|
ENJOT-ENJOTAN YANG MAHAL |
Seandainya itu benar wajah sang Walikota, “goyangan” di apartemen
itu niscaya membuat kursi jabatannya sebagai walikota di daerah
Kalbar bisa goyang. Soalnya, dalam VCD yang direkam sendiri oleh
selingkuhannya tersebut,
digambarkan jelas betapa Pak Wali dan Hana, 35 tahun, sibuk
enjot-enjotan. Sungguh perselingkuhan yang mahal, karena untuk
kepuasan badani tersebut Pak Wali dikuras uangnya hingga Rp750 juta!
Ini kisah tentang pejabat yang pamitnya pada istri untuk rapat, tapi
ternyata malah “rapet” bersama selingkuhannya. Pada keluarga selalu
bilang ada pekerjaan lembur, tapi sebetulnya malah “lempengin burung”.
Karena suaminya memang orang terpandang dan terhormat di kotanya,
tentu saja Bu Wali tak pernah curiga akan kesibukannya. Bu Wali pun
percaya bahwa suaminya memang walikota, bukan wali setan!
Bagi kebanyakan kaum lelaki, setelah punya tahta (kedudukan) dan
mulai berlimpah harta, biasanya dia akan berinvestasi di bidang
keperempuanan. Dia ingin memuaskan dahaga asmaranya melalui
melimpahnya uang. Walikota dari Kalbar itu agaknya begitu juga. Dia
tak bisa berkutik ketika menghadapi si jelita yang putih bersih,
seksi, betis mbunting padi dan wajah mirip ratu ekstasi Zarima.
Ujian pertama dialami Pak Wali ketika dia berkenalan dengan si Hana
di Jakarta. Karena sama-sama berasal dari Kalbar, keduanya pun
menjadi akrab. Lebih akrab lagi karena si Hana memang menjanjikan
sejuta rasa. Dia cantik, cerdas, dan menggairahkan. “Ah, Hana memang
wanita yang enak diselingkuhi dan perlu,” begitu mungkin batin Pak
Wali.
Karyawati sebuah perusahaan di Jakarta itu tahu bahwa orang penting
di Kalbar ini tergila-gila padanya. Hana pun mafhum bahwa dia
memiliki poisisi tawar yang tinggi mengingat wajah dan tubuhnya yang
aduhai. Maka dia berusaha memanfaatkan Pak Wali. Itu artinya, ada
cinta harus ada harta. Ada bonggol harus ada benggol. “Silakan aku
kamu goyang, tapi berikan aku uang,” begitu prinsip Hana.
Yang namanya pejabat, uang memang begitu mudah dicari. Hanya lewat
tanda tangan sret sret sret, duit mengalir ke rekeningnya. Maka Pak
Wali ini mudah saja memanjakan si jelita Hana. Setiap dia ada tugas
ke Jakarta pastilah menyempatkan diri untuk kencan dengan
selingkuhannya. Ibarat mobil, habis tugas dinas beliau sporing
balansing dan amplas platina di apartemen dulu!
Agaknya Hana juga tahu bahwa kisah cintanya pada Pak Wali tak
mungkin berfinish di pelaminan, kecuali sebatas hubungan kelamin.
Tapi dengan itu pula dia merasa punya kartu truf untuk “memeras” Pak
Wali. Maka agar skandalnya tak diketahui umum, dia selalu minta duit
pada sang pejabat manakala usai kencan. Tidak kurang dari Rp 750
juta yang berhasil dikuras dari kantong pejabat Kalimantan Barat
tersebut. Yayank-nya yang Walikota itu menurut saja. Bahkan lebih
dari itu, beliau mau saja disyuting Hana ketika sedang berhubungan
intim di apartemen. Di bulan puasa misalnya, saat orang makan sahur,
Pak Wali malah “sahur” paha si Hana sambil merem melek. Ketika
ditanyakan kenapa disyuting segala. “Untuk kenang-kenangan Pa, kalau
kangen aku kan bisa melihat gambar tubuhmu,” kata Hana manja sambil
terus berusaha memuaskan selingkuhannya di ranjang.
Akan tetapi, perselingkuhan itu ternyata membuahkan rasa cinta Hana
pada sang Walikota makin dalam. Dia ingin dinikah resmi. Entah
disetujui atau tidak, yang pasti Bu Wali telah mencium skandal ini.
Terbukti dia kirim SMS pada Hana tentang rencana pernikahan
tersebut. Sayangnya, sementara skandal sudah terbongkar, Pak Wali
malah mengecewakan cintanya. “Cinta yang kecewa bisa jadi dendam
membara,” kata Hana.
Nah, Hana sudah kepalang basah. Untuk mempermalukan Pak Wali, dia
lalu menyerahkan rekaman VCD-nya pada koran Equator di Singkawang.
Maka hari berikutnya kota Singkawang gempar. Warga kota melihat
dengan jelas gambar Pak Wali di koran sedang “enjot-enjotan” dengan
Hana. Beliau tampak merem melek, karena Hana memang pandai memuskan
selera lelakinya di ranjang.
Kepada Equator Hana juga mengakui, sebetulnya dirinya sudah
“terbeli” oleh Pak Wali. Soalnya, beliau tak mencintainya. Kalaupun
mau memberi uang hingga ratusan juta, karena Pak Wali takut bila
Hana ngoceh ke mana-mana. “Uang itu sebagian saya belikan mobil,”
kata sicantik yang berhasil menjual “sawah sepetak”-nya dengan harga
menggiurkan. |
|
|
|