enak, ntar kalau Ayah bangun, gimana..?"
Dalam hati, aku sendiri pun sebenarnya ingin juga sih.
Tetapi seperti bisa membaca pikiranku, Esther langsung menukas,
"Allaaa... nggak apa-apa kok, makanya jangan berisik..!"
Mendengar omongannya barusan, aku langsung membantah, "Yee.. orang
Kamu dibilangin jangankeras-keras malah Kamu yang menjerit, kan Aku
yang minta jangan keras-keras."
Esther tersenyum geli, "Iyaa.. habis mulut Mas ini lho yang nggak
kuat Aku menolaknya. Ayo dong..! Mau ya..? Soalnya Aku nggak mau
punya hutang nih..!" Esther mencoba merayu.
Aku pura-pura tidak mengerti, "Punya hutang apaan sih..?" tanyaku
pura-pura bego.
"Norak..! Kampungan..! Ndeso..! Sini..!" sungutnya sambil pura-pura
cemberut.
Tetapi habis ngomong begitu, tanpa kuduga tangan Esther mengarah ke
arah kemaluanku, dengan terampilnya sudah membuka resletting
celanaku. Dan tanpa kesulitan, batang kemaluanku pun sudah dalam
genggamannya.
"Kamu tau nggak sih..? Aku juga kangen kamu." Esther berkata begitu
sambil tangannya yang satu menunjuk ke arah batang kemaluanku dan
tatapannya juga tertuju ke arah yang sama.
Aku jadi tersenyum geli melihat tingkah polahnya.
Lalu dia melanjutkan, "Kamu kangen sama Aku juga, kan..? Aku nggak
mau kehilangan kamu, tau nggak..? Awas ya kalau kamu main-main
selain sama Aku, bilang sama boss kamu,kalau kamu dilarang main-main
sama yang lain, kecuali sama Aku, gitu..!"
Aku mendengarnya semakin geli. Ada-ada aja anak ini. Tapi sedetik
kemudian, mulutEsther sudah dalam posisi siap menerkam rudalku. Aku
sendiri kaget, karena memang tidak siap, lalu, "Sluuppp..." mulut
Esther yang sudah menganga itu melahap dengan lembutnya batang
penisku.
"Ouuhh... sshhh..." gantian aku yang sekarang merintih pelan,
merasakan kehangatan dan kelembutan mulut kekasihku ini pada
rudalku.
Dijilat perlahan dari pucuk kepala batang kemaluanku terus menelusur
ke bawah, sampai mendekati kedua bola pada pangkal kemaluanku.
Demikian terus Esther menjilati dengan matanya setengah tertutup,
seolah dia memang sedang menikmati makanan atau permainan yang
sangat digemarinya. Aku pun tambah kelojotan menerima perlakuan
lidah Esther yang hangat dan lembut menyapu setiap mili kulit
kemaluanku. Apalagi sekarang mulutnya mulai mengenyot buah zakar-ku
dengan lembut,bergantian kiri dan kanan, sementara tangan kanannya
tetap mengurut dan meremas-remas batang kemaluanku.
"Yaahhh.. Sayang.. terusss... eehhh.. eesshhh.. essttt.. aduh..
enakkkhh Sayang..!" tanpa sadar keluar rintihan nikmat dari mulutku,
merasakan nikmat bercampur ngilu di biji kemaluanku begitu diemut
mulut Esther.
"Ehhmm.. mmhhh.. sruppp.. sleeppp.." sayup-sayup juga terdengar
bunyi dari batang kemaluanku yang makin ganas dikenyot dan keluar
masuk ke dalam mulut Esther, yang bagiku terlihat seksi jika sedang
menggarap batang rudalku itu.
Mungkin karena refleks, tanganku pun mulai bergerilya mengusap-usap
pahanya yang masihpolos karena celananya belum dipakai oleh Esther.
Kemudian terus naik ke atas, sampai tersentuh lagi di jariku
bulu-bulu kemaluan Esther dengan segala kehangatan dan kebasahan
yang sepertinya mulai membanjir lagi keluar dari lubang yang barusan
habis dilumat mulutku.
"Ouuhhh.. aauufff.. ssttt... sshh.. yahh.. Aku pingin lagi Mas..
sshh.." si Esther pun seperti tidak mau kalah merintih keenakkan,
sementara tangannya terus mengocok kemaluanku.
"Aduuuhh... Mas.. dimasukkin aja ya..?" sepertinya dia sudah tidak
sabar ingin lubang kemaluannya segera dicolok oleh batang
kemaluanku.
"Hahh..? Gila Kamu..! Ntar gimana..? Terus siapa yang mengawasi,
siapa tahu ayah atau ibu ntar bangun lho..?" kataku khawatir.
Esther tidak langsung menjawab, dia malah memposisikan tubuhnya naik
di pangkuanku dan batang kemaluan yang masih digenggamannya itu
diarahkan ke liang vaginanya.
"Bodo ah Mas..! Aku nggak peduli..! Kalau emang ketahuan sama Ayah,
biar sekalian aja Kita dikawinin..." ucap Esther yang memang sudah
sangat bernafsu ingin merasakan hunjaman batang kemaluanku
menusuk-nusuk liangnya yang semakin banjir.
"Kamu emang geblek Ther..! Ngaco..!" kataku setengah membentak
pelan, walau sebenarnya di dalam batinku memang ingin merasakan juga
jepitan lubang kemaluan Esther meremas-remas batang kemaluanku.
Bukanya menjawab, Esther malah membimbing batang rudalku, lalu mulai
menancapkan rudalku di belahan lubang vaginanya sendiri yang sudah
setengah terbuka itu. Sementara dengan posisi jongkok di atas
pangkuanku, batang kemaluanku itu oleh tangannya diusap-usapkan
dahulu di mulut kemaluannya sendiri. Terasa di kepala kemaluanku
kebasahan yang menempel dari kemaluan Esther.
Esther menyambung pembicaraannya, "Biarin..! Mau geblek kek, mau
gila kek, Aku memang gila.., gila akan punya Mas ini. Emang cuma Mas
aja yang nggak bisa tidur, Aku juga sering nggak bisa tidur
membayangkan ini-nya Mas kalau menembus punyaku... uuuhhh... Aku
nggak kuat Mas... nggak tahan ingin merasakan lagi ini-nya Mas..,
oouuhhh Godd..! Yess.. esshhtt.." kata-katanya terputus begitu tubuh
Esther bergerak turun, yang membenamkan rudalku menerobos masuk ke
liang kemaluannya sendiri.
Perlahan, rudal sepanjang 16 cm milikku itu menggelosor masuk
menjelajahi setiap mili dinding kemaluanya sampai ujung kepala
kemaluanku menyentuh mulut rahimnya. Didiamkannya sesaat batang
kemaluanku tenggelam seluruhnya di dalam liang vagina Esther yang
hangat. Dibiarkannya mulutkumenghisap lagi putting di kedua
payudaranya.
"Adduuhhh.. Mas.. sshh.. akhirnya aku ngerasain lagi punya Mas masuk
ke punyaku. Mass.., sshh.. coba rasain ya.., gimana rasanya..?"
kata-katanya menjadi tidak jelas.
Aku jadi bingung dengan perkataan Esther barusan. Tapi dua detik
kemudian, kurasakan denyutan lembut dengan irama teratur, liang
kemaluan Esther seperti meremas dan menggigit-gigit sekujur batang
kemaluanku. Kontan aku merasakan nikmat surgawi yang baru kali ini
kurasakan demikianhebatnya.
"Iihh... ssshhtt... kok enak sih Sayang..? Ouhhh.., belajar dari
mana heh..? Oouhhh.. shhh.."
Esther hanya terlihat tersenyum melihat tingkahku yang kelojotan
menerima denyutan dari lubang vaginanya di kemaluanku. Sesaat
kemudian, Esther mulai menggerakkan pelan pinggulnya naik turun,
otomatis rudalku juga keluar masuk dalam dekapan bibir kemaluannya.
"Ouuhhh Mas, rasanya punya Mas tambah gede.. esshhtt.. bener nggak
sih.? Sshhh.. yaahhh, abis.. punyaku.. sshhtt.. seperti ouhh..
sshhh.. seperti nggak muat.. Yaahh., habis deh memekku... oouuuhh..
eeshhh... tapi.. aduuhh, tambah enak Mass.. sshhh... yahh.. ouuff
Godd..!" kata-katanya terdengar terputus-putus diselingi desahan
nikmat yang membuatku tambah bernafsumenuntaskan keinginan Esther.
Aku sendiri membantunya dengan menggerakkan pinggulku naik turun
seirama tubuh Esther yang juga bergerak naik turun. Sementara, di
pusat kenikmatan kami berdua itu terdengar kecipak-kecipak cairan
yang keluar lagi dari kemaluan Esther membanjiri dan membasahi
batang rudalku. 10 menit berlalu, masih dengan posisi seperti itu,
terlihat Esther kelelahan, keringatnya melumasi seluruh tubuhnya,
lalu tubuhnya ambruk menindihi tubuhku. Kuambil inisiatif untuk
kembali menggerakkan tubuhnya, tapi sekarang gerakan itu dibantu
kedua tanganku memegang pinggul Esher dan kugerakkan naik turun
sambil kuimbangi juga dengan gerakan pinggulku naik turun membentur
bongkahan pantatnya. Desahan dari mulut Esther kembali terdengar
keras, mengiringi kelakuan kami di tengah malam buta itu.
"Terusss.. Mass.. sshhhh.. terusss... yaahhh... Aku.., aduuhh
yaahhh... Aku mau... oouuhhh God..! Aku mau keluar lagi Masss...
yahh.. yaahhh.. sshhtt.. yaahhhh..." rintihan panjang terdengar lagi
dari mulut Esther sambil memelukku erat dan jepitan kemaluannya
terasa semakin keras berdenyut mendekap batang kemaluanku.
Sementara itu, kedua bola mata Esther hanya terlihat putihnya saja
dan kuku-kuku di jarinya mencengkeram pundakku erat-erat. Aku sadar
beberapa detik lagi Esther pasti akan menembus batas pintu gerbang
kenikmatan duniawi yang kedua kalinya. Semakin kupercepat tanganku
menggerakkan pinggulnya naik turun.
"Terus Mas... Aku enak banget..! Yaahh.. yaaahhh.. Gooddd..!" tubuh
Esther kejang-kejang seperti orang kesurupan, matanya sekarang
tertutup rapat dan mulutnya terlihat setengah terbuka hanya
mengeluarkan desisan panjang, menandakan Esther sedang mengalami
detik-detik dimana dia sudah hilang, Sadar tergantikan oleh serbuan
kenikmatan dahsyat.
Terasa olehku lelehan lendir yang keluar dari liang kemaluan Esther
menerobos melewati celah-celah sempit di antara dekapan dinding dan
bibir kemaluannya menjepit batang rudalku, terus menetes membasahi
celana panjangku.
"Enak sayang..? Heh..? Enakkkhh..? Punyamu.. ouhh.. bener-bener
deh.. sshhhtt.. seperti meremas punyaku.., adduhh.. ssttt.. Aku juga
ngerasain enak diemut sama punyamu ini." kataku menghiasi puncak
kenikmatannya.
Aku pun mengerang keenakkan sambil terus menggerakkan tanganku
menaik-turunkan pinggul Esther guna membantu batang kemaluanku
memompa lubang vagina Esther.
"Ayo dong Sayang..! Uufff.. ssshhh.. cepetan.. aduuhh.. Aku udah
nggak kuattt.. aduuhh..! Gila..! punya Mas seperti tambah gede
sih..?" kata-kata Esther diselingi rintihan nikmat itu seperti
memacu semangatku untuk segera menuntaskan permainan kami kali ini.
Aku pun sepertinya sudah akan mencapai ujung dari penantianku akan
kenikmatan sejati yang sebentar lagi akan kuraih.
Semakin kupercepat gerakan keluar masuk batang kemaluanku di antara
jepitan dan denyutan lubang kemaluan Esther.
Namun tiba-tiba Esther menjerit lagi, "Aduuuhh.. Mas.., Aku.. Aku
mau keluar lagiii..! Yahhh... Masss..! Enak sekali..! Aawww..,
sshhh.. Ya Tuhan..! Aku, Aku.., akkhhh... Aku keluaarrr...
aaarrcchhhh.."
"Hahh..? Gila bener cewek ini..!" kataku dalam hati, "Masa belum ada
satu menit Dia sudah keluar lagi..? Aahh bodo amat..!"
Aku sedang berkonsentrasi dengan diriku sendiri untuk mendapatkan
puncak kenikmatanku sendiri. Tidak kupedulikan cairan lendir yang
kembali keluar deras dari sela-sela dekapan kemaluan Esther, yang
membuat celanaku semakin basah. Lendir bening itu membuat liang
kemaluan Esther semakin licin dan becek dan semakin terdengar keras
kecipak air lendir di kemaluannya ketika rudalku semakin cepat dan
ganas menghantam lubang kemaluan Esther bertubi-tubi.
"Adduuhh.. ampun Mass.. cepetaaaann... Aku nggak kuat..! Oouwww...
yaahh... Cepetan dooong..! Gilaaa..! Mati dah Gue..! Sshhh..."
Esther menjerit sejadinya, dikarenakan badai kenikmatan yang
dirasakannya datang bertubi-tubi menyerang dirinya.
Mendengar Esther menjerit begitu, aku langsung menerkam mulutnya
dengan bibirku untuk menghindari seisi rumah itu terbangun mendengar
jeritan Esther.
"Mffhhh... eemmmhhh... uuhhh... eeemmffhhh..." jeritan itu sekarang
hanya terdengar di dalam mulutku, dan aku pun mulai merasakan
rambatan kenikmatan yang terasa di batang kemaluanku mengalir menuju
pucuk di kepala kemaluanku.
Benar saja, detik-detik dimana seorang laki-laki akan menyemprotkan
air maninya segera akan kualami. Aku pun terbang ke alam bawah sadar
dibuai badai kenikmatan sejati.
"Ya Tuhannn..! Nikmat sekali.., oohhhh..." jeritku dalam hati,
karena mulutku sedang melumat bibir Esther.
Batang kemaluanku seolah mau meledak mengeluarkan semua isinya dan
terasa berdenyut-denyut keras, lalu tanpa bisa kutahan lagi,
"Serrr... sreett... seerrett... srrett... serrr..." entah berapa
kali spermaku menyembur di dasar lubang kemaluan Esther.
Gerakan keluar masuk rudalku perlahan kuperlambat iramanya, sampai
akhirnya berhenti sama sekali. Kemudian kulepaskan tanganku dari
pantatnya. Baru terasa pegal di sekujur lenganku yang sudah 10 menit
menggerakkan bongkahan pinggul Esther. Dan kubiarkan batang
kemaluanku terbenam dalam dekapan lubang kemaluan Esther yang nyaman
dan sudah banjir cairan spermaku bercampur lendirnya sendiri.
Kulepaskan lumatan mulutku di mulut Esther, langsung pecah rintihan
Esther berbarengan dengan eranganku, "Mmhhuaahh.. Masss...
oouufffsshhh... Gilaa..! Enak banget..! Eehh.., Kamu keluar Mass..?"
tanya Esther masih diselingi desahannya.
Aku mengangguk. Sambil masih merasakan detik-detik pasca orgasmeku,
kujawab dengan nafas yangmasih memburu, "Iyaahh.. oouhhh.. eeesstt..
oouuwwhhh.. kok tahu Sayang..?"
Sambil tersenyum nakal dia menjawab, "Hhmm... punya Mas nyemprot
buanyaak.. banget..! Kerasa kok di punyaku, hangat..."
Tiba-tiba Esther bangkit dari pangkuanku, dan otomatis terlepaslah
batang rudalku dari kehangatan lubang vagina milik kekasihku ini.
Lalu dia berdiri, bergerak melewati tubuhku sambil mengarahkan
telapak tangannya ke bawah selangkangannya menutupi daerah
kewanitaannya.
"Takut ntar sperma Mas jatuh ke karpet..." begitu alasannya.
Kemudian dia berjongkok di sampingku sambil tetap telapak tangannya
masih menutupi selangkangannya, kulihat dari lubang kewanitaanya itu
keluar menetes deras spermaku tadi. Ditampungnya air maniku yang
putih kental itu dengan telapak tangannya.
Aku hanya terbengong melihat kelakuannya, "Ngapain sih..?" tanyaku
heran.
Esther bukannya menjawab, malah tersenyum penuh arti menatapku.
Ada 3 menit dia begitu, sampai akhirnya dia melepas tangannya dari
situ. Kulihat jelas cairan spermaku yang tertampung di telapak
tangannya yang mungil.
Dibauinya spermaku itu, seolah dia baru mendapatkan harta karun yang
sangat berharga, "Nih Mas... sperma Kamu, harum ya baunya..?
Kayaknya lezat deh..!" Esther seperti berbicara pada dirinya sendiri
sambil menunjukkan air maniku di depan wajahku.
Aku semakin keheranan dengan semua kelakuanya itu. Tetapi apa yang
dilakukan Esther sungguh di luar dugaan, cairan kental itu langsung
diarahkan ke mulutnya dan dihirup sedemikian rupa dan ditelannya
sampai ludes. Bukan itu saja, Esther juga menjilati telapak dan jari
di tangannya, seolah tidak rela ada setetes pun cairan spermaku
tersisa.
Dan belum hilang rasa kagetku, disambarnya batang kemaluanku yang
sudah mulai mengkerut itu dengan tangannya.
"Mau ngapain Ther..?" tanyaku tersekat tenggorokanku terkejut
melihat ulahnya.
Tanpa menjawab apa-apa, Esther menurunkan kepalanya ke arah
selangkanganku dan kemaluanku sudah tenggelam di dalam mulutnya.
Dijilatinya kulit di sekujur batang rudalku itu dari mulai puncak di
kepala kemaluanku sampai ke pangkalnya yang di situ masih melekat
sisa air maniku bercampur cairan lendirnya sendiri. Beberapa saat
kemudian, Esther menyudahi aksinya, lalu dikecapkannya lidahnya,
seolah dia masih belum puas dengan hidangan yang barusan
dinikmatinya.
Memang sekujur batang kemaluanku terlihat sudah bersih karena baru
saja dijilat Esther.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya, "Ampuunn deh
Kamu! Ckk.. ck.. Aku nggak bisa ngomong apa-apa eh.. Ther, kan di
situ ada lendir Kamu juga..? Wah bener-bener dehh... Aku baru
melihat ada wanita kayak Kamu..."
Esther dengan enteng menukas, "Biarin..! Sperma Mas campur lendirku,
enak lho Mas..! Lagian tadi Mas juga begitu, hayo..! Ngapain
lendirku diminum..? Aku juga pingin kan ngerasain sperma cowok kayak
apa..?"
"Lho..? Emang sama suami dulu Kamu belum pernah..? Maksudnya belum
pernah ngerasain spermanya..?" tanyaku penuh selidik.
"Tau nggak Mas..? Setiap em-el sama suamiku dulu, Aku jarang puas,
apalagi sampai mau menjilat dan mau menelan lendir kemaluanku,
uuhh... boro-boro..! Lagian kalau Aku sama suamiku dulu, Aku nggak
pernah mau menelan spermanya, kayaknya mau muntah, gitu, nggak tau
kenapa..? Terus terang Mas, sperma Mas enak, gurih, manis nggak bau
apek, bikin Aku ketagihan..!"
Aku menggodanya, "Allaaa... masak sih..?"
Dengan serius Esther menanggapi godaanku, ditatapnya mataku
dalam-dalam sambil berkata, "Ngapain sih Aku bohong, Mas..? Kalau
Mas Pram saja mau memperlakukan Aku demikian, itu suatu sensasi
tersendiri buatku, Aku belum pernah diperlakukan demikian Mas.., Aku
merasa seperti wanita yang sangat dihargai, dihormati..! Kenapa Aku
nggak bisa mengimbanginya..?"
Kata-katanya terdengar pelan bercampur dengan isakan tangisnya. Aku
jadi tertegun, tidak mengira dia jadi begitu. Kemudian dia
melanjutkan, "Mungkin karena Aku.., Aku sangat mencintaimu Mas.
Kadang Aku menyesal, harusnya Aku kenal Mas lebih dulu dari dia,
biar Aku merasakan nikmatnya menikah dengan Mas, Aku nggak mau
kehilangan Mas, jangan tinggalin Aku, Mas..!" kata-katanya ditutup
dengan isakan tangisan yang mengharukan.
Dengan pakaian yang masih acak-acakkan, kurengkuh tubuh mungilnya,
kedekap dia erat-erat, kubiarkan dia menangis di dadaku. Kuelus
rambutnya sambil kukecup keningnya. Aku menghibur Esther agar
kekasihku ini jangan sampai terlarut dalam kesedihannya.
"Ya Sayang... Aku mengerti, Aku janji, Rian akan mempunyai ayah
baru, yang lebih bertanggung jawab, lebih pengertian, saleh, yang
setia dan mau berkorban demi keluarganya..." kataku berusaha
menenangkannya.
Masih berurai air mata, Esther menatapku sayu, "Siapa ayah Rian yang
baru itu Mas..? Aku mau memberinya ayah seperti yang Mas katakan
barusan itu, Aku mau Mas..!"
Kucubit pipinya yang basah oleh air matanya, "Kalau ayahnya itu..
nngg.. Aku.. bagaimana..?"
Esther hanya terdiam, tetapi jelas di matanya makin deras air
matanya jatuh di pipinya.
"Aku nggak mau dibohongi Mas, Aku mau Mas serius, jangan
mempermainkan perasaanku, Mas..! Pleasee, Aku takut kalau Mas hanya
main-main sama Aku..!" katanya dengan sendu.
Gantian aku yang menatap matanya dalam-dalam, "Tahu nggak, Aku punya
rencana memberi hadiah buat ulang tahun Rian tahun depan, kamu tau
hadiahnya..?"
Esther hanya mengerenyitkan dahi, menunggu kelanjutan ucapanku.
Sambil kukecup pipi kirinya, kubisikkan pelan di telinganya, "Aku
mau memberikan adik buat Rian..!"
Sesaat Esther terpaku mendengar ucapanku tadi, sedetik kemudian dia
menghambur dalam pelukanku.
"Bener Mass..? Oohh... betapa bahagianya jika memang Mas mau memberi
Rian seorang adik, berarti kita menikah kan..?"
Aku tertawa mendengar kata-katanya, "Emang Aku mau apa, punya anak
haram..? Lho iya dong,Kita menikah Sayang..."
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 01:15 dini hari, wah
gawat nih. Lekas-lekas kulepaskan tubuhnya, kemudian kami pun
berbenah merapihkan baju dan tempat yang baru saja terjadi
pergumulan dahsyat itu.
Aku tertegun mendapati celana panjangku basah kuyup, kutatap sesaat
bagian yang basah itu, lalu kualihkan menatap matanya, entah seperti
ada komando, kami tertawa geli, kukatakan kepadanya, "Busyeet dah..!
Sampai kayak gini, seperti habis kecebur kolam aja."
Esther mencubit lenganku keras, sambil menyungut, "Iya nih, Aku
sampai dehidrasi..! Kekurangan cairan tubuh..!"
Tidak lama kemudian, aku pamit pulang dengan sejuta kenangan yang
akan aku simpan selamanya.
Sampai 4 bulan kemudian, kami pun pisah, karena memang pada dasarnya
aku tidak bisa menerima kondisi Esther yang janda beranak satu.
Kukenalkan dia dengan salah satu temanku yang juga duda, dan tidak
lama kemudian, mereka menikah dan Esther keluar dari kantorku
sebulan sebelum dia menikah. Sampai saat ini pun, aku masih
terbayang dengan wanita bekas karyawanku itu, yang pernah memberikan
sesuatu pengalaman menarik tersendiri, walau sekarang dia sudah
menikah. Tapi pengalaman-pengalaman bersamanya masih tetap terpatri
di lubuk hatiku yang terdalam. |
|
|
|